Joseph Priestley, Mencari Kebenaran dalam Sains.

”Jika sains adalah sarana untuk mencari kebenaran, maka Priestley adalah ilmuwan sejati.” – Katherine Cullen.

Kata-kata di atas pantas disematkan pada Joseph Priestley ahli kimia penemu oksigen berkebangsaan Inggris yang juga ahli dalam bidang ilmu politik, ilmu teologi.

Joseph Priestley lahir pada 13 Maret 1733 di Birstall, sebuah daerah dekat Batley di West Riding of Yorkshire, Inggris. Priestley adalah anak tertua dari enam bersaudara, pasangan Mary Swift dan Jonas Priestley, seorang penyelesai kain.

Selama masa mudanya, Priestley bersekolah di sebuah sekolah lokal di mana ia banyak mempelajari bahasa Yunani, Latin dan Ibrani. Karena kekurangan biaya Priestley menyusun gagasan untuk mengabdikan dirinya pada kehidupan religius.

Ia menjalani studi di Akademi Pengingkar (Dissenting Academy) di Daventry, Northamptonshire, pada tahun 1752. Pengingkar (Dissenter), ini adalah sebuah kelompok kepercayaan yang dinamakan demikian karena keengganan mereka untuk menyesuaikan diri dengan Gereja Inggris.

Di Dissenting Academy Priestley muda berkesempatan untuk menjadi terbiasa dengan eksperimen ilmiah dan praktek yang biasa dilakukan fisikawan, bahan kimia, dan cendekiawan lain dari ilmu alam (ahli botani, ahli zoologi, dan lainnya).

Menemukan Gas Oksigen

Di tahun 1765 Priestley berkesempatan bertemu ilmuwan Amerika Benjamin Franklin. Setelah pertemuan itu Priestley semakin gila menggeluti sains, dia mulai mengadakan percobaan-percoban sains.

Pada tahun berikutnya, Priestley masuk jadi anggota dari Royal Society of London, sebuah perkumpulan ahli kimia bergensi di London.

Dalam waktu singkat, ia menemukan beberapa gas baru, termasuk amonia dan dinitrogen oksida (gas tawa). Ia bahkan mencampur air dengan karbon dioksida, sehingga terciptalah air soda.

Pada 1774, sewaktu melakukan percobaan di bagian selatan Inggris, Priestley berhasil memisahkan suatu gas yang membuat api lilin bersinar lebih terang. Lalu, ia menaruh 60 mililiter gas itu dan seekor tikus dalam sebuah wadah kaca. Tikus itu bertahan hidup dua kali lebih lama daripada yang dimasukkan ke dalam wadah berisi udara biasa, bahkan Priestley sendiri menghirup gas itu, dan ia mengatakan bahwa ia ”merasa tubuhnya lebih segar selama beberapa saat setelahnya”.

Priestley sebenarnya menemukan oksigen. Tapi, ia menyebut gas itu sebagai udara tak berflogiston, karena mengira bahwa ia telah menemukan udara biasa yang tidak mengandung flogiston, sebuah zat yang konon mencegah terjadinya pembakaran. Ternyata kesimpulan Priestley salah. Tapi, banyak orang masih menganggap temuannya ini sebagai puncak prestasinya. (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here