Temukan Baru Mahasiswa Untag Surabaya, Alat Pendeteksi Pembuluh Darah

SurabayaKabarnusantara.net – Zenobius Oktavlanus Sotlawan, Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ciptakan alat pendeteksi pembuluh darah, alat tersebut bernama M-Health.

Dilansir Tribunnews, Senin (11/3), Zenobius mengatakan karya yang dirancangnya selama beberapa bulan sebagai skripsi ini akan dikembangkannya menjadi alat pembaca pembuluh darah maupun patah tulang.

Menurut Zenobius terciptanya alat ini bermula dari sulitnya rumah sakit mengvenipuncture atau proses mendapatkan akses intravena yang dialami keponakannya yang masih balita
“Saat itu proses mendapatkan jalur pembuluh darah keponakannya sempat berlangsung lama,” ujar Zenobius.

Dirinya terispirasi membuat alat pendeteksi pembuluh darah dengan mengusulkan solusi kesehatan bergerak atau M-health dengan perangkat mobile.

“Inspirasinya dari ponakan saya, karena pembuluh darahnya tipis tenaga medis kesulitan mencari pembuluh darah. Sempat mencari tangan kiri, tangan kanan dan kaki kiri akhirnya bisa di kaki kanan,” kata Zenobius.

Zenobius mengatakan dirinya ingin alat tersebut dapat digunakan portabel sehingga dapat dibawa tenaga medis ataupun ambulance saat evakuasi korban.

“Saya masih pengembangan untuk scanner dan foto inframerah tapi untuk patah tulang, dayanya harus pakai lebih besar dan tidak pakai inframerah lagi melainkan xray. Ini sebagai contoh pembuluh darah,” terangnya.

M-health Khusus untuk Anak-anak Obesitas.

Pembacaan pembuluh darah yang dilakukan dengan perangkat modul kamera yang dipasangkan pemancar cahaya inflamerah ditujukan untuk anak-anak obesitas.

Karya Zenobius ini memperlihatkan pola pembuluh darah vena dengan jelas.

“Saya buat sampel anak-anak dan obesitas, menurut saya dua kelompok itu sulit terlihat pembuluh darahnya,” kata Zenobius.

Meskipun vena perifer bisa diakses manual, Zenobius menilai memerlukan dua sampai 10 usaha untuk memasukan jarum.

“Prevalensi jalur akses vena perifer setinggi 80 persen tergantung kondisi pasien dan lokasi rumah sakit,” katanya.

Zenobius mengungkapkan pembacaan pembuluh darah ini juga memiliki kekurangan yang dapat dipengaruhi warna kulit pasien.

“Semakin pekat warna kulit tingkat kesulitan juga, lebih susah. Bisa tapi deteksi pembuluh darah samar dibanding kulit sawo matang,” katanya.

Deteksi pembuluh darah menggunakan rangkaian alat mini komputer Raspberry Pi dan pencahayaan inflamerah dapat digunakannya tiga metode yang juga memiliki kekurangan.

Namun, Zenobius mengungkapkan dirinya menggunakan penyinaran hibrid bagian atas dan bawah untuk mempermudah deteksi pembuluh darah dan pencahayaan tangan pasien.

“Saya pilih hibrid, atas dan bawah karena kamera recorder untuk mendeteksi pembuluh darah jelas dan gambar tangan jelas. Kalau pakai yang atas saja pembuluh darah tidak seberapa jelas, kalau bawah saja jelas tapi gambar tangannya tidak jelas dan kesulitan meraba tangan pasien,” pungkas mahasiswa yang juga bekerja di apotik ini. (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here