Siapa Pius Lustrilanang Dalam Peristiwa Penculikan Aktivis 98

Herman Hemmy (tengah pakai topi adat manggarai, NTT) bersama para demonstran saat aksi menentang Presiden Soeharto di depan kantor IMF. (foto ; dok pribadi)

Jakarta – Penculikan aktivis 1997/1998 adalah peristiwa penghilangan orang secara paksa atau penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 1997 dan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1998.

Sumber Wikipedia mencatat, peristiwa penculikan ini dipastikan berlangsung dalam tiga tahap: Menjelang pemilu Mei 1997, dalam waktu dua bulan menjelang sidang MPR bulan Maret, sembilan di antara mereka yang diculik selama periode kedua dilepas dari kurungan dan muncul kembali.

Beberapa di antara mereka berbicara secara terbuka mengenai pengalaman mereka. Tapi tak satu pun dari mereka yang diculik pada periode pertama dan ketiga muncul.

Korban

Selama periode 1997/1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mencatat 23 orang telah dihilangkan oleh alat-alat negara. Dari angka itu, 1 orang ditemukan meninggal (Leonardus Gilang), 9 orang dilepaskan penculiknya, dan 14 lainnya masih hilang hingga hari ini dan penculikan itu terjadi saat masa kepemimpinan Jenderal tertinggi ABRI, Wiranto.

Dilansir Wikipedia, ada sembilan aktivis yang dilepaskan, diantaranya:

1. Desmond Junaidi Mahesa, diculik di Lembaga Bantuan Hukum Nusantara, Jakarta, 4 Februari 1998

2. Haryanto Taslam

3. Pius Lustrilanang, diculik di panpan RSCM, 2 Februari 1998.

4. Faisol Reza, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998

5. Rahardjo Walujo Djati, diculik di RSCM setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998

6. Nezar Patria, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

7. Aan Rusdianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

8. Mugianto, diculik di Rumah Susun Klender, 13 Maret 1998.

9. Andi Arief, diculik di Lampung, 28 Maret 1998.

Ke-13 aktivis yang masih hilang dan belum kembali berasal dari berbagai organisasi, seperti Partai Rakyat Demokratik, PDI Pro Mega, Mega Bintang, dan mahasiswa.

1. Petrus Bima Anugrah (mahasiswa Universitas Airlangga dan STF Driyakara, aktivis SMID. Hilang di Jakarta pada 30 Maret 1998) [14]

2. Herman Hendrawan (mahasiswa Universitas Airlangga, hilang setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998).

3. Suyat (aktivis SMID. Dia hilang di Solo pada 12 Februari 1998)

4. Wiji Thukul (penyair, aktivis JAKER. Dia hilang diJakarta pada 10 Januari 1998).

5. Yani Afri (sopir, pendukung PDI Megawati, ikut koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997, sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 26 april 1997)

6. Sonny (sopir, teman Yani Afri, pendukung PDI Megawati. Hilang di Jakarta pada 26 April 1997)

7. Dedi Hamdun (pengusaha, aktif di PPP dan dalam kampanye 1997 Mega-Bintang. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

8. Noval Al Katiri (pengusaha, teman Deddy Hamdun, aktivis PPP. Dia hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

10. Ismail (sopir Deddy Hamdun. Hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)

11. Ucok Mundandar Siahaan (mahasiswa Perbanas, diculik saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta)

12. Hendra Hambali (siswa SMU, raib saat kerusuhan di Glodok, Jakarta, 15 Mei 1998)

13. Yadin Muhidin (alumnus Sekolah Pelayaran, sempat ditahan Polres Jakarta Utara. Dia hilang di Jakarta pada 14 Mei 1998)

14. Abdun Nasser (kontraktor, hilang saat kerusuhan 14 Mei 1998, Jakarta)

Mugiyanto, Nezar Patria, Aan Rusdianto (korban yang dilepaskan) tinggal satu rumah di rusun Klender bersama Bimo Petrus (korban yang masih hilang). Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati (korban yang dilepaskan), dan Herman Hendrawan (korban yang masih hilang) diculik setelah ketiganya menghadiri konferensi pers KNPD di YLBHI pada 12 Maret 1998.

Siapa Pius Lustrilanang?

Belum ada informasi lengkap tentang latar belakang 9 Korban penculikan tahun 1998 yang dilepas. Salah satunya adalah Pius Lustrilanang, Anggota DPR RI dari Partai Gerindra.

Pius Lustrilanang, diculik Tim Mawar Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, yang saat itu berhubungan dengan Prabowo Subianto.

Pius Lustrilanang (Foto : Tempo)

Dalam laporan Tempo Senin, 28 Oktober 2013 Pius Lustrilanang menjelaskan terkait penculikan dirinya pada tahun 1998.

Berikut kutipan wawancara Pius Lustrilanang dengan Tempo:

“Saya diculik oleh Tim Mawar bentukan Kopassus pada tanggal 4 Februari dan baru dibebaskan pada 3 April 1998. Saya diculik karena saya adalah aktivis yang konsisten mendorong isu anti-Soeharto sejak 1993. Delapan minggu saya mendekam dalam sel bersama sejumlah aktivis, antara lain Desmon J. Mahesa, Haryanto Taslam, Faisol Riza, dan Raharjo Waluyo Jati. Mereka ini semua dibebaskan dalam keadaan hidup. Di tempat penyekapan itu, saya juga sempat berkomunikasi dengan Herman Hendrawan, Yani Afri, dan Soni. Ketiga orang ini sampai saat ini belum diketemukan. Dari mulut Yani Afri dan Soni, saya mendapat informasi bahwa Dedi Hamdun juga disekap di tempat tersebut.

Ketika dibebaskan saya diharuskan untuk mengarang tentang apa yang terjadi selama delapan minggu saat saya hilang. Saya tidak boleh mengatakan bahwa saya diculik. Jadi, ketika ada yang bertanya, saya memilih menjawab dengan: “Saya sengaja menghilang untuk nyepi, mencari ketenangan karena banyak persoalan.” Para penculik saya mengancam akan membunuh saya jika saya berani menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Selain itu, mereka juga mengancam akan membunuh keluarga yang saya cintai: ibu dan saudara-saudara saya.

Ketika saya dibebaskan pada 3 April 1998, saya langsung dikirim ke Cengkareng dan dibekali tiket pesawat untuk langsung pulang ke Palembang. Sesampai di Palembang saya segera mengontak Santoso, rekan kerja saya di Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Saya memintanya untuk mengecek keberadaan Yani Afri dan Soni. Mereka ini “dibebaskan” sebelum saya. Selang dua hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa kedua orang tersebut belum kembali ke rumah orang tuanya. Saya langsung berkesimpulan bahwa mereka sudah mati. Saya lalu teriingat pada perkataan salah seorang penculik: “Ada yang keluar (dalam keadaan) hidup dan ada yang keluar (dalam keadaan) mati dari tempat ini”.

Pada tanggal 27 April, saya memberikan kesaksian di Komnas HAM mengenai penculikan yang terjadi terhadap sejumlah aktivis. Saya sadar akan bahaya yang bakal terjadi. Para penculik pasti tidak akan tinggal diam, dan mereka pasti akan segera memburu dan membunuh saya. Saya siap jika hal itu terjadi. Saya sudah siap untuk menjadi martir. Tekat saya cuma satu: “Saya ingin semua ini (penculikan) diakhiri”. Sadar akan risiko yang saya hadapi, saya meminta rekan dari Kedubes AS untuk mengantar saya ke airport setelah memberikan kesaksian.

Setelah memberikan kesaksian, saya diantar oleh dua orang anggota Komnas HAM menuju airport. Saya selanjutnya pergi ke Belanda. Saya pergi dengan hanya berbekal pakaian yang melekat di badan. Tas berisi pakaian tidak sempat saya bawa karena tertinggal di mobil staf Kedutaan AS yang sedianya akan mengantar saya.

Begitulah pengakuan Pius Lustrilanang 6 tahun yang lalu kepada media Tempo.

Menurut salah satu tokoh yang bertemu Pius Lustrilanang saat melarikan diri ke Amerika , ada bagian yang tidak diungkapkan Pius dalam wawancara dengan media Tempo tersebut.

Bahkan, orang Indonesia yang menerima Pius di Amerika ini mengungkap ada sesuatu yang disembunyikan Pius Lustrilanang terkait dengan penculikan aktivis tahun 1998.

“Tahun 1998 Pius Lustrilanang pergi ke Amerika membawa berkas kasus Prabowo. Di Amerika dia bertemu dengan masyarakat Indonesia. Dia menerangkan bahwa Prabowo telah melakukan penculikan aktivis. Kemudian Pius meminta orang Indonesia di Amerika untuk mengurus visanya termasuk saya,” ujar Herman Hemmy, salah satu orang menerima kedatangan Pius Lustrilanang pada tahun 1998, melalui keterangan tertulis yang diterima kabarnusantara.net, Senin (18/4/2019).

“Dia (Pius Lustrilanang) hanya membawa tiga lembar baju dan sepasang sepatu dan berkas-berkas tentang penculikan yang dilakukan Prabowo,” kisah orang Indonesia yang tinggal di Amerika sejak 1994 ini.

Herman menyampaikan, selama di Amerika Pius Lustrilanang difasilitasi oleh kelompok diaspora Indonesia.

“Kami membiayai tiket dia ke Amerika dan Belanda. Tujuan ke Amerika untuk menerangkan pelanggaran HAM dan di Belanda untuk mendapatkan bantuan dan melaporkan Prabowo di Den Haag,” terang Herman.

Herman mengaku saat itu membantu Pius Lustrilanang untuk bisa berangkat ke Belanda.

“Saya membeli tiket $5.600 untuk terbang ke Belanda. Sampai di Belanda dia hanya pergi ke club untuk hiburan semata. Dari Belanda dia ke Malaysia Bertemu dengan Prabowo. Setelah bertemu dia mendapatkan dua rumah yang berlokasi di Bogor,” ungkap Herman.

“Setelah kami investigasi ternyata dia bukan aktivis, tetapi orang suruhan Prabowo untuk menyusup ke aktivis. Itulah alasan kenapa dia setelah ditangkap lalu dibebaskan setelah dua bulan ditahan. Sementara yang lain paling sedikit 8 bulan bahkan menghilang Sampai sekarang,” tambah Herman.

Menurut Herman, tujuan Pius berangkat ke Belanda dan Amerika bukan melaporkan kasus Prabowo.

“Dia ke Amerika dan Belanda untuk mata-mata kemudian dilaporkan ke Prabowo apa yang dikerjakan orang Indonesia di sini,” ujar kakak tingkat Pius di Universitas Parahyangan ini.

“Jos Adicondro (almarhum) juga memberitahu ke saya tentang gerakan Pius Lustrilanang. Sayang dia sudah meninggal,”

Herman Hemmy juga mengirimkan tulisan dari tempat tinggalnya di Amerika Serikat menanggapi jawaban Pius Lustrilanang yang ditulis Tempo 2013 lalu.

Berikut isi pernyataan Herman Hemmy:

Kebohongan itu tidak akan terus bertahan suatu saat akan terungkap. Pepatah Jerman mengatakan, berkata yang benar dan jujur supaya gampang ingatnya.

Dalam wawancara dengan Tempo, Pius mengatakan bahwa sebagian teman mengatakan dia kena Stocholm syndrome, Pius menolak peridikat itu. Dia hanya merasa bahwa dia korban sama seperti Prabowo. Wake up man, you talking like childish.

Gimana Pius sama nasib seperti Prabowo, impossible and irasional, you think we are stupid. Kamu bisa berbohong kepada satu atau dua orang tapi kamu tak mungkin membohongi dunia.
Ada ratusan orang mendengar ucapanmu menjelekan Prabowo di City of Lomalinda, California, USA. Ucapanmu direkam sebagai dokumentasi dan kamu duduk makan di Lomalinda, California.

Saudara lupa, kami membeli jas, baju untukmu. Dan kami bekerja menyisihkan gaji kami untukmu karena kami percaya mulutmu dan dokumen yang kamu bawa. Tujuanmu untuk lapor Prabowo ternyata bohong besar.

Saya sudah check di dapilmu. Kamu juga berbohong kepada warga dapilmu. Kamu bilang kamu lahir di Nangalanang sehingga namamu Pius Lustrilanang. Apalagi yang kamu bohong lagi sekarang. Ingat saudara Tuhan mata besar, jangan membohongi orang di kampungku yang sangat hormat kepada semua orang. Saudara 10 tahun wakil rakyat, apa yang kau lakukan untuk nelayan dan petani di Nangalanang? Stop lie anymore. (CBN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here