Sengketa Tanah di Gereja Nggorang Kecamatan Reok Sudah Dimediasi Pemkab Manggarai

Ruteng, Kabarnusantara.net – Sengketa tanah Gereja Stasi Kerahiman Ilahi Nggorang, Desa Bajak, Kecamatan Reok antara pihak Gereja dan Warga Dusun Mbawar akhirnya dimediasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Manggarai, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Bagian Hukum Setda Kabupaten Manggarai pada Sabtu 30 Maret 2019 Pagi.

Mediasi ini berlangsung di Rumah Adat Mbawar dan dihadiri oleh 3 orang Mediator, yakni Kepala Badan (Kaban) Kesbangpol, Heribertus Ngabut, Asisten I Bidang Pemerintahan, Fransiskus Kakang dan Kepala Bagian (Kabag) Hukum Setda Kabupaten Manggarai, Maximus Bour.

Turut hadir Danramil 1612/03 Reo, Kapten Infantri Totok Hariyanto, Perwakilan Kapolsek Reo, Aiptu Harun R. Syarif, Pengacara Warga Dusun Mbawar, Fridolinus Sanir, para Warga Dusun Mbawar, para Anggota Koramil Reo dan para Anggota Polsek Reo.

Pantauan Kabarnusantara.net, sebelum proses mediasi dimulai para Warga Dusun Mbawar yang dipimpin oleh Tua Adat Mbawar, Ladislaus Atu dan Pengacara Fridolinus Sanir memagari tanah Gereja yang menjadi sengketa itu.

Pemagaran dilakukan oleh sekitar 50 orang.

Merespon itu, 3 Mediator yang didampingi pihak keamanan melakukan pendekatan persuasif dan mengajak Warga Dusun Mbawar itu untuk menyelesaikan sengketa tanah dengan cara mediasi.

Warga Dusun Mbawar akhirnya mengindahkan ajakan tersebut dan langsung berbalik menuju Rumah Gendang bersama rombongan Mediator.

Tujuan kehadiran Mediator dan pihak keamanan itu adalah untuk mendengarkan secara langsung keterangan kedua pihak yang bersengketa.

Sekitar Pukul 14.00 Wita bertempat di Rumah Gendang Mbawar telah berlangsung kegiatan Mediasi antara Pengacara Fridolinus Sanir, Warga Dusun Mbawar dan 3 orang Mediator itu.

Kegiatan itu berlangsung kurang lebih 4 jam dan melahirkan beberapa kesepakatan, yakni:

1. Pemkab Manggarai akan menghadirkan pihak Keuskupan Ruteng untuk mendengarkan secara langsung keinginan kedua pihak.

2. Rencana menghadirkan pihak Keuskupan itu akan dilakukan sebelum perayaan Paskah.

3. Warga Dusun Mbawar tidak akan memagari lagi lokasi sengketa itu.

Setelah proses mediasi itu melahirkan kesepakatan, Danramil Reo dan Perwakilan Kapolsek Reo juga memberikan himbauan penting untuk Warga Dusun Mbawar, yakni:

1. Kehadiran TNI/Polri dalam proses mediasi ini tetap bersifat netral dan tidak berpihak salah satu pihak.

2. Mengajak Warga Dusun Mbawar untuk tidak bermain hakim sendiri.

3. Mengajak Warga Dusun Mbawar agar tidak terpancing dengan Warga Dusun Nggorang yang menjaga ketat tanah sengketa itu.

4. Hindari konflik sosial antar Umat yang ada di Stasi Nggorang.

5. Menyerahkan sepenuhnya persoalan kepada Pemerintah untuk diselesaikan.

6. Tetap menjaga situasi Kamtibmas jelang perayaan Paskah.

Menanggapi himbauan tersebut Warga Dusun Mbawar bersedia mengindahkan semua penyampaian.

Setelah semua proses mediasi itu selesai, 3 orang Mediator beserta rombongan lainnya meninggalkan Rumah Gendang Mbawar dan kembali ke Rumah Kepala Desa Bajak, Yosep Salem untuk memberikan himbauan yang sama.

Seperti diberitakan sebelumnya, Warga Dusun Mbawar mengklaim bahwa tanah Gereja Stasi Kerahiman Ilahi Nggorang adalah tanah hak ulayat Gendang Mbawar.

Sedangkan pihak Gereja melalui Pemerintah Kecamatan Reok membantah bahwa tanah Gereja Stasi Kerahiman Ilahi Nggorang milik hak ulayat Gendang Mbawar, sebab tanah itu sudah diserahkan kepada Pemerintah Kecamatan Reok sejak tahun 1979 yang dipimpin oleh Camat Simon Ondok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here