Beranda Sastra Cerpen: ASING

Cerpen: ASING

0

SEPERTI biasa, suasana jalan pintu masuk ke desa tampak sepi. Nyaris tidak terlihat kendaraan yang melintasinya. Sekalipun ada, kendaraan tersebut melaju dengan cepatnya, seolah hendak melewati gerbang neraka.

Sebenarnya jalan ini merupakan akses tercepat untuk menuju kota. Namun warga desa segan melintas di sana. Mereka lebih memilih menyusuri desa sebelah dan melintas di jalan utamanya. Warga rela melakukan hal ini, meski jarak yang ditempuh menjadi lebih jauh. Mereka rela. Ini lebih bijak dan menjamin keselematan mereka.

Di dekat jalan pintu masuk desa terdapat pemukiman orang-orang yang terlanjur mencari nafkah dengan berprofesi yang dianggap buruk, mulai dari pekerja serabutan, pelacur, sampai preman yang menguasai berbagai tempat di kota. Bagi warga desa, mereka yang bermukim di sana merupakan orang-orang yang telah rusak nilai moral dan susilanya.

Keberadaanya seperti sampah yang mengotori tatanan kehidupan masyarakat. Karena hal itulah, pemukiman tersebut mereka hindari dan tidak dianggap sebagai bagian dari desa.

Namun, bagi orang-orang yang bermukim di sana, pemukiman merupakan tempat di mana diri mereka bisa menjadi manusia yang merdeka.

Pemukiman para sampah masyarakat itu dikepalai oleh Abdul-namun orang-orang biasa memanggilnya dengan banyak nama. Abdul mengumpulkan mereka yang disisihkan dan membangun tempat bermukim untuk mereka yang memiliki nasib yang serupa.

Tidak ada warga desa yang menghalangi langkah Abdul. Ada sih satu-dua orang yang geram dan mengajak warga untuk protes kepada Abdul. Namun protes mereka hanya mencipta angan-angan semata. Tidak tergumpal menjadi suatu aksi yang nyata. Warga desa tahu sepak terjang Abdul di masa lalu, yang membuatnya dijuluki sebagai simbol kebiadaban-bahkan sampai sekarang, sehingga warga desa segan berurusan dengannya.

Di masa lalu, Abdul yang mempunyai banyak nama merupakan ketua para preman kota. Daerah kekuasaanya cukup luas. Mulai dari pasar-pasar tradisional sampai pasar-pasar swalayan, toko-toko kelontong sampai tempat hiburan malam. Dalam melakukan pekerjaanya, Abdul tak segan melukai seseorang, jika ia merasa bahwa dirinya benar.

Abdul juga sering keluar-masuk penjara. Pernah ia menghilangkan nyawa seorang petugas karena membela para pedagang yang pasarnnya hendak digusur pemerintah.

Hal itulah yang menjadikan dirinya sebagai momok bagi warga kota. Sedangkan bagi warga desa, Abdul merupakan noda yang telah mencoreng nama desa. Abdul sendiri menganggap dirinya hanyalah manusia.

Abdul membangun pemukiman tersebut karena Abdul merasakan kedukaan yang dialami mereka. Bagaimana rasanya disisihkan. Bagaimana dipandang seolah dirinya bukanlah manusia.

“Setidaknya sekarang tidak ada yang perlu malu atau risih karena hidup berdampingan. Mereka yang dianggap baik dan mereka yang dianggap buruk telah mempunyai tempatnya masing-masing. Semua bisa bernapas lega. Semua bisa menjadi manusia merdeka,” pikir Abdul.

***

Warga desa geger ketika menemukan Abdul ada di barisan salat mereka. Mereka tidak percaya Abdul sudi beranjak ke masjid untuk melakukan salat. Mereka terbiasa melihatnya ada di pemukiman tengah bergelut dengan minuman keras.

“Ya bagus dong kalau dia salat. Artinya dia sudah bertaubat,” ucap sesepuh desa yang biasa menjadi imam di masjid.

“Tapi Pak, saya mengira dia punya maksud lain,” celetuk seorang warga.

“Jangan-jangan dia sedang bekerja sama dengan orang proyek,” susul seorang warga yang lain.

“Berarti desa kita mau digusur dong sama dia,” teriak seorang warga histeris karena mendengar kata ‘proyek’.

“Tega benar dia, ini tidak bisa dibiarkan!” Seorang warga tiba-tiba berdiri dan meluapkan amarahnya.

Semua warga desa yang berkumpul di masjid itu bersorak-sorak mengiyakan pernyataan tadi.

“Sudah,” sesepuh yang telah tua renta itu mencoba meredamkan amarah warga.

Waga desa yang mendengar teguran itu langsung terdiam. Hening. Mereka sadar bahwa dihadapannya ada seorang tokoh desa yang amat terpandang.

“Dulu kan kita sudah sepakat kalau kita tidak akan mengusiknya selama tidak menganggu ketentraman desa. Dan perubahannya pun belum memperlihatkan tanda-tanda menimbulkan kerusuhan.”

“Ini kan rumah Tuhan, semua diterima di rumah-Nya. Mau garong, mau pejabat, mau garong yang seperti pejabat, atau pejabat yang seperti garong.”

Sesepuh tua itu turun dari mimbar dan meninggalkan masjid, pertanda musyawarah tadi telah selesai dengan memberi hasil yang mengecewakan di dalam benak warga desa.

Amarah mereka yang terpaksa dibendung perlahan menimbulkan perasaan benci. Warga desa sepakat untuk menghalangi Abdul menginjak kakiknya ke dalam masjid. Mereka mulai mencari-cari kesalahan Abdul agar sesepuh mendukung niat mereka. Sesepuh itulah satu-satunya orang yang dapat menundukan Abdul.

Kearifan dan kebijaksanaanya yang tidak terpaku pada golongan membekas di hati Abdul. Sesepuh itu jugalah yang telah memberi izin Abdul membangun pemukiman di jalan pintu masuk desa.

“Pak tadi sebelum kita ke masjid, kita lihat dia sedang minum-minum di pemukiman,” lapor seorang warga kepada sesepuh.

Seorang warga yang lain mengangguk-angguk mengiyakan perkataan itu.

“Kamu lihat dia minum?”

“Tidak Pak, tapi teman-temannya tengah minum,” seorang warga yang lain mempertegas, mencoba meyakinkan sesepuh.

“Lalu kenapa kamu bilang kalau dia minum?”

“Menduga Pak,” jawab kedua warga tersebut dengan polosnya.

“Weh.” Sesepuh itu terperangah mendengar jawaban kedua warga. “Kamu tidak bisa menyimpulkan suatu dugaan. Itu namanya fitnah.”

“Habis mau gimana Pak, kita takut untuk maju lebih dekat. Untuk memastikan. Lagi kan Bapak sendiri pernah bilang kalau temenan sama tukang minyak tanah kita akan tertular baunya. Nah dia kan ada di kumpulan pemabuk, berarti dia sedang mabuk dong,” protes kedua warga tersebut.

“Duh Gusti,” sesepuh tua menepuk jidatnya lalu pergi meninggalkan kedua warga tersebut.

Abdul sebenarnya tahu kalau warga desa tengah berupaya menahan dirinya ke masjid. Namun Abdul tidak bergeming. Tidak juga ia melawan. Karena memang tidak ada niatan. Abdul diam dan tetap melangkah ke masjid. Tujuannya hanyalah memohon kesudian Sang Pengasih agar mau membersihkan dirinya dari tumpukan noda pekat dosa yang menggunung.

Fokusnya hanya berjalan pada jalan yang ia anggap sebagai jalan yang lurus, sekalipun langkah yang ia lakukan terseok-seok. Abdul ingin kembali menjadi namanya. Nama yang diberikan dengan doa. Dengan cahaya. Nama yang diharapkan bisa mengeksistensikan kebesaran Tuhan di hadapan manusia.

Karena itu apa yang menimpanya ia anggap sebagai ujian dari yang Kuasa. Baginya ujian menandakan dirinya tengah diperhatikan Tuhan. Akibatnya ia semakin semangat meningkatkan ibadahnya.

Sekarang ia biasa berlama-lama di dalam masjid. Entah membaca Al-Qur’an, beritikaf, atau terbaring merenungkan kesalahan masa lalu. Sikap Abdul yang demikian, membuat amarah warga desa semakin tersulut. Sikap Abdul seolah mengejek mereka. Warga desa mulai mengambil tindakan. Mereka tidak lagi menunggu dukungan sesepuh. Mereka juga tidak lagi mendengar petuah sesepuh.

Bagi mereka, apa yang dilakukannya merupakan kebenaran. Kalau terus dibiarkan, Dia akan terus merangsek ke dalam desa, pikir para warga.

Warga desa sadar jika mereka menyerang Abdul secara fisik mereka akan dikalahkan. Jadi mereka mencoba menyerang batin Abdul, dengan cara mengasingkannya ketika salat. Para warga sepakat untuk menjaga jarak sejauh satu sajadah di sisi kiri dan kanan Abdul. Mereka juga wajib menolak uluran tangan Abdul yang hendak meminta salam.

Apa yang dilakukan warga desa sebenarnya menyakiti hati Abdul. Namun ia tetap memilih diam. Abdul berusaha sabar, berusaha menahan diri, karena baginya jika melawan sama saja kembali ke kehidupan lama.

Kehidupan yang penuh gejolak, kehidupan yang penuh dengan balas-membalas dendam. Kehidupan tanpa kenikmatan sejati yang membuatnya letih. Tidak seperti kehidupannya sekarang. Kehidupan damai, yang membuatnya merasa bermesraan dengan Tuhan.

Merasa usahanya tidak mendapat respon, warga desa melakukan tindakan lebih jauh. Suatu ketika Abdul tengah melaksanakan salat sunah tahiyatull masjid tiba-tiba seorang warga berdiri dan melakukan iqamah.

Semua warga dengan cepat berdiri dan bergegas mengatur barisan guna memulai salat wajib, termasuk sesepuh tua, yang sebenarnya enggan berdiri karena menurut aturan iqamah tadi tidak sesuai sebab Abdul masih melaksanakan salat sunah. Namun, warga terus mendesaknya untuk segera mengimami salat. Dirinya pasrah.

Perlakuan warga desa kali ini benar-benar menyayat hati Abdul. Baru Abdul sadar, bahwa dirinya tidak hanya disisihkan dalam tatanan masyrakat, ia juga disisihkan dalam tatatan beragama. Ia tidak hanya dipandang bukan manusia, bahkan ia dipandang bukanlah makhluk. Dalam salat sunahnya, tidak terasa air mata jatuh berderai di wajahnya. Tangis yang sudah lama tidak dilakukanya.

***

“Dul,” sesepuh tua memanggil Abdul.

Pertama kalinya Abdul disebut dengan namanya.

Abdul menghampiri sesepuh tua. Wajahnya terbenam dalam duka. Melihat hal itu, tampak air mata mengucur deras melintasi keriput-keriput wajah sesepuh tua.

“Saya ini sudah tua Dul,” cap sesepuh tua terbata, berpacu dengan isak tangisnya.

“Saya sudah tidak mempunyai tenaga untuk menggerakan sesuatu, sekalipun itu kebenaran. Saya hanya bisa ikut dalam aliran zaman sambil terus berdoa agar aliran itu tidak jatuh ke dalam muara kehancuran.”

Air mata mulai menitik dari mata Abdul.

“Dul.”

“Pulanglah kembali ke tempat seharusnya kau berada. Biarlah taubatmu dirayakan oleh dirimu dan Tuhan. Tempatkanlah Ia di hatimu. Bangunlah masjid di sana. Masjid sejati. Masjid yang tidak mengenal hukum dunia dan hukum manusia. Meski di sana kau salat sendirian, sesungguhnya emgkau tengah mengimami para malaikat.”

Abdul jatuh bersimpuh. Sujud terlama yang pernah ia lakukan. (KbN)

Oleh: Arif N.H

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here