breaking news New

Sepinya Menghadapi Kemerdekaan di NTT Tanpa Seorang PEMIMPIN-PEMIMPI

Bagikan

Dalam puisi yang berjudul “Kangen”, Rendra menulis demikian, “Kau tak mengerti, betapa kesepiannya aku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta”. Kemerdekaan sejatinya harus didasarkan pada cinta. Cinta membebaskan, tidak mengikat kebebasan individu. Manusia tidak dililit dalam rantai ode kekuasaan.

Sebentar lagi NTT akan memilih pemimpin yang baru. Seorang pemimpin sejatinya adalah seorang yang mengunggulkan akal sehat, bukan akal miring. Pemimpin yang tidak mendasarkan “kekuasaan” sebagai kepala, tetapi melihat itu sebagai sebuah “kaki”. Artinya apa? Pemimpin itu bukan kepala, tetapi pelayan yang siap berjalan. Pemimpin sejatinya bukan majikan rakyat. Pemimpin adalah seorang pelayan.

Dalam kamus demokrasi, kekuasaan terbesar adalah rakyat. Rakyat dalam bahasa kasarnya malas mau duduk di kursi gubernur, maka mereka mengutus satu orang untuk duduk di sana. Untuk apa? Agar seorang pemimpin melihat dari sana bahwa ia adalah seorang pelayan dan utusan rakyat.

Pemimpin tentu harus menjadi seorang pemimpi. NTT ibarat sebuah kapal yang sudah dinahkodai oleh banyak orang. Perjalanannya pun hampir pasti selalu meraih peringkat satu. Peringkat satu untuk propinsi yang tertinggal.

Pertama, seorang pemimpin pertama-tama fokus pada bidang pendidikan. “Ikan busuk mulai dari kepala.” Seorang pemimpin pertama-tama tidak mendasarkan kepemipinannya pada agama, suku atau budaya. Tetapi seorang yang berada di atasnya. Ketika urusan pemerintah digabungkan dengan agama, itu yang membuat tubuh kepemimpinan itu kehilangan roh. Seorang pemimpin adalah seorang warga negara, bukan warga agama. Satu-satunya jalan untuk keluar dari itu adalah pendidikan. Orang NTT umumnya pandai. Hanya terkadang orang NTT jago kandang. Ketika keluar dari daerah banyak yang tidak menunjukkan identitas itu. Sejatinya seorang pemimpin perlu melihat berapa banyak mahasiswa NTT yang sekolah ke Jawa atau tempat lain. Dari jauh, pemerintah harus mampu meneropong. Kebanyakan mahasiswa seperti anak panah yang dilemparkan dan tak tahu arah lagi.

Kedua, pemimpin yang memberikan kemampuan kreativitas kepada masyarakat. Salah satu kendala orang NTT adalah kurangnya kreativitas. Lihat saja mahasiswa NTT yang datang ke Jawa. Mereka datang hanya untuk kuliah saja. Fokus mereka adalah pengetahuan. Karena mereka tahu bahwa di NTT hanya memperkerjakan orang yang memiliki ijazah. Sementara lahan untuk menampung kreativitas masih jauh dari yang diharapan.

Ketiga, seorang pemimpin harus keluar dari urusan kolektif. Pemimpin kita cenderung fokus kepada kolektivisme. Sits im leben orang NTT adalah kolektivisme. Tidak heran, Beny Kabur pernah mengatakan, korupsi adalah wajar. Kita tidak boleh dililiti oleh rantai pemikiran yang sempit.

Keempat, seorang pemimpin perlu mencintai filsafat atau paling tidak membaca buku Filsafat. Filsafat itu bukan ilmu setan, tetapi meruncing akal miring orang supaya berpikir lurus. Orang yang melihat sesuatu secara benar dan jernih. Pemimpin kita cenderung dilena oleh budaya pemikiran sempit. Program dari tahun ke tahun selalu melanjuti pemimpin sebelumnya.

Keempat poin di atas merupakan kriteria menuju seorang pemimpin yang juga adalah seorang pemimpi. Kata orang, akal sehat yang tidur membangunkan monster. Banyak monster yang ingin menghancurkan NTT baik itu secara halus maupun secara kasar. Kiranya seorang pemimpin mampu menangkis dengan akal sehat. Pemimpin tidak cukup menjadi baik. Seorang pemimpin adalah seorang yang ingin meraih bintang, tapi dengan tahan banting. Semoga kriteria tadi mampu menjadi PR bagi calon gubernur yang baru.

Oleh: Eugen Sardono

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password