breaking news New

Mengenal Ritual “PETI” di Kampung Renden, Elar Selatan

Bagikan

Kabarnusantara.net – Kampung Renden, Desa Panwaru, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur sore itu diselimuti awan hitam pertanda hujan lebat akan menyirami kampung kecil itu. Terlihat Segerombolan ibu-ibu itu berbondong-bondong ke rumah adat sambil membawa beberapa hasil panen seperti jagung dan tak ketinggalan sayur-sayuran yang mereka petik dari ladang.

Ibu-ibu yang bergegas menuju Rumah adat itu hendak menghadiri sebuah ritual penuh sakral yang mereka sebut sebagai ritual “Peti”. Di rumah adat ini mereka dari satu keturunan berkumpul untuk bersujud syukur untuk musim panen yang sudah didepan mata.

Upacara wajib yang mereka jalani dua kali dalam satu tahun ini merupakan warisan leluhur yang terus lestari sampai saat ini. Layaknya upacara syukuran, saat acara tersebut berlansung jagung dan sayur sayuran yang akan mereka panen digelar di rumah adat untuk dipersembahkan kepada sang Pemberi alam dan leluhur yang menjaga tanaman mereka.

Bagi warga kampung renden, haram hukumnya bagi mereka menikmati hasil panen sebelum mereka persembahkan itu kepada Tuhan yang memberi alam dan kepada leluhur yang mereka percayai terus ada bersama mereka.

“Ritual ini pada dasarnya kami buat sebelum menikmati hasil panen seperti sekarang kami akan panen jagung. Sebelum kami menikmati jagung yang kami panen,terlebih dahulu kami persembahkan pada nenek moyang dan Tuhan sang pemberi alam”,kata Gregorius Pori, tokoh sesepuh adat kampung Renden.

Dia menjelaskan, jika ritual peti ini dilalui begitu saja maka mereka akan mendapatkan hal-hal aneh seperti kalajengking masuk kedalam rumah sampai anggota keluarga mereka sakit.

“Kalau kami menikmati hasil panen tanpa ritual terlebih dahulu maka kami akan mengalami kejadian aneh seperti kalajengking masuk kedalam rumah atau salah satu anggota keluarga kami sakit”,jelasnya.

Saat ritual berlangsung, hasil panen akan digelar bersama beberapa alat peninggalan nenek moyang mereka seperti Parang, Keris dan alat pusaka lain yang ditempatkan di rumah adat.

Khusus untuk ritual jelang panen padi ladang, Sebelum upacara di dalam rumah adat berlansung,terlebih dahulu sesepuh adat akan menampi beras dan berputar lima kali mengelilingi altar (compang) tempat sesajian yang dipersembahkan kepada leluhur dan prosesi ini mereka kenal dengan sebutan Tepi Rani.

Selanjutnya, beras yang ditampi oleh sesepuh kampung ini akan dibagi-bagi kepada semua kepala keluarga yang hadir saat prosesi tersebut.

Di dalam rumah, saat hasil panen yang mereka persembahkan selanjutnya didoakan dengan kurban seekor ayam jantan. Baru setelah ritual berlansung, mereka boleh menikmati hasil panen itu dengan makan bersama.

Bagi masyarakat adat kampung Renden, segala sesuatu yang mereka dapatkan dari alam adalah pemberian Tuhan dan leluhur mereka. Dengan demikian apa yang diberikan oleh alam harus disyukuri terlebih dahulu sebelum dinikmati.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password