breaking news New

Surat Kepada Jokowi dan Ilusi ‘Cengka Ciko’

Jalan Derita di Elar Selatan (Foto: VoxNtt)
Bagikan

Kabarnusantara.net – Sebanyak 15 tokoh masyarakat Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Kabupaten Mangarai Timur, Flores, NTT, membuat surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo.

Isi surat tersebut membahas masalah akses jalan raya ke kedua kecamatan itu yang rusak parah dan tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah setempat.

Isi surat tersebut mengambarkan keadaan jalan di wilayah tersebut yang sangat rusak parah. Penulis sangat tertarik dengan sebagian isi surat yang sangat mengelitik pikiran kita semua.

Isi surat tersebut yakni “pemerintah daerah tutup mata. Bupati tidak tahu ke mana? Gubernur? DPRD? Semua ke mana.”

Inilah pertanyaan sinis dan kritis dari rakyat mengenai tanggung jawab pemimpinnya yang hilang.

Selain itu ada seruan harapan yang memelas dari rakyat kecil agar dibuatkan jalan.

Isinya yakni, “Tolong buatkan kami jalan, juga jembatan untuk akses ke Wukir dan daerah sekitarnya dan melihat Bupati dan Gubernur kami yang mungkin lagi tidur di atas kasur jabatan.”

Inilah suara penderitaan dari rakyat kecil agar nasibnya diperhatikan. Ironisnya keluhan ini bukan ditunjukan kepada pemerintah yang tinggal dekat dengan mereka setiap hari tetapi kepada Presiden di Jakarta.

Surat yang berasal dari tokoh masyarakat Elar dan Elar Selatan tersebut mengandung sebuah ironi.

Ironinya terletak kepada isi surat tentang akses jalan di mana pemerintah Manggarai Timur mencanangkan jargon pembangunan yakni Cengka Ciko.

Kalau dilihat dari arti jargon ini yakni membuka isolasi, sebenarnya masyarakat tidak usah membuat surat terbuka. Karena semua isolasi termasuk jalan sudah dibuka. Nyatanya jargon ini hanya sebuah ilusi.

Pada konteks ini, penulis melihat bahwa jargon pembangunan yang dengungkan oleh Pemerintah Manggarai Timur yakni Cengka Ciko hanya sebuah ilusi belaka.

Jargon Cengka Ciko hanya mengelabuhi pikiran masyarakat kecil, sementara praktiknya jauh dari harapan.

Ilusi Cengka Ciko

Menurut KBBI, ilusi  adalah pengamatan yang tidak sesuai dengan pengindraan, tidak sesuai dengan kenyataan, ada dalam bayangan dan tidak dapat dipercayai.

Kata ilusi cocok dipertautkan dengan jargon politik yang acapkali dilontarkan oleh para pejabat kita. Jargon politik menjadi ilusi ketika ada kebohongan dalam perealisasiannya.

Jargon politik dijadikan sebagai iming-iming untuk menarik simpati rakyat kecil. Ketika ada simpati maka implementasi dari jargon tersebut amatlah nihil.

Yang menarik disini adalah reaksi pasif dari rakyat itu sendiri. Rakyat tentu berkonsentrasi pada pemenuhan hidup setiap hari sehingga melupakan janji manis para pejabat.

Rakyat kecil baru menyadari bahwa ada penyimpangan dalam jargon ketika para penjabat mengakhiri masa kepemerintahannya.

Jadi selama ini, pemerintah memberikan ilusi keadilan kepada rakyat kecil padahal mereka hidup dalam ketidakadilan.

Fenomena ilusi dan jargon politik ini sangatlah cocok bila mengkritisi filosofi pembangunan Bupati Yosep Tote yakni Cengka Ciko.

Kata Cengka berarti membuka dan kata Ciko berarti isolasi. Jadi Cengka Ciko berarti membuka isolasi. Tujuan jargon pembangunan Cengka Ciko sangatlah luhur yakni membuka isolasi, sekat, dan keterbelakangan lainnya.

Praktisnya membuka jalan, jembatan atau infrakstrukur lain ke wilayah-wilayah yang masih tertutup. Membuka sekolah, jaringan listrik, irigasi dan lain sebaginya. Inilah tujuan fundamental dari filosofi Cengka Ciko.

Namun, praktik filosofi pembangunan Cengka Ciko tidak dirasakan oleh masyarakat Elar dan Elar Selatan terutama akses jalan ke wilayah tersebut.

Walaupun jalan ke wilayah tersebut berstatus jalan provinsi dan menjadi kewenangan provinsi, tapi apakah Bupati Manggarai Timur tidak bersuara lantang melihat rakyatnya yang berjalan di kubangan kerbau. Seharusnya jargon Cengka Ciko menjadi semangat dari Bupati untuk menyuarakan pembangaunan jalan ke Gubernur NTT.

Selain jalan buruk, banyak lagi masalah pembangunan di Manggarai Timur yang tidak diperhatikan. Misalnya akses listrik untuk warga Elar dan Elar Selatan.

Listrik seharusnya diusahakan oleh negara untuk warga masyarakat. Masyarakat memiliki hak dan sudah dilegitimasi oleh undang-undang untuk menikmati jasa negara.

Fakta di Manggarai Timur terbalik adanya. Masyarakat kecil mengusahakan listrik secara swadaya dengan menghidupkan PLTA. Menurut penulis proyek PLTA ala masyarakat merupakan tamparan halus bagi pemerintah, setidaknya pemerintah tidak bisa melayani warganya.

Oleh karena itu, surat dari Tokoh masyarakat Elar dan Elar Selatan kepada Presiden Joko Widodo secara gamblang menjelaskan gagalnya praktik filosofi Cengka Ciko. Jargon ini  hanyalah ilusi yang mengelabuhi masyarakat agar tidak memberontak terhadap ketidakadilan yang ada.

Filosofi Cengka Ciko dijadikan sebagai mantra untuk menina-bobokan masyarakat agar bersabar mendapat pembangunan infrakstruktur. Pemerintah Manggarai Timur selama sepuluh tahun berhasil mempraktikan politik ilusi ini. (KbN)

Oleh: Reginaldus Erson, Mahasiswa STFK Ledalero, asal Elar, Manggarai Timur

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password