breaking news New

Antara Kekuasaan, Uang dan Wanita

Kami tidak membutuhkan seorang pemimpin yang mencintai budaya kematian yaitu adiktif dengan seks.
Bagikan

Kekuasaan memang baik di dalam dirinya. Tidak baik jika kekuasaan itu dijadikan tameng untuk pemuasaan kebutuhan perut dan perut ke bawah


Kabarnusantara.net – Salah satu isu menarik sekarang ini adalah hubungan antara kekuasaan, uang dan wanita. Tulisan ini tidak bermaksud melecehkan perempuan, tetapi lebih kepada penghargaan gender. Tak pelak bahwa kekuasaan membuat orang dengan mudah mendapatkan uang. Kebanyakan uang membuat orang menghamburkan untuk keperluan seks.

Menarik apa yang diungkapkan Ahok bahwa pejabat yang mencicipi PSK merupakan efek dari kekuasaannya dan harta yang dimilikinya. Apalagi, kalau uang itu adalah hasil korupsi. Berbicara tentang kekuasaan dan wanita, lantas siapa yang dipersalahkan? kita bisa melihat dengan dua mata. Seumpama seorang yang sama-sama mengingini masuk jurang. Bukan itu yang kita bahas. Bukan soal masuk jurang atau tidak. Mungkin hanya sebuah perbandingan. Akan sama halnya jika kita menelisik keadaan tubuh yang diperjualkan untuk uang dan uang untuk membeli tubuh. Ayam dan Telur, dua kemungkinan yang pasti, namun entah telur maupun ayam, tak ada sebuah pernyataan yang diterima.

Kekuasaan yang ada di kalangan pejabat telah menghancurkan hakikat body is holy (tubuh itu kudus). Mereka sama halnya memberi barang kudus dan mengotorinya dengan nafsu seksual mereka. Wanita pun telah salah menjual sebuah mutiara berharga yang dimilikinya. Saking berharganya, maka tak mampu lagi menahan tawaran dari bayaran yang sangat berharga. Sekali lagi ini soal uang.

Kekuasaan bukanlah sebuah keburukan demikian pun tubuh perempuan. Yang satu sesungguh saling bermanfaat terhadap yang lain. Namun, ketika yang satu menjadikan yang lain sebagai objek, maka yang lain pun berani memberi kapada yang satu demi sebuah kekayaan. Ujung-ujungnya adalah sebuah kenikmatan semu.

Seks is holy, kalau orang tahu kapan saatnya, di mana tempatnya, dan seberapa besar kebahagiaanya. Ketiga hal ini adalah sebuah pertimbangan dasar. Pertimbangan ini melunturkan pengaruh kekuasaan yang melihat wanita sebagai objek yang harus dibeli. Wanita pun melihat tubuh mereka sebagai sebuah mutiara yang berharga. Karena tubuh itu tidak ada duanya.

Ketika orang melakukannya tidak pada waktunya, dan melihatnya sebagai kesenangan sesungguhnya telah membawa pada sebuah pencaplokan nilai tubuh itu sendiri. Kenapa ada sebuah pernyataan, sahabat eratnya kekuasaan adalah wanita. Bukankah itu merupakan sebuah pernyataan yang bisa dinegasikan. Tetapi, bagaimana menegasikannya kalau perbuatan manusia Indonesia justru mengafirmasi pernyataan itu.

Maka, saatnya manusia Indonesia harus menegasikan sebuah pernyataan itu. Bukan dengan membenci pernyataan itu. Karena fakta sudah ada yang mengafirmasinya. Biarlah kita menegasikan pernyataan itu dengan perbuatan kita yang sesungguhnya melihat ungkapan itu sebagai sebuah ungkapan belaka. Semoga.

Indonesia menetapkan tahun 2018 sebagai tahun politik. Pada tahun 2018 ada sebuah konstestatsi politik. Sebentar lagi ada pemilihan kepala daerah, gubernur dan tahun 2019 ada pemilihan presiden. Penulis merasa perihatin dengan persoalan kekuasaan, seks dan uang. Sebagai salah satu orang yang berasal dari NTT penulis meminta agar calon gubernur NTT terhindar dari persoalan di atas.

Kekuasaan memang baik di dalam dirinya. Tidak baik jika kekuasaan itu dijadikan tameng untuk pemuasaan kebutuhan perut dan perut ke bawah. Ini berbahaya. Efek dari seorang calon pemimpin yang gila atau adiktif dengan seks sangat banyak. Pertama, aspek moral. Dari segi aspek moralitas sudah mencoreng nama keluarga dan nama pemimpin itu sendiri. Kedua, keteladanan. Salah satu sokoh guru dari seorang pemimpin adalah keteladanan. Jika ini hilang, maka siapa lagi yang bisa dijadikan tokoh teladan. Ketiga, korupsi. Korupsi bisa saja terjadi ketika uang dihamburkan untuk nafsu seksual. Ini berbahaya. Tentu penulis tidak ingin mengajak pemimpin untuk mengidap misogisme.

Misoginisme

Istilah misogini secara etimologis berasal dari kata Misogynia (Yunani) yaitu Miso (benci) dan Gyne (wanita) yang berarti a hatred of women, rasa benci kepada perempuan. (Gove, 1996). Ketika benci itu dijadikan sebuah konsep, maka konsep itu akan menjelma menjadi realitas yang hidup.

Dalam sejarah kekristenan, Agustinus misalnya melihat perempuan sebagai ketidaksempurnaan lelaki. Atau hawa adalah Adam yang cacat. Konsep itu begitu melekat kuat dalam masyarakat, sampai itu pun bisa merambas sampai ke radix (akar) persoalan. Zaman pencerahan pun mengangkat soal gender. Otoritas perempuan harus sama dengan kaum lelaki. Ketika hantu kapitalisme merasuki kehidupan masyarakat, secara tidak sadar kontek perempuan sejagat pun dikerucut oleh daya iklan. Maka, tubuh perempuan tidak serta merta milik mereka, melainkan milik biro perusahaan.

Rasa benci kepada perempuan merupakan paradigma purba yang masih dihidupi di zaman ini. Kalau membaca di surat Kabar, TV, dan media sosial, begitu banyak kaum perempuan sebagai victim, entah itu korban politik maupun korban kekuasaan.

Mencintai Kehidupan

Manusia di hadapkan pada dua kebiasaan, yaitu mencintai kehidupan atau mencintai kematian. Ketika, orang memilih mencintai kematian, dampaknya sesuatu (seseorang) yang hidup dianggap mati. Ini akar dari kehancuran. Mencintai sesuatu yang hidup pertama-tama berawal dari rahim.
Perempuan memiliki rahim dan kualitas yang tidak dimiliki oleh kaum pria. Kualitas itu merupakan mutiara berharga bagi kehidupan itu sendiri. Ketika mutiara itu dibenci, hal-hal lain pun dibenci dan dianggap hina.

Dalam situasi kekacauan ini, mungkinkah banyak orang percaya kepada perempuan, yaitu empu “kehidupan”. Mari kita mencintai kehidupan. Ketika budaya kehidupan itu hadir dan menyatara, maka nilai keindahan (pulchrum), kebaikan (bonum), dan kebenaran (verum) akan semakin nyata dan tampak. Sejarah kehidupan manusia berasal dari perempuan, bukan kematian. Konsep misoginisme lantas diganti dengan konsep amorisasi terhadap yang hidup. Barang siapa mencintai kehidupan, ia tidak akan mati.

Kami tidak membutuhkan seorang pemimpin yang mencintai budaya kematian yaitu adiktif dengan seks. Kalau mau adiktif, silakan adiktif dengan membaca dan melakukan tindakan yang baik. Semoga.

Oleh : EUGEN SARDONO, SMM, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password