GAHARUNISASI Papua dalam Ekonomi PEKARANGAN

Masyarakat Papua yang ikut membudiyakan Gaharu
Bagikan

Papua,Kabarnusantara.net – Komunitas Petani Gaharu Nusantara (KOMPIGAR) memberikan pelatihan budi daya gaharu, pohon termahal di dunia di pedalaman kabupaten Suku Agats di Suku Asmat, Papua Selatan, yang diprakarsai oleh Keuskupan Agats pada 9-11 Maret 2017 lalu.

Robert EppeDANDO, Chairman and Founder of KOMPIGAR (Komunitas Petani Gaharu Nusantara) menyampaikan bahwa mereka diterima di dua kampung, yaitu Kampung Busiri dan Kampung Samrukie.

“Kampung Busiri dan kampung Samrukie merupakan dua kampung yang menerima kami dengan antusias. Ibu-ibu menyambut kami dengan tarian khas Papua di ujung dermaga sungai di ujung kampung,” ucapnya.

“Memasuki kawasan kampung Busiri, kami disambut lagi dengan nyanyian dan tarian khas Negeri Cenderawasih oleh bapak-bapak dari kedua kampung tersebut,” sambung Robert.

Bersama KOMPIGAR (Komunitas Petani Gaharu Nusantara), ratusan warga Suku Asmat yang terkenal dengan ukiran Papua siap melakukan budi daya gaharu di pekarangan rumah dan/atau kebunnya dengan spirit GAHARUNISASI NUSANTARA yang disingkat GARNISUN, dengan tidak hanya mengambilnya dari hutan Asmat, tetapi menanam pohon gaharu di sekitar rumah dan/atau kebun terdekat dengan rumah tinggal dengan spirit bersama yakni “EKONOMI PEKARANGAN.”

Kini, kata dia, harga gaharu dunia mencapai sekitar Rp. 350 juta per kg untuk kelas king of kings. Apalagi harga minyak gaharu juga semakin mahal sekitar Rp. 650 juta per liter untuk kualitas AAA.

Karena itu, kata dia, pelestarian gaharu sangat mendesak kita lakukan, karena gaharu sedang terancam punah oleh rekomendasi red notice Appendix II oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Artinya, gaharu mutlak dilindungi, karena populasinya sangat menipis.

Ia menambahkan, kegiatan budidaya gaharu tersebut atas permintaan Keuskupan Agats.

Budidaya itu dilakukan di Kampung Samrukie, Asmat di pedalaman Papua dengan menempuh perjalanan by long boat sekitar 12 jam lamanya.

“Lama perjalanan 12 jam dari kota Agats di kabupaten Agats, Papua Selatan menuju pedalaman Suku Asmat yakni di Kampung Samrukie dan Kampung Busiri. Jadi, dua kampung tersebut yang kami kunjungi,” kata Robert.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password