Beranda Editorial Hubungan Kekuasaan dan Seks

Hubungan Kekuasaan dan Seks

0

Kabarnusantara.net – Salah satu contoh wacana yang secara jelas menunjukkan bagaimana kekuasaan dan pengetahuan saling berkaitan satu sama lain, yakni persoalan seksualitas. Penelusuran historis Foucault, memperlihatkan bahwa baik seks dan kekuasaan, keduanya memiliki hubungan yang dialektis-asimetris. Keterkaitan yang saling mengandaikan antara keduanya telah menghasilkan wacana tentang seks secara berbeda dalam tiga periode sejarah. Pada masyarakat Greco-Roman seks dimaknai sebagai ars erotica, karena kontrol kekuasaan yang beroperasi pada saat itu tidak terkonsentrasi pada satu kekuatan tertentu, melainkan pada masing-masing orang. Setiap orang diberi kebebasan untuk memaknai kehidupan seksnya dengan tetap berpegang teguh pada prinsip kewaspadaan.

Kebebasan untuk memaknai dan mengekspresikan hasrat seksual itu mulai sirna ketika masyarakat berada di bawah bayang-bayang otoritas Gereja dan Viktorianisme. Dua kekuatan besar ini dinilai telah merepresi secara militan kehidupan seksual masyarakat pada masa itu. Gereja mengekang segala bentuk ekspresi seksual yang tidak sesuai dengan nasihat Injil. Tubuh dipandang rendah karena sifatnya yang fana, sehingga bisa mendatangkan maut bagi setiap orang Kristen. Sedangkan kaum Viktorian dengan otoritas kebangsawanan yang dimilikinya, menetapkan suatu aturan main yang tidak kalah ketatnya seperti Gereja. Seks dilihat sebagai hal yang puritan, tabu dan karena itu tidak boleh dibicarakan di tempat umum.

Namun di balik kenyataan represi atau pengetatan wacana seputar seks itu, ternyata masyarakat dikondisikan untuk selalu membicarakannya secara terus menerus dan konstan. Rasa ingin tahu atas kehidupan seksual pun menjadi semakin meningkat di tengah fenomena pengekangan tersebut. Masyarakat menjadi semakin ditantang untuk mengetahui rahasia seksnya di balik tirai kekuasan Gereja dan kaum Viktorian. Kehendak untuk mengetahui secara mendetail seluk beluk hasrat seks inilah yang kemudian memacu para ilmuwan untuk melakukan analisa yang lebih teoritis terhadap setiap gejala seksual yang muncul dalam diri manusia. Hasilnya seks mulai dibebaskan dari “jeruji” kontrol yang represif dan bergerak menuju suatu ruang klinis yang sarat dengan rumusan-rumusan teori yang baku. Seks akhirnya diilmukan, dan menjadi scientia sexualis.

Paradigma seksual modern yang memberi ruang studi dan penelusuran tanpa batas terhadap masalah seksualitas, tampaknya tidak hanya memberi pengaruh positif terhadap pengembangan kepribadian seorang manusia, tetapi ternyata dalam analisa penulis, ditemukan bahwa paradigma scientia sexualis masyarakat modern telah memperlancar proses potensialisasi dan optimalisasi pengumbaran libido yang berlebihan dalam dunia cyber, pengeksposan tubuh melalui citra media yang tanpa bungkus, dan komersialisasi seks untuk mencapai kenikmatan seturut hasrat diri tanpa norma. Akibat yang terjadi adalah lenyaplah aura sebatang tubuh di dalam wacana seksualitas. Seks akhirnya bergeser dari ruang tabu abad pertengahan dan ruang klinis modern, menuju ruang komoditas yang mengutamakan keuntungan bagi para pemilik modal dan kepuasan hasrat bagi para pembeli, penikmat dan sebagainya.

Kapitalisme dengan bantuan media massa tampaknya telah berhasil menempatkan seks menjadi barang komoditi dalam masyarakat postmodern yang sedang dirasuki budaya informasi dan konsumsi. Seksualitas manusia yang selama ini dijaga sebagai urusan privat akhirnya berubah menjadi barang dagangan publik sebagaimana yang terjadi dalam dunia periklanan. Munculnya berbagai iklan yang menawarkan produk dengan memanfaatkan daya pikat tubuh manusia (terlebih tubuh perempuan), serta berkembangnya berbagai situs gelinjang dalam dunia cyber telah menyebabkan seksualitas kehilangan makna. Seks tidak lagi dipahami sebagai unsur esensial dalam hidup manusia yang mesti dihormati, tetapi perlahan-lahan berubah menjadi obyek pemuasan hasrat yang kerapkali tidak terkontrol. Hal ini secara jelas membuktikan bahwa dalam kehidupan masyarakat postmodern, kekuatan media massa di bawah kontrol kapitalisme telah menjelma bagaikan “agama” dan “tuhan” sekuler. Perilaku orang tidak lagi ditentukan oleh agama, etika tradisional, tetapi tanpa disadari telah diatur oleh media massa seturut logika kapitalisme. Setiap orang lantas diberi kebebasan untuk memaknai arti seks dan seksualitas dirinya berdasarkan aneka tawaran yang disajikan oleh media.

Pengaruh paham postmodernisme sesungguhnya telah mengubah cara pandang orang terhadap seksualitas. Dalam ruang postmodernisme seks tidak lagi menjadi urusan pribadional, tetapi sudah menjadi urusan yang bersifat publik. Setelah memasuki ruang publik, seks menjadi komoditi yang potensial untuk diperjualbelikan. Seks tidak lagi merupakan barang langka yang memiliki nilai suci, tetapi telah menjadi aktivitas yang diobral tanpa batas. Berbagai bentuk pelayanan seks komersial menunjukkan hal itu dengan jelas. Seks seolah-olah telah lepas dari spiritualitas, yang justru semestinya menjadi fondasi dari aktivitas seks itu sendiri. Seks pun lalu memusatkan pada kenikmatan daging belaka. Selain itu dampak lain dari pergeseran wacana tentang seks dari ruang privat menuju ruang publik dalam masyarakat postmodern adalah hilangnya makna keutuhan intimitas antara suami dan isteri di dalam ruang privat, dan sekaligus justifikasi atas tabu bagi mata yang mengintip. Asumsi kebebasan masyarakat postmodern telah membuat para pengintip sendiri kini tidak lagi dianggap berdosa atau melanggar hak-hak asasi manusia. Segalanya perlahan-lahan diterima dan mulai dinilai wajar. Dengan demikian, seks telah menjadi musuh dalam selimut bagi intimitas itu sendiri.

Berhadapan dengan kenyataan demikian, saya berpendapat bahwa etika kiranya harus tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi berkenaan dengan seksualitas manusia tersebut. Meski postmodernisme menolak segala bentuk nilai universal termasuk etika, dan menawarkan kebebasan bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan kaidah kebenaran yang diyakininya – hemat saya kita perlu mencari dan mengupayakan suatu model etikayang mampu membebaskan masyarakat postmodern dari aneka problematika seks yang terjadi dewasa ini. Etika seksual itu sendiri merupakan paham mengenai sejauh mana seseorang menghargai dan menghormati gairah seksual baik milik pribadi maupun milik orang lain. Dalam pengertian menghargai dan menghormati organ seksual dan gairah seksual terkandung makna mengenai seseorang menggunakan, melampiaskan dan mengendalikan organ serta gairah sekusalnya.Etika seksual yang saya maksudkan adalah etika yang bersifat integratif, yakni etika yang mampu mengarahkan setiap pribadi kepada kepenuhan atau keutuhan diri. Nilai-nilai yang terkandung dalam etika seksual integratif adalah kemerdekaan diri, saling percaya, jujur dan setia, tanggung jawab, gembira dan pelayanan hidup.

Satu hal yang dapat dijadikan sebagai pijakan untuk mencari solusi dalam upaya mengembalikan etika seksual kepada martabat kemanusiaannya haruslah menjadi usaha kolektif yang berangkat dari kesadaran semua pihak sehingga tidak lagi terjadi paradoks dan ambiguitas dalam memandang problematika kehidupan seksual dalam masyarakat. Karena itu ada tiga solusi yang saya tawarkan berhadapan dengan aneka persoalan seputar seks.

Pertama, seks memang tidak perlu dijadikan hanya sebagai wacana kamar tidur. Wacana seks seharusnya dapat dibuka secara lebih luas sehingga terdapat ruang-ruang publik untuk membicarakan persoalan-persoalan seksualitas yang lebih bermoral dan luhur. Karenanya publikasi wacana seks seyogyanya menekankan pada dimensi edukatifnya. Selama ini yang kita saksikan adalah publikasi wacana seks yang justru lebih menonjolkan dimensi rangsangan, gairah, godaan dan kenikmatannya seperti yang kita saksikan melalui iklan, tobloid, internet dan media lainnya, sehingga publikasi wacana seks justru mengakibatkan terjadinya gelombang gairah untuk mereguk kenikmatan seksual sebebas-bebasnya, bukannya perilaku seks yang bertanggung jawab dan bermoral.

Kedua, pendidikan kiranya dapat memainkan peranan yang sangat penting dalam upaya mencari solusi bagi persoalan moralitas seksual masyarakat postmodern. Pendidikan harus mampu menciptakan kesadaran akan perlunya menjaga keluhuran nilai-nilai seksual, dan bukan hanya memproduksi pengetahuan tentang seksualitas.Pendidikan dapat mengembalikan nilai-nilai tanggung jawab dalam seksualitas yang telah banyak dikikis oleh budaya seks bebas. Kehidupan seksual melibatkan relasi antara sepasang manusia. Hubungan seksual selalu melibatkan orang lain. Karenanya, tanggung jawab menjadi penting, sebab dalam setiap perilaku manusia yang melibatkan orang lain, aspek tanggung jawab harus juga disertakan.

Ketiga, perlu diadakan perubahan perspektif dalam upaya penanggulangan masalah-masalah seksualitas. Lembaga-lembaga yang bergerak dalam penyuluhan tentang seks selama ini tampaknya lebih berusaha untuk mencari solusi bagi dampak yang ditimbulkan oleh perilaku seks bebas daripada menyelesaikan persoalan seks bebas itu sendiri. Mereka menyerukan penanggulangan AIDS, kahamilan di luar nikah atau aborsi, tetapi tidak menyentuh persoalan yang sebenarnya lebih mendasar, perilaku seks bebas. Maka muncullah anjuran-anjuran: “Jangan gonta ganti pasangan!” (Artinya, walaupun tidak nikah asalkan dilakukan dengan hanya satu pasangan tidak menjadi soal), atau “Pakailah kondom!” Melalui kampanye kondomisasi atau pemakaian kontrasepsi yang juga menjadi program Keluarga Berencana, seolah-olah ingin dikatakan kepada kita, “Nikmatilah kehidupan seksual sebebas-bebasnya, dan mari kita hindarkan kehamilan atau AIDS melalui kondom atau kontrasepsi.”Perspektif ini perlu kita ubah.

Singkat kata, Persepsi Pemegang Kekuasaan soal Seks akan mempengaruhi masyarakat luas dalam memaknai seksualitas. Masyarakat post modern sekarang ini harus menghindari pemimpin atau pemegang kekuasaan yang didominasi oleh pemikiran kapitalisme (yang memuja modal atau uang).

Apa alasannya? Masyarakat masih menginginkan ada batasan moral dan etika dalam memaknai seks. Artinya, Pandangan terhadap seks tidak sampai menghilangkan esensi (inti). Eksplisit terhadap tubuh atau seks dipandang sebagai komoditas adalah bentuk pengabdian Etika dan moral dalam memakai seks.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here