breaking news New

Yulianis Buka-Bukaan Soal Kebobrokan KPK

Bagikan

Jakarta – Yulianis, saksi kunci kasus Nazaruddin dan mantan anak buah dari Nazaruddin mengungkapkan banyaknya kejanggalan dalam kasus Nazaruddin.

Hal itu diungkapkan Yulianis dalam diskusi publik bertajuk “Memotret Kinerja KPK” di Bakoel Koffie, Cikini Jakarta pusat, Senin (4/12/2017).

Nama Yulianis mencuat sejak dirinya mendatangi pansus Hak Angket KPK beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, kedatangannya ke Pansus Hak Angket KPK didorong oleh keresahan yang dialaminya.

“Saya ke Pansus kemarin yah, itu prosesnya gak cepat, prosesnya tiga tahun dengan banyak kegundahan saya di KPK. Banyak hal yang sudah saya sampaikan di KPK, protes secara langsung. Jadi sebagian besar yang saya omongkan ke Pansus sudah saya protes langsung ke KPK. Jadi orang KPK sudah tahu apa yang saya bicarakan di Pansus,” jelas Yulianis.

Ia mengatakan, keberaniannya hadir dalam rapat pansus Hak Angket KPK untuk mendorong perbaikan lembaga KPK.

“Kenapa akhirnya saya berani bicara di Pansus karena saya berharap ada perbaikan di institusi KPK,” ujarnya.

Ia menyampaikan, KPK harus memberantas korupsi tapi tidak dengan melawan hukum. “Bila KPK terus memberantas korupsi dengan melawan hukum, maka percuma saja KPK mengajari kita dengan gaungnya KPK, Berani jujur itu hebat. Tapi KPK sendiri tidak jujur dengan sistem yang dipakai dalam memberantas korupsi,” kata dia.

“Banyak hal yang saya lihat dengan mata kepala sendiri tidak sesuai dengan fakta yang ada. Banyak juga hal-hal yang membuat saya menjadi hopeless. Tiga tahun lalu, saya menjadi benar-benar tidak percaya terhadap KPK,” sambung dia.

Ia mencontohkan, di kasus Nazaruddin dan kasus Anas Urbaningrum terjadi banyak kejanggalan.

“Di dua kasus itu banyak kejanggalan, apa yang disampaikan Nazaruddin itu bohong. Gak sekali, tetapi berkali-kali. Karena saya langsung terjun langsung di kasus itu,” ungkapnya.

“Saya bisa membuktikan kalau apa yang dibicarakan oleh Nazaruddin itu bohong,” ujarnya.

Tetapi, kata dia, KPK malah memberikan JC (Justice Collaborator) untuk Nazaruddin.

“Jadi gak tahu perjanjian setan apa yang terjadi antara KPK dan Nazaruddin,” ucap dia.

Ia menuturkan, KPK dulu di awal-awal menjanjikan bahwa semua Kasus Nazaruddin akan disupervisi supaya tidak salah sasaran. Tapi ternyata semua informasi yang diberikan ke KPK tidak disupervii seperti dibiarkan tidak menyentuh ke Nazaruddin.

“Teman-teman saya tidak boleh menyebut Nazaruddin. Padahal mereka diperiksa di Kepolisian dan Kejaksaan bukan di KPK. Seharusnya kan KPK harus supervisi semua kasus Nazaruddin. Tapi gak ada. Teman-teman saya masuk penjara semua. Itulah marahnya saya pada 3 tahun lalu,” ujar Yulianis.

Yulianis mengatakan, teman-temannya akan masuk penjara jika dia diam, sementara Nazaruddin mendapatkan keringanan.

“Kalau begini caranya dan saya diam, maka teman-teman saya masuk penjara semua, sedangkan Nazaruddin dapat JC, dapat keringanan,” ujarnya.

Yulianis keberatan dengan pemberian JC kepada Nazaruddin karena menurutnya keterangan di persidangan adalah tidak benar.

“Kita balik lagi ke UU JC lah, secara umum JC berarti memberikan keterangan berdasarkan fakta yang ada. Berarti dia membantu mengungkap fakta dengan benar. Kalau Nazaruddin, maaf kata, banyak hal-hal yang dia buka, itu bukan Proyeknya dia. Tapi kalau proyeknya, dia tidak buka,” jelas Yulianis.

Ia mencontohkan kasus Hambalang, “itu bukan Proyeknya dia. E-KTP bukan proyek Nazaruddin,” tuturnya.

Jadi, kata dia, apa yang dikatakan Nazaruddin hanyalah bargaining agar kasusnya tidak dibuka lagi.

“Itu ada 162 kasus. Di KPK cuma 5 kasus dan Nazaruddin hanya terkena 1 kasus. Dan datanya sudah lengkap di KPK. Saya sudah kasi 6 tahun yang lalu,” jelasnya.

Ia juga menyatakan bahwa penanganan aset-aset Nazaruddin tidak maksimal.

“Data saya bisa sampai satu ruangan ini kasi ke KPK. Tapi apa hasilnya, hartanya Nazaruddin banyak yang dikembalikan ke Nazaruddin,” ungkap dia.

Yulianis menyebutkan bahwa aset korupsi yang disita KPK masih dalam penguasaan Nazaruddin.

“Padahal saya sudah bisa membuktikan belinya pake uang proyek yang mana. 60 Miliar itu dibalikin KPK. Yang sudah disita pun itu masih dalam penguasaannya si Nazaruddin. Jadi, kalau KPK bilang sudah menguasai apa yang dia sita dari Nazaruddin, saya tidak percaya 100 persen. Mana buktinya. Banyak kasus yang berkaitan dengan Nazaruddin tidak ditangani serius oleh KPK. Saya ini accounting, bicara berdasarkan data yang ada. Saya tidak bisa bicara tidak berdasarkan data,” tutup Yulianis.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password