breaking news New

Cerita Perempuan Rohingya Korban Pemerkosaan Terhadap Paus Fransiskus

Bagikan

Kabarnusantara.net – Kala itu, tengah malam, tentara datang tanpa pemberitahuan. Mereka membakar desa, membunuh para pria, dan memerkosa para wanita dan remaja putri.

Peristiwa itu terjadi September lalu di Kota Maungdaw, sebelah utara Rakhine State di Myanmar. Namun bagi para korban yang selamat, khususnya para wanita, kejadian itu masih segar dalam ingatan mereka.

Salah satunya Sayeda, seorang wanita etnis Rohingya. Ia bertemu Paus Fransiskus saat Paus mengunjungi Banglades beberapa hari lalu. Ia pun menceritakan kepada Paus tentang pengalaman sedihnya.

“Saya bilang ke Paus apa yang telah kami alami,” katanya dilansir ucanews.com di sebuah tenda pengungsi yang padat di Cox’s Bazar.

Ia menceritakan kepada Paus bagaimana empat tentara memerkosanya setelah mereka membunuh satu dari empat saudara laki-lakinya dan seorang sepupu di tengah malam pada Hari Raya Idul Adha.

“Paus meyakinkan saya bahwa ia akan melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk membantu kami,” katanya.

Sayeda, kini berusia 25 tahun, tiba di kamp pengungsi itu Oktober lalu setelah desanya dibakar dan diserang oleh tentara Myanmar.

“Tentara dan (massa) membunuh anak-anak kami dan menghancurkan rumah kami,” kenangnya.

“Allah menyelamatkan kami sehingga kami tidak dibunuh. Dan kami mengungsi ke Banglades untuk menyelamatkan hidup kami,” katanya.

Korban perkosaan lainnya, Hajera, juga menceritakan kisah sedihnya kepada Paus Fransiskus. Tentara menculik anak-anaknya sebelum memerkosanya.

“Saya bilang kepada Paus bahwa kami sangat menderita. Kami tidak bisa melarikan diri karena mereka akan menembaki kami. Mereka membakar mesjid-mesjid kami,” kata wanita berusia 29 tahun itu.

Ia dan tetangganya bersembunyi di hutan selama 13 hari. Suatu hari, anaknya yang masih berumur delapan tahun minta air minum.

“Saya membawanya ke sumber air. Tentara menangkap saya dan memerkosa saya selama berhari-hari,” katanya.

Sekitar 16 tentara memerkosa Hajera dan sedikitnya 20 wanita selama lima hari. Ketika tentara meninggalkan mereka, mereka menyeberangi sungai menuju Banglades, tempat Hajera bertemu suami dan tiga anaknya.

“Paus bilang kepada saya bahwa ia akan mengatakan kepada dunia tentang kisah kami. Ia juga minta saya untuk berdoa kepada Allah,” katanya.

Sedikit demi sedikit para wanita menceritakan kepada dunia tentang pengalaman sedih mereka.

Sambil menangis, Rabeya, 34, menceritakan bagaimana tiga tentara memerkosanya dan anak perempuannya di ruangan yang berbeda.

Sejak saat itu, ia mengungsi bersama suami dan lima anaknya ke kamp pengungsi di seberang sungai di Cox’s Bazar.

Ia menceritakan kepada ucanews.com bagaimana tentara mengusir para pria keluar dari desa dan meninggalkan istri dan anak-anak mereka kepada para penyerang.

“Para penyerang memilih wanita dan remaja putri yang menurut mereka cantik dan memerkosa mereka satu per satu,” kata Rabeya.

“Kami sampai pingsan. Tentara mengira kami meninggal,” lanjutnya.

“Banyak wanita lain dibunuh setelah diperkosa,” katanya.

Suami dari Hafiza, 28, dibunuh sebelum empat tentara memerkosanya. Anaknya yang berumur 14 tahun mampu melarikan diri, tapi belum ditemukan hingga sekarang.

“Saya duga ia ditangkap, diperkosa dan juga dibunuh,” kata Hafiza.

Setiap malam ia terbangun dari mimpi buruk dan memanggil anaknya.

Seorang wanita etnis Rohingya yang mengklaim diperkosa beberapa kali oleh tentara di Rakhine State, Myanmar, menceritakan kepada Paus Fransiskus tentang kisah sedihnya saat bertemu Paus di Dhaka. (Foto: Joe Torres)

Sejumlah dokter yang melayani pengungsi di tenda pengungsi di Banglades mengatakan banyak korban perkosaan enggan menceritakan kisah sedih mereka karena stigma sosial yang melekat pada kejahatan seksual.

“Saya sudah bicara dengan beberapa wanita. Mereka mengatakan bahwa mereka terluka, tapi tidak menyebut perkosaan,” kata Dokter Misbahuddin Ahmed, seorang staf keluarga berencana di Kota Ukhiya di Cox’s Bazar.

Dilansir ucanews.com ia mengatakan bahwa sebagain besar wanita etnis Rohingya yang mencari pengobatan di klinik yang didirikan di kamp pengungsi merupakan korban perkosaan. (RR/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password