Beranda Nasional Jangan Hanya di Lapas Sukamiskin, Fahri Tantang Keberanian KPK Bongkar Sel Mewah...

Jangan Hanya di Lapas Sukamiskin, Fahri Tantang Keberanian KPK Bongkar Sel Mewah Mako Brimob

0

JAKARTA, Kabarnusantara.net – Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan di Lapas Sukamiskin itu, KPK juga menemukan fasilitas sel yang cukup mewah. Ada sel di Lapas Sukamiskin yang dilengkapi dengan mesin pendingin udara (AC), kulkas, dan televisi.

Menanggapi temuan lembaga antiraush tersebut, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menantang KPK untuk membongkar adanya sel mewah dilapas-lapas lainnya, termasuk di Lapas Mako Brimob Kepala Dua, Depok.

“KPK RI berani ya sama Sukamiskin. Nggak berani sama Mako Brimob. Padahal di sana itu lebih empuk dan mewah,” sindir Fahri lewat pesan singkatnya, Selasa (24/7/2018).

Sebab menurut Fahri, fasilitas-fasilitas yang disediakan di Lapas Sukamiskin, bukanlah fasilitas mewah melainkan manusiawi. Dirinya mengatakan ini karena telah berkeliling ke lapas-lapas seluruh Indonesia.

“Lapas selain Sukamiskin itu antah berantah kayak zaman Belanda. Orang ditahan bertahun-tahun butuh hiburan juga,” ucapnya.

Karena itu, anggota DPR asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, tidak sepakat dengan program revitalisasi lembaga permasyarakatan atau lapas dan rutan.

“Lapas Sukamiskin itu sudah yang paling manusiawi di Indonesia ini. Enggak perlu itu (program revitalisasi),” tegas Fahri.

Diketahuii, Kalapas Sukamiskin Wahid Husen diciduk KPK bersama tiga orang lainnya pada Sabtu dinihari, 21 Juli 2018. Setelah menjalani pemeriksaan, Kalapas yang baru menjabat sejak Maret lalu itu ditetapkan sebagai tersangka penerima suap terkait pemberian fasilitas mewah dan rekomendasi izin luar biasa kepada narapidana korupsi tertentu di dalam Lapas Sukamiskin.

Dalam OTT kali ini, KPK menemukan fasilitas sel yang cukup mewah. Ada sel di Lapas Sukamiskin yang dilengkapi dengan mesin pendingin udara (AC), kulkas, dan televisi.

Salah satunya adalah sel yang dihuni oleh Fahmi. KPK menyebut seorang narapidana harus membayar biaya Rp 200-500 juta untuk fasilitas itu. (Echon/CBN)