Beranda Sastra Mawar Layu di Ujung Jemariku

Mawar Layu di Ujung Jemariku

0

JATUH cinta sepihak yang menyiksa relung hati.

Pelangi senja itu kian memudar. Masih terasa aroma tanah di balik jendela kamar. Suara lagu di ponsel mulai kuputar. Lirik patah hati kini kudengar. Air mata kian menjalar menjadi luka yang melingkar. Aku yang salah merasakan debar. Tak seharusnya aku bertingkah di luar rasa nalar.

Kala itu, kamu datang bersama senyum yang tak kuduga. Banyak cerita dari awal pertemuan kita. Kamulah lembaran yang dengan sengaja aku menuangkan tinta kehidupan. Melangkah bersama dalam ikatan pertemanan.

Aku tak sanggup lagi bersembunyi dalam relung hati. Rasa yang dulu kukira hanya sebatas teman, kini tumbuh menjadi hasrat ingin memiliki. Kamu tahu rasanya menyimpan sebuah rasa? Nikmat jika dirasakan, sakit jika rasa itu tak terbalaskan.

Ada sakit yang begitu pedih. Ketika kamu dengan begitu mudahnya menolak perasaanku. Tegas sekali ucapanmu itu. Hancur berkeping dinding hatiku. Perlahan aku menghilang dari senyumanmu. Aku tak lagi berada di depan pandanganmu. Bukan berarti aku pecundang. Hanya saja aku ingin menata kembali kepingan hatiku. Belajar menerima kenyataan. Nanti aku akan kembali dengan menebar senyum di hadapanmu.

Di keramaian aku berlari mencari sepi. Aku tak sanggup menahan rasa sedih. Dada ini terasa sesak menahan sakit hati. Luka yang sampai kini belum bisa terobati. Inikah rasanya patah hati?

Aku berlari menuju hutan. Mencoba melupakan segala bayang wajahmu. Bersandar di bawah pohon jati. Kudengar suara gemericik air entah dari mana sumbernya. Siang itu, aku menikmati suara burung. Mereka bebas bersiul. Ketika aku tersakiti oleh lelaki, ingin rasanya terbang dengan sayap yang membawa luka. Ketika rindu aku bisa melihatmu dari kejauhan. Ketika sedih aku bisa terbang sejauh yang kuinginkan.

Aku masih terus berlari. Kini aku memandang gulungan ombak di senja yang begitu kelabu. Kulihat sepasang kekasih sedang menikmati es kelapa muda. Udara pantai kini semakin sejuk. Tapi hatiku masih deras dengan tangis.

Nampaknya aku mulai letih berlari. Aku kembali padamu. Masih seperti dulu, aku dan kamu adalah kawan. Kita tak bisa menjadi sepasang kekasih. Aku tahu betul bahwa hubungan kekasih adalah rasa cinta antara 2 insan. Jika hanya satu saja yang merasakannya, itu berarti cinta sepihak. Ternyata cara mengobati luka bukan dengan cara melarikan diri. Aku harus menghadapi si pembuat patah hati. Mencoba tetap tegar dan berusaha sekuat tenaga mengalahkan emosiku.

Aku masih di balik jendela. Aku terkejut melihatmu datang kerumahku. Aku segera keluar menghampirimu. Aku dan kamu duduk di teras ditemani sisa rintik hujan. Aku mencoba tersenyum untuk menutupi luka. Kamu memberikanku bunga mawar layu. Katamu, aku seperti mawar kuning yang selalu menghiasi harimu. Mawar kuning melambangkan persahabatan, keceriaan, kekeluargaan, dan kegembiraan. Dan semua itu ada di diriku. Nampaknya aku tahu maksudmu memberikanku mawar kuning yang layu. Itu melambangkan diriku yang sudah tak seceria dulu.

Kuterima bunga mawar layumu. Aku sudah memutuskan untuk tetap berkawan denganmu. Kamu juga tak ingin menyudahi persahabatan ini. Biar luka yang kurasakan saat ini perlahan hilang dengan tetap melihat senyumanmu. (KbN)

Syair ini dilansir dari Vebma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here