Beranda Opini Opini : Arah Pemerdekaan Kaum Muda

Opini : Arah Pemerdekaan Kaum Muda

0

Kastra.co – Kaum muda merupakan kumpulan orang yang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk mengadakan perubahan positif dalam kehidupan masyarakat. Mereka memiliki potensi yang baik untuk dapat mengembangkan kehidupan bersama ke arah kemajuan. Dengan kreativitas, inovasi, kritis, kelengkapan sarana yang dibutuhkan dipadu dengan semangat menggebu untuk transformasi masyarakat menjadikan para pemuda sebagai salah satu komponen penting untuk kemajuan. Mereka berpikir dalam ide dan bertindak progresif melalui semangat konstruktif yang susah dibendung. Ini merupakan karakter penting yang tidak boleh tetap tersembunyi. Potensi itu harus dapat diaktualisasikan sehingga bukannya menjadi kekal sebagai potensi.

Muda yang Mudah

Sebagai salah satu pembentuk komponen penting untuk transformasi kehidupan yang lebih baik, kaum muda sangat gampang menyerap suatu hal dari luar kehidupan. Mereka dapat dengan mudah menerima sesuatu dari luar karena itu semua menjadi “bahan” baginya untuk dapat digunakan dalam usaha mengubah kehidupan bersama ke arah yang lebih baik. Penyerapan hal dari luar itu menjadi keharusan bagi kaum muda karena dengan demikian mereka menjadi memiliki lebih dari apa yang mereka miliki saat ini. Dengan kelebihan hal yang diserap itu, kaum muda pun mulai membangun sesuatu untuk kebersamaan hidup mereka.

Tentu saja, untuk dapat menyerap suatu hal dari luar kaum muda pun sering melakukan eksplorasi terhadap berbagai sisi kehidupan. Di sinilah kaum muda akan menemukan banyak hal yang entah sinergis ataukah berlawanan dengan apa yang sudah dimilikinya/diyakininya. Ini membuat mereka sering kali berada dalam keraguan untuk terus melangkah ataukah tetap berdiri di tempat untuk mencapai kesepakatan yang sesuai dalam dirinya.

Salah satu fenomena kehidupan kaum muda yang jamak terjadi di mana-mana pada saat ini adalah mudahnya kaum muda mengikuti gaya, mode, atau “-isme” dari luar yang mungkin berbeda dengan kehidupan masyarakatnya serta keyakinannya sendiri. Hal ini tidak dapat langsung menvonis kaum muda bersalah, melainkan harus dianalisis lebih jauh bahwa kehidupan sekarang selalu menuntut lebih dari kaum muda ditambah dengan jiwa eksplorasi yang tinggi dimiliki mereka. Contohnya adalah mudahnya kaum muda mengikuti gaya hidup Barat yang serba terbuka dan bebas dan terjerumusnya kaum muda kita dalam pergaulan yang bebas berlebihan. Karena mudahnya kaum muda mengikuti gaya hidup demikian, apakah pantas anak muda dengan mudah disalahkan?

Muda yang Merdeka?

Melihat semua fenomena yang ada ini, bangsa kita, khususnya kaum muda yang mudah menyerap suatu hal, harus bertanya diri, apakah kita sungguh sudah merdeka? Jika dulu kita dijajah oleh bangsa lain secara fisik, maka pada saat ini yang bertarung dalam konteks kehidupan global adalah ide, keyakinan, paham,”-isme”. Secara fisik bangsa Indonesia tidak lagi dan sangat tidak mengingini penjajahan secara fisik, tetapi bagaimana dengan penjajahan dalam tataran ide. Bukankah dengan berubahnya ide bisa merubah banyak hal dalam kehidupan? Jika dalam tataran ide orang berpikir bahwa gaya Barat yang serba terbuka dan bebas lebih baik dari gaya Timur yang tertutup dan sopan, maka dalam keseharian orang tersebut akan berlaku, bertindak, bergaya, dan berkata-kata sebisa mungkin terbuka dan bebas. Keadaan ini menjadi semacam penjajahan yang diterima baik –dulu namanya penjajahan selalu ditolah- karena keyakinan diri sendiri dan masyarakatnya dilupakan/ditiadakan untuk diganti dengan keyakinan lain yang dianggap sebagai lebih baik.

Mengingat tuntutan global yang mengharuskan anak muda terus eksis dengan menyerap apa yang menjadi tren global, walau seringkali mengorbankan adat dan kebiasaannya, mereka pun sangat sulit untuk disalahkan. Generasi tua pun demikian sangat sulit disalahkan karena tidak mungkin mereka benar penuh, sebab generasi tua pun punya intervensi dalam kepunahan budaya lokal ini jika dilihat dari regenerasi atau pewarisan yang tidak mengikuti perkembangan. Kaum muda mudah berubah bukan berarti gaya kehidupan lokal akan mati, tetapi harus dilihat sebagai peluang untuk semakin menunjukkan kepada dunia tentang apa yang kita miliki. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya dipenuhi dengan label dari luar negeri tetapi orang luar pun perlu mendapat label dari generasi muda bangsa ini. Akhirnya, adanya perbedaan itu memberi warna kehidupan, dan ketika ada dua budaya, kebiasaan, atau paham, tampak berlawanan satu dengan yang lain sebenarnya membentuk keseimbangan kepada kehidupan. Warna dan keseimbangan itu jangan sampai dipincangkan oleh kaum muda dengan lebih memilih yang dari luar dan melupakan apa yang menjadi warisan sendiri yang harus juga diwariskan ke generasi berikutnya.

Oleh: Fransiskus Saverianus Jehatu