Opini: DPR yang Mahakuasa

0
28

Kabarnusantara.net – Di suatu kesempatan matahari kembali berjumpa Ibu Pertiwi, nampak sekelompok orang berkulit sawo matang terlihat wajahnya mengkerut. Antara nyinyir dan tak kuasa menerima kenyataan. Betapa tidak, wakil kepercayaan mereka di singgasana Senayan, sedang menyiapkan tameng. Mereka sedang menyusun strategi anti kritik. Mereka menuntut hak imunitas agar kuat. Sementara mereka tak sadar bahwa merakalah pengawal demokrasi. Mereka lupa siapa tuannya demokrasi. Secara logika, tuannya demokrasilah yang semestinya mendapat hak imunitas.

Siapa itu tuannya demokrasi?

Itu “Rakyat”. Tapi sebuah kenyataan baru segera terjadi. Kenyataan pahit. Tak berfilosofi. Tak segala-galanya selain mengandung makna pelindung dari kritik.

Seorang tokoh di salah satu tayangan televisi swasta mengatakan bahwa “DPR saat ini adalah DPR terjelek sepanjang sejarah DPR”.

Sebagai sarjana muda yang kebetulan mendalami Ilmu Politik sebagai jurusan, sangatlah setuju dengan kalimat itu. Kenyataan yang ada memang sangat memprihatinkan. Anggota DPR yang duduk di rumah rakyat yang beratap layaknya rambut terbelah dua itu, bertindak semaunya. Mereka membentuk pasal dalam UU MD3 yang menjadikan mereka kebal kritik. Ujung-ujungnya pasti kebal hukum.

Salah satu yang disoroti adalah pasal 245 yang mengatur bahwa pemanggilan anggota DPR terkait tindak pidana harus mendapatkan persetujuan tertulis dari presiden. Menurut Sebastian, (dalam CNN Indonesia), revisi pasal ini sengaja dibuat sebagai upaya menghindari panggilan dari aparat penegak hukum.

Betapa gawatnya negeri ini. Lembaga perwakilan rakyat durhaka. Unsur penting demokrasi berkhianat. Tak tahu malu. Hal ini tidak kalah ngeri dibandingkan dengan penghadangan Gubernur tuan rumah pada Piala Presiden kemarin.

Saya kira, masyarakat harus segera sadar bahwa kita dikhianati. Musim hujan negeri ini serasa musim panas. Otak memanas, hati mendidih sedih melihatnya. Bahkan kalau dicermati lagi, DPR sedang menuju puncak kekuatan kekuasaannya. Padahal itu tidak sesuai. Mereka merebut kekuasaan yang bukan miliknya. Mereka segera Maha Kuasa. Kalau begitu Tuhan-pun ingin mereka saingi.

Saya tebak, jangan-jangan musim hujan ini air mata tangisan matahari tadi yang bertemu dengan Ibu Pertiwi serta kelompok sawo matang yang sedang mengkerut itu. (KbN)

Oleh: Muqaddim

Penulis adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (HIMAJIP) Universitas Nasional.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here