Merawat “Kejadian” dan Mengaktifkan Generasi

Ernesto Lalong Teredi, Penggiat Filsafat pada Komunitas URDOXA, Jogja
Bagikan

Oleh: Ernesto Lalong Teredi

Kabarnusantara.net – Akhir pekan 21 Mei 1998, Indonesia membuat sejarah. Imajinasi kita masih tersimpan dalam satu partisi khusus dalam memory tentang kejadian 1998. Hari itu menjadi sebuah moment menuju “kejadian”. Bukan hanya sekedar onani untuk menjatuhkan sang dictator (Soeharto). Tetapi moment itu dapat dibaca: bahwa generasi bangsa selalu aktif dalam ruang public.

Keaktifan itu menjadi pembuka hasrat generasi untuk selalu rangsang dalam ruang public. Ikut merangsang untuk selalu terlibat dalam segala moment. Apalagi jika moment itu menjadi sebuah kejadian. Itulah keaktifan generasi, yakni melibatkan langsung pada moment carut-marutnya negara yang dipimpin para actor yang mati rasa dan hanya menikmati kerangsangan generasi pada puncak orgasmenya.

21 Mei 1998 hanya menjadi kalimat sejarah! Oleh karena itu dia di ingat dan dikenang. Selebihnya dia menjadi dalil hidupnya mahasiswa. Berteriak tanpa alasanpun, 21 Mei 1998 menjadi dalil. Artinya kejadian hanya berlaku pada waktunya. Selebihnya dikenang dan itu tidak lagi kejadian.
Kejadian adalah peristiwa, jika kita mengingatnya bukan kejadian.

Generasi Milenial

Generasi milenial selalu mengkonstruksikan pemikiran, untuk aktif dalam ruang public dengan 21 Mei-lah dasarnya. Inilah generasi sekarang. Generasi yang mengingatkan sebuah kejadian. Tanpa membuat sebuah kejadian.

Ditengah kebebasan yang ada, kejadianpun sering terjadi. Tapi itu menjadi kejadian-kejadian yang ganda. Bukan kejadian tunggal.

Ungkapan mengenai generasi hedonis merupakan sindiran yang keras sesungguhnya. Seharusnya ungkapan ini menjadi titik berangkat bagi generasi milenial untuk membentukan kembali diri yang memiliki keretakan. Untuk selalu menghargai proses demi mengaktifkan diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Membaca sejarah terkait generasi, negara ini sangat banyak memiliki kekayaan dalam membuat sebuah kejadian. Kita masih mengingat dalam merawat sejarah terkait sumpah pemudah. Budi Utomo dkk, sudah membuat kejadian. Kita juga selalu mengingat tentang Soekarno yang dengan gaya retoris setiap berpidato. Itulah kejadian. Kita juga mengingat dengan Tan Malaka yang selalu menciptakan kejadian. Memang setiap masa punya ceritanya.

Tetapi yang harus diteruskan adalah bukan melanjutkan kejadian, melainkan membuat kejadian. Kejadian yang menjadi mainstream hari ini adalah seorang pemuda kaya raya karena dia bekerja dengan tekun. Sementara disisinya masih duduk pengemis! Itu sebenarnya bukan kejadian tetapi itu kesaksian. Selebihnya itu kesakitan!

Kejadian adalah mampu menggetarkan massa. Seperti kata Che Guevara, “jika hati mu merasa gemetar ketika melihat rakyat yang korban. Maka, kau adalah kawanku!

Demokrasi adalah ruang kosong atau empty signifier dalam bahasa Laclau. Untuk itu kejadian tidak boleh di ulang, tetapi harus memberi keterbaruan dalam ruang kosong tersebut. Tak perlu konstruksi dan rekonstruksi untuk memaknai diri dalam ruang kosong tersebut. Jadi, generasi dituntut untuk memberi pemaknaan yang selalu baru dalam ruang demokrasi tersebut, pemaknaan itu menjadi “kejadian”.

Membangun Nalar

Demokrasi tak butuh narisistik, tak butuh banyak omong sampai busa mulut. Demokrasi butuh pikiran yang radikal, yang harus menolak soal totalitas ide dan kebenaran. Mengaktifkan generasi harus dimulai dengan membangun nalar. Artinya nalar sebagai hukum pertama untuk berpikir radikal.

Generasi milenial termasuk saya, merupakan generasi yang sebenarnya “mudah”. Sebab, dengan teknologi dan informasi, seluruh kejahatan dapat di lacak dengan mudah. Tapi ingat, melacak kejahatan itu tidak dengan prespektif narsistik dan hedonism. Kejahatan itu hanya bisa terlacak jika keluar dari aliran teks mainstream. Tapi, apa boleh buat, jika “kemudahan” itu tanpa nalar.

Menjadi generasi milenila harus memiliki rasa malu dengan generasi sebelumnya. Ingat, Budi Oetomo dengan perjuangan hakiki mengkonsilidasikan pemuda Indonesia. Ingat, soekarno dengan kegalakan idenya menyampaikan pidato yang meluluh lantakan para penjajah. Dan masih banyak kisah generasi sebelumnya yang sangat radikal.

Menjadi generasi milenial memang serba ambivalensi. Disatu sisi harus terlibat dalam carut-marutnya politik. Di sisi lain generasi milenial juga sudah terkontaminasi gaya kehidupan yang sangat modern, sehingga moment ini yang sering dinamakan hegemoni modern terhadap generasi sekarang.

Membangun nalar berarti menjadi subjek yang radikal. Menjadi subjek yang radikal berarti siap mengaktifkan diri dalam ruang demokrasi. Mengaktifkan diri berarti siap menghadirkan makna baru. Menghadirkan makna baru berarti siap membuat kejadian.

Kejadian seperti apa?
Pertama, jika ruang demokrasi sebagai ruang kosong, maka generasi harus mampu mengartikulasikan identitas dengan berbagai bentuk, untuk hadir membuat kejadian. Kedua, jika kejadian ini mulai dibentuk dan di proklamirkan sebagai sebuah kejadian. Maka, disitulah generasi memperjuangkan secara terus menerus apa yang menjadi “kerusakan realitas social” harus di bawah dalam ruang kosong tersebut.

Mengaktifkan generasi. Berarti, siap menarik jauh dari domain mainstream dan kekuasaan, untuk selalu menetralkan segala realitas yang terjadi. Dari posisi netral ini lahirlah keaktifan itu untuk mengangkat realitas itu dalam ruang demokrasi itu sendiri. Pada saat realitas itu masuk dalam ruang demokrasi, maka disitulah keaktifan generasi dalam perbedaan (difference).

Ruang kosong mengajak kita untuk hidup dan mengaktifkan pikiran, hati dan mata. Public masih menunggu soal keaktifan generasi dalam membuat kejadian. Jika kejadian adalah peristiwa cinta dan kasih. Maka, kejadian akan selalu ada dalam ruang kosong tersebut.

Penulis Adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”, Yogyakarta

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password