breaking news New

Semangat di Tepi Zaman

Bagikan

OLEH : SERVAS JEMORANG

Di zaman serba sibuk, arti sebuah waktu kian mahal. Di zaman serba baru, pilihan-pilihan lama beranjak pergi. Tentang dunia milenial, yang manual tak selalu layak ditepikan.

Sesekali wajahnya mendongak, ceraikan pandangan dengan koran Pos Kupang di tangan. Melenggok ke kiri dan kanan, mencari keberadaan mobil angkutan trayek Ruteng-Narang yang akan ditumpangi. Sembari menunggu mobil tiba, Bapak tua itu membeli selembar koran dan lalu membacanya di ruang tunggu terminal Mena, Ruteng, Kabupaten Mangggarai (Selasa 28/11/2017).

Hati ini terperanjat, seakan menemukan barang penting yang telah lama lenyap dari kehidupan. Saya berusaha mendekat, sekedar cari tahu motivasi beliau. Sampai sejengkal waktu harus diisi dengan kegiatan membaca. Di tempat yang kurang bersahabat, ia masih sanggup bersahabat dengan bacaan. Gaya atau kebiasaan membaca yang langka, dan mungkin terlihat aneh hari ini.

Namun kaki ini terasa berat memulai langkah, aku kurang tega jika menjadi tamu yang akan diabaikan nantinya. Enggan menjadi pencuri waktu yang merusak keseriusan. Sebab ia lelaki yang sangat mencintai waktu.

Lingkungan ini memang tak akan mencintai makhluk yang ingin membaca. Suara kendaraan liar, musik tak beraturan membayang di setiap telinga. Mengundang jenuh bagi para penunggu angkutan.

Postur tubuh yang agak membungkuk, mengisyaratkan usia yang kian usai. Mata rabun yang tak lagi sanggup mengintip barisan kalimat dengan jelas, sehingga diambilah kaca mata dari dalam tas ungu di sisi kirinya. Meski begitu, kaca mata yang gagap menerjemahkan teks di kejauhan mengharuskan wajahnya merapat lebih dekat ke koran.

Ketika mulai membaca, kerut di dahinya tumbuh satu per satu, menjelaskan sesuatu kesulitan. Makna di setiap kata yang pelit untuk dipahami secara mudah, butuh pembacaan yang pelan tetapi pasti. Suara-suara liar di sekitar kini gagal merebut kenyamanan dari padanya. Saya jadi tambah canggung untuk mendekat, sebab ia kelihatan serius dan tak mau peduli dengan yang lain.

Jujur, saya merasakan sesuatu yang lain disini. Sesuatu yang memulangkan kenangan saya pada beberapa tahun silam. Yang belakangan pergi jauh dari kebiasaan aktivitas kebanyakan orang. Ia telah meremajakan semangat zaman yang kian hanyut. Saya menemukan semangat masa lalu yang tak bisa dibuang oleh si bapak tua. Dipungutnya dari antara kesibukan dan hura-hura orang-orang zaman sekarang.

Makanya saya sangat tertarik untuk membumikan kembali kisahnya. Menyegarkan kembali. Dalam keadaan mabuk teknologi, kadang membaca menjadi terasing. Bukan lagi pilihan aktivitas yang menarik. Tidak heran ketika diantara para pengunjung yang masing-masing memegang gadget, kegiatan si Bapak tua tampak berbanding terbalik.

Situasi Perpustakaan Daerah Kabupaten Manggarai, 16 Juni 2017.

Kalau dikaitkan dengan sebuah peristiwa lain, pertengahan Juni lalu saya mengunjungi perpustakaan daerah Manggarai. Kudapatkan situasi yang sepi tanpa suara sebagaimana biasanya. Tampak dua orang perempuan yang sibuk mengetik dan seorang laki-laki paruh baya yang serius membaca. Hanya mereka bertiga yang ada. Sementara kursi dan meja-meja kosong masih tertata beraturan. Buku-buku di rak dan lorong-lorong pun hanya dihuni sepi tanpa sentuhan tangan manusia. Tempat ini memang merasakan kehilangan yang entah kemana. Pembaca-pembaca dulu tak lagi sibuk bersahabat dengannya.

Membaca di tempat yang tak bersahabat, namun penuh penghayatan. Sementara rumah baca yang kondusif, justru kehilangan sahabat. Usia senja si bapa tua ternyata tidak diikuti semangat yang mengeropos. Ia menampakkan semangat zaman dulu, mendobrak persepsi orang tentang kecenderungan dunia teknologi. Menyindir para pemuda yang hanya jantan di hadapan teknologi, namun pecundang di hadapan bacaan-bacaan manual.

Situasi langka tersebut menyegarkan ingatan saya akan sebuah ungkapan “Long Life Education”, belajar tanpa kenal usia. Mungkin si bapa tua terlanjur jatuh hati dengan ungkapan ini, hingga situasi dan zaman tak dihiraukannya lagi. Kita mesti membaca dan membaca terus tanpa disekati oleh apa pun. Ia seakan memanggil kembali prisnsip ini sebagai pedoman hidup bagi yang lain.

Bunyi klakson mobil angkutan di hadapannya mengagetkan. Membangun dirinya dari keseriusan. Si bapa tua bergegas naik, lalu mobil berjalan tinggalkan terminal Mena. Tinggalkan sesuatu yang aneh bagi yang menyadari betul akan kondisi zaman sekarang.

Aku bergumam sebentar. Sungguh beliau memaksa saya untuk menafsir pandangan sederhana dan singkat tadi dengan amat dalam. Segores luka batin menyaat hati. Ia membunuh kesimpulan saya tentang kegiatan membaca. Yang merupakan kegiatan miliknya situasi yang tenang dan waktu khusus. Semangat membaca ditepi zaman mesti disegarkan kembali.

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Bahasa Indonesia, STKIP St. Paulus Ruteng dan sekarang menjabat sebagai Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Ruteng.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password