breaking news New

Quo Vadis PMKRI ?

Bagikan

Oleh: Tomson Sabungan Silalahi

Quo Vadis adalah kalimat Latin yang sudah sering kita dengar bersama, secara harafiah artinya adalah “Ke mana Engkau pergi?” Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan bagian apokrif Kisah Petrus: “Tuhan, ke mana Engkau pergi?” Kalimat tersebut merupakan ungkapan Kristiani yang menurut Tradisi Gereja dilontarkan pada Yesus Kristus oleh Santo Petrus yang saat itu bertemu dengan Yesus dalam perjalanan hendak melarikan diri dari misinya yang berisiko disalibkan di Roma. Jawaban Yesus yang mengatakan, “Aku hendak kembali ke Roma untuk disalibkan kembali”(Eo Romam iterum crucifigi) membuat Petrus menyadari panggilannya dan ia pun berbalik kembali ke Roma; kemudian ia disalibkan secara terbalik dan menjadi martir di sana.

DPC PMKRI Cabang Jakarta Pusat beberapa minggu yang lalu memilih tema debat kandidat Ketua Presidium PP PMKRI , Quo Vadis PMKRI ? Penulis menduga, agaknya mereka melihat PMKRI yang seperti Petrus “hendak melarikan diri dari misinya yang berisiko disalibkan di Roma”, PMKRI tidak lagi menjalankan misinya yang adalah “Berjuang dengan terlibat dan berpihak pada kaum tertindas melalui kaderisasi intelektual populis yang dijiwai nilai-nilai kekatolikan untuk mewujudkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati”, sehingga visi-nya yakni “Terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati” semakin jauh dari cita-cita perjuangan PMKRI.

Ada 4 (empat) kata kerja pada misi PMKRI yakni; berjuang, terlibat, berpihak, dan mewujudkan. Sedangkan ada kata kaderisasi yang menerangkan adanya proses pembentukan kader (yang berintelektual populis dan kata dijiwai yang menerangkan bahwa setiap perjuangan, keterlibatan, dan keberpihakan itu mestinya diilhami oleh nilai-nilai seperti yang disebutkan pada misi PMKRI.

Pertanyaannya, benarkah PMKRI saat ini tidak lagi menjalankan misinya itu?  Masihkah PMKRI berjuang untuk kaum tertindas? Sejauh mana keterlibatan PMKRI membela hak kaum tertindas? Masihkah PMKRI berpihak bagi kaum tertindas? Selanjutnya, masih adakah proses kaderisasi yang membentuk kader PMKRI agar menjadi kader yang berintelektual populis? Masihkah kader-kader PMKRI masih menjiwai nilai-nilai kekatolikan? Masih adakah keinginan PMKRI untuk mewujudkan visinya sendiri?

Jawaban dari setiap pertanyaan di muka bisa saja berbeda dari seorang ke orang yang lain. Lagi-lagi dituntut jawaban yang jujur.

Pada beberapa kali Kongres dan MPA belakangan ini, panitia selalu meminta pandangan (umum) cabang tentang implementasi nilai-nilai (fraternitas, kristianitas, dan intelektualitas) dan relevansinya dalam situasi PMKRI di masa kini. Dari pandangan-pandangan yang membahas hal itu, mengungkapkan bahwa memang tengah terjadi degradasi nilai-nilai itu hingga perlu menginternalisasikannya kembali. Gambaran ini mengafirmasi bahwa memang benarlah dugaan penulis atas penglihatan DPC PMKRI Cabang Jakarta Pusat bahwa PMKRI sedang ingin melarikan diri dari misinya.

Untunglah masih ada kader-kader yang mampu melihat “dirinya” secara jujur. Tema “Quo Vadis PMKRI?” ingin mengajak keluarga besar perhimpunan untuk berefleksi dalam usaha melihat dirinya (PMKRI) sendiri secara jujur.

Masih teringat dengan tema dalam acara pelantikan DPC PMKRI Jakarta Pusat yang terakhir, yakni “kembali melihat ke dalam.” Walau dalam frasa yang berbeda kedua tema (Quo Vadis PMKRI? dan Kembali melihat ke dalam) itu memiliki rasa yang sama. Tema-tema ini mengjak kita untuk mundur sebentar agar bisa maju seribu langkah.Seperti atlit lompat jauh, dia harus mundur dulu dan berlari sekuat tenaga untuk mendapatkan lompatan yang jauh dari garis awal, 0 meter. Mundur membuat kita mampuberpikir dan memikirkan cara-cara baru yang lebih efektif daripada terus maju tapi dengan membawa cara-cara kuno yang tidak relevan lagi atau malah latah mengikuti arus zaman tanpa memikirkan dampaknya.

Menyadari (atau mengakui dengan jujur) bahwa telah terjadi degradasi akan implementasi nilai-nilai PMKRI akan membawa kita pada usaha perbaikan demi masa depan PMKRI terutama demi terwujudnya keadilan sosial, kemanusiaan, dan persaudaraan sejati karena kita tidak lagi memilih menghindar dari risiko disalib.

Kongres dan MPA sudah di depan mata. Dengan berbagi pengalaman sesama kader PMKRI dari berbagai cabang yang berbeda hendaknya bisa saling memperkaya. MPA yang selalu mengajak perhimpunan untuk berubah sesuai tuntutan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai PMKRI kiranya boleh dimanfaatkan dengan baik untuk bertukar ide dan gagasan demi terwujudnya semua cita-cita perhimpunan. Tahun ini, tema revitalisasi transformasi organisasi yang sudah lama ditinggalkan hendak ditilik lagi.

Dalam buku loknas TO yang dikeluarkan PP PMKRI Periode 2002-2004 dimuat banyak refleksi-refleksi akan arah dan gerak PMKRI pada zaman itu. Pada saat ini pun, PP PMKRI karena memandang perlunya transformasi organisasi maka pada MPA yang akan datang semua kader PMKRI diajak untuk melihat lagi lebih jujur PMKRI dan diharahkan boleh memberikan ide dan gagasan yang solutif untuk membawa PMKRI lebih baik lagi ke depan.

Harapan tentu selalu ada, penulis masih yakin, masih banyak kader-kader PMKRI yang mau seperti Petrus, kembali ke Roma dan tidak menghindar lagi dari risiko disalib karena misi yang diemban. Untuk menguatkan para kader dalam mengemban salib itu, semoga pada perhelatan akbar yang akan kita laksanakan di Palembang nanti, kita, semua peserta Kongres dan MPA diberi kesempatan dan mampu bertemu dengan Yesus sang gembala.

 

*Penulis adalah Presidium Hubungan Luar Negeri PP PMKRI Periode 2016-2018

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password