Beranda Editorial Pemanasan Global dan Manusia

Pemanasan Global dan Manusia

0

Kabarnusantara.net – Beberapa dekade terakhir, manusia digegerkan dengan salah satu fakta yang menggelisahkan seluruh umat manusia, yakni pemanasan global. Pemanasan global merupakan keadaan naiknya suhu rata-rata permukaan bumi. Pemanasan global menyebabkan berbagai permasalahan di dunia, misalnya saja, sebagaimana yang sering dirasakan pada saat ini, yakni cuaca ekstrim dan adanya perubahan iklim. Cuaca ekstrim sudah terjadi di banyak tempat dalam bentuk puting beliung dan kekeringan di satu tempat tetapi banjir di tempat lain karena curah hujan yang tinggi. Sedangkan perubahan iklim dapat kita ketahui jika kita tanyakan kepada para petani, bagaimana dengan iklim yang dirasakan oleh mereka pada saat ini. Pasti mereka akan mengatakan bahwa musim sekarang tidak lagi sama seperti dulu dan sulit ditebak. Akibat lain yang perlu diperhatikan adalah efek lanjut karena mencairnya es di daerah kutub yang dapat menyebabkan banyak pulau kecil di dunia terancam tenggelam, termasuk beberapa pulau kecil di nusantara.

Adakah ini alarm dari alam bahwa akan ada suatu bahaya yang lebih besar terjadi?

Bisa saja! Bahaya paling besarnya, yang merupakan konsekuensi yang melingkupi seluruh dunia, adalah bencana-bencana alam yang mahadhasyat, yang dapat menjadikan bumi menjadi seperti neraka bagi manusia. Manusia terancam kehilangan eksisteninya di dunia, manusia bisa saja punah. Bukankah ini masalah yang sangat serius?

Ancaman karena pemanasan global di atas tidak terlalu diindahkan oleh manusia. Manusia justru lebih mementingkan kepentingannya daripada harus memelihara alam. Justru karena demi kepentingan manusia ini, alam menjadi semakin rusak. Alam yang rusak pun menjadi buas dan tidak ramah terhadap manusia yang tampak dalam pemanasan global itu sendiri dan berbagai bencana alam lainnya.

Masalah Dunia dan Tanggungjawab Semua

Lalu, Di manakah akar permasalahan pemanasan global? Diketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat naiknya gas-gas rumah kaca, yang mencakup karbondioksida (CO2), metana (NH4), klorofluorokarbon (CFC), dan lainnya. Dari antara gas-gas tersebut, karbondioksida merupakan penyumbang terbesar pemanasan global karena volumenya yang begitu tinggi di atmosfer bumi. Gas-gas itu bersifat seperti rumah kaca (yang biasanya dimiliki oleh para petani dan dijadikan ‘rumah’ khusus untuk bertani) yang bersifat memerangkap panas, sehinga suhu di dalam ruangan rumah kaca itu menjadi terjaga dan cocok bagi tanaman. Demikian juga dengan sifat gas itu di atmosfer bumi, memerangkap panas sehingga bumi semakin lama menjadi semakin panas. Pemanasan global pun terjadi melalui akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Bumi sekarang ini sedang mengalami masa kritis karena pemanasan itu, tetapi manusia tidak menanggapinya. Memang sangat sulit untuk menanggapi fakta ini orang-perorangan karena fakta ini bersifat global. Itulah sebabnya, dibutuhkan kerjasama internasional untuk dapat mengatasinya. Meskipun demikian, bukan berarti setiap orang bisa berlipat tangan menunggu mukjizat untuk dapat mengatasi permasalahan ini. Setiap orang perlu mengusahakan yang terbaik untuk mengatasi permasalahan ini.

Alam yang ‘Tertimpa Tangga’

Ada hal yang lebih memilukan, bahwa masih ada orang yang merasa manusia tidak bersalah atas masalah pemanasan global ini. Lebih memilukan lagi, ada orang yang mengatakan bahwa pemanasan global itu terjadi karena alam sendiri; itu alamiah, sama saja dengan mengatakan alam dalam waktu tertentu akan merusakkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa alam merusakkan eksistensi atau keberadaannya sendiri? Pertanyaan ini bukan untuk dijawab, tetapi untuk membuat manusia merefleksikan keberadaannya di dunia ini. Alam telah rusak, dan manusia masih belum berani untuk mengakui dirinya sebagai penyebab pemanasan global. Padahal, bahaya sudah dirasakan dan orang masih tidak peduli dengan bahaya akibat pemanasan global tersebut.

Apa yang berada di dunia berusaha untuk mempertahankan keberadaanya itu. Bumi pun demikian, tidak akan mau menghancurkan dirinya sendiri. Bumi akan mempertahankan keseimbangannya. Meski demikian, manusia yang justru salah mengarahkan usahanya untuk mempertahankan keberadaannya di dunia. Dia menguasai alam sekehendak hatinya. Asalkan keberadanya terlindungi, manusia berbuat sebisa mungkin untuk menggunakan alam semaksimal mungkin pula. Alam dieksploitasi sehabis-habisnya. Pertimbangan kerusakan alam merupakan proses kesekian setelah pertimbangan untung rugi. Bahkan, pertimbangan kerusakan alam dihapus dan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) hanya coretan tidak berfakta alias asal jadi dan memenuhi tuntutan aturan belaka.

Ironi, orang masih mau menyalahkan alam atas pemanasan global yang terjadi. Padahal, kenyataan di mana-mana sudah menunjukkan bahwa pemanasan global diakibatkan oleh manusia. Fakta ini bisa dilihat dari bagaimana hutan digunduli demi keuntungan para kapitalis dan bagaimana para kapitalis itu menguras alam dan hanya meninggalkan tanah gersang di dunia. Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka berani membayar para ahli untuk membuat karya manipulatif bahwa pemanasan global itu tidak terjadi akibat perbuatan manusia.

Jika seseorang masih mau menyalahkan alam sebagai penyebab (alamiah) peningkatan masalah pemanasan global, sebenarnya dia sedang membuat manusia semakin angkuh atas alam dan membuat alam dirugikan berkali-kali. Sudah alam sedang menderita karena berbagai kerusakan, manusia justru menyalahkannya. (***)

Fransiskus S. Jehatu, Editor Kabarnusantara.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here