Pendidikan Itu Jalan Menuju Pembebasan

0
155

Oleh : Fernandes Nato


Kabarnusantara.net – Saat kampanye di Flotim, BKH berjanji untuk memberikan gajinya kepada siswa yang cerdas namun tidak mampu. Janji tersebut bukannya mendatangkan pujian. Yang datang malah cibiran dan hujatan.

BKH dinilai memberikan ‘janji manis’ yang sulit terealisasi. Janjinya dianggap sama dengan janji politisi pada umumnya yang kaya janji, miskin aksi. Kira-kira begitu anggapan warganet.

Semua keraguan warganet ini berangkat dari pengalaman di masa lalu itu. Bahwa ada banyak politisi yang doyan umbar janji. Mereka tahu janjinya tidak bisa ditepati, tetapi harus diungkapkan. Demi mendapatkan jabatan.

Perilaku-perilaku politisi ini diingatkan kembali oleh warganet. Ini baik. Tetapi kita juga harus jujur bahwa apa yang diingatkan oleh warganet mengandung harapan. Harapan yang naif. Yaitu akan ada lebih banyak orang mengalami kondisi psikologis yang sama. Tidak percaya dengan janji manis politisi.

Kenyataan itu tidak kita abaikan. Faktanya memang demikan. Banyak politisi yang tidak setia pada janjinya. Mereka mengabdi pada jabatan. Janji untuk masyarakat menjadi masa lalu. Lupa.

Namun masyarakat perlu mencatat. Bahwa janji mengandaikan jabatan, kapasitas dan kepribadian si pembuat janji. Janji dari pihak yang tidak sesuai dengan jabatan, hasilnya malas mendengar. Dia akan bicara, saya akan omong lagi yaaaa. Janji dari pihak yang tidak memiliki kapasitas, hasilnya dahi berkerut. Dia akan omong, saya akan pikir kembali. Dan janji dengan orang yang memiliki kepribadian yang kurang baik, hasilnya menelan pil pahit. Sakit.

Namun janji beasiswa dari BKH adalah janji dari seorang politisi yang “tahu diri”. Dia akan menjadi gubernur (jabatan), dia mampu secara intelektual (kapasitas) dan memiliki kepribadian yang baik (integritas).

Janjinya berangkat dari kerinduan akan generasi muda NTT yang bisa mencintai pendidikan, sebagaimana dirinya dan keluarga. Ia pun mau mengorbankan apa yang menjadi haknya untuk orang lain.

Tetapi mengapa BKH mau melakukan itu? Mimpinya sederhana. Banyak anak NTT akan mengalami kebaikan serupa dengan dirinya. Bagi BKH, cara yang tepat untuk membawa NTT keluar dari berbagai predikat negatif selama ini adalah pendidikan.

Awalnya, saya tidak tahu persis, siapa tokoh dibalik mimpi besar BKH ini. Tetapi setelah mendalami pemikirannya, saya tahu. BKH sejalan dengan pemikiran Paulo Freire, sang penggiat dan teoritikus pendidikan asal Brazil.

Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan adalah sebuah metode dialogis-kritis yang mengikutsertakan kaum tertindas dalam upaya penyadaran realitas diri dan dunia untuk mencapai tujuan mulia. Yaitu pembebasan dan memanusiakan manusia.

Saat ini, NTT bukan ketiadaan orang cerdas. Ada banyak orang cerdas. Tetapi mereka dibelenggu oleh kemiskinan. Kemiskinanlah yang membuat mereka tidak bisa menikmati pendidikan. Pedih.

Sadar akan realitas tersebut, BKH dengan penuh keyakinan untuk membawa NTT keluar dari keterbelakangan di bidang pendidikan. Ia memulai dari dirinya sendiri.Gubernur. Gajinya direlakan untuk membiayai pendidikan anak-anak tidak mampu tapi berprestasi.

Ia mau memberi dirinya menjadi garam dan terang bagi sesama. Ia mau membongkar belenggu-belenggu yang membuat pendidikan di NTT terus mengalami kemunduran. Ia memulai gerakan pembebasan itu.

Bagi saya, ini menarik. Dia tidak menjanjikan sesuatu yang wooww… Dia menjanjikan hal yang realistis. Kecil tapi berdampak besar. Itu satu hal. Tetapi hal lain yang tidak dikatakan di sini adalah semoga mimpi BKH ini juga menjadi mimpi banyak penguasa di NTT. Gaji jabatan untuk anak-anak tidak mampu dan berprestasi.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here