breaking news New

FMU PGRI NTT Kecam Hendrikus Djawa

Koordinator Forum Mahasiswa Universitas (FMU) PGRI NTT Petrus Tansius Dedy. ( Foto: ist)
Bagikan

Jakarta, Kabarnusantara.net – Pasca dualisme yang terjadi di Universitas PGRI NTT antara versi Sulaiman Radja vs Semuael Haning, Kementrian Riset dan Teknologi Perguruan Tinggi kemudian mencabut izin Universitas PGRI NTT pada tanggal 31 Mei 2017.

KEMENRISTEK DIKTI, melalui SK 288 memberikan izin baru kepada kedua belah pihak bertikai untuk mendirikan kampusnya masing-masing.

Tak berhenti sampai disitu, polemik PGRI NTT kian rumit. Bagaimana tidak, paska dikeluarkan SK 208 tentang pencabutan Ijin Operasional, munculah Lembaga Pemantau Pengawas Trias Politika (LP2TRI) yang mengaku mendapat amanah dari salah satu pendiri PGRI NTT untuk menyelesaikan polemik di tubuh PGRI NTT.

Lembaga yang dipimpin oleh Hendrikus Djawa ini secara tiba-tiba mewisudahkan sejumlah mahasiswa eks Universitas PGRI NTT.

Bertempat di Hotel Aston kupang, Pada tanggal 14 Oktober 2017, LP2TRY mewisudakan 129 orang, dan 14 November 2017 sebanyak 66 orang.

Menanggapi polemik tersebut, Koordinator Forum Mahasiswa Universitas (FMU) PGRI NTT Petrus Tansius Dedy mengecam Hendrikus Djawa selaku Pimpinan LP2TRI.

“Kami mengecam Kehadiran LP2TRI yang dipimpin oleh Hendrikus Djawa di PGRI NTT karena telah meruncing dan menimbulkan persoalan baru ditubuh PGRI NTT”, Ujar Rino, Sapaan Petrus Tansius Dedi.

“Wisuda yang laksanakan oleh LP2TRY semakin memperkeruh suasana di PGRI NTT”, lanjut Rino

Rino melanjutkan bahwa elit-elit kampus PGRI telah menelantarkan dan memeras ribuan mahasiswa PGRI NTT.

“Elit-elit yang bertikai di kampus PGRI NTT telah mengorbankan kami sebagai mahasiswa dan nasib kami tidak terurus sama sekali.

Sampai berita ini diturunkan, Hendrikus Djawa belum dapat dihubungi untuk dimintai konfirmasi. (OWL/KbN)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password