breaking news New

Surat Terbuka Siswi NTT untuk Menteri Pendidikan Dikirimkan Dari Amerika

Firstly Erzsa Maharanny Sula (paling kiri depan)
Bagikan

Kabarnusantara.netAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, bapak Muhadjir Effendy yang terhormat.

Ini adalah surat terbuka sekaligus ungkapan isi hati dari saya dan anak-anak Nusa Tenggara Timur lainnya.

Pertama-tama ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Firstly Erzsa Maharanny Sula; saya seorang siswi NTT yang sekarang sedang mengikuti kegiatan pertukaran pelajar di Amerika Serikat.

Walaupun berada jauh dari Indonesia, namun saya masih mengikuti perkembangan situasi terkini di Indonesia. Pada tanggal 6 Desember 2017 malam waktu sini, saya membaca artikel tentang pernyataan bapak terhadap hasil Program For Internasional Student Assesment (PISA) yang menempatkan kualitas pendidikan Indonesia pada posisi paling buntut dari negara-negara lain.

Dikutip dari Jawa Pos, inilah pernyataan bapak

Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semuanya

Bapak Effendy yang terhormat, jujur ketika saya membaca artikel ini; air mata saya tidak berhenti mengalir. Ucapan bapak benar-benar menyayat hati saya sebagai seorang anak NTT. Saya percaya bukan hanya saya saja yang merasa sakit hati atas ucapan bapak.

Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin ucapan seperti ini keluar dari mulut seorang Menteri Pendidikan.

Saya tidak menyangkal bahwa pendidikan NTT tidak semaju daerah lainnya, khususnya Jawa, tapi apakah tepat menjadikan kami sebagai kambing hitam? Apakah kegagalan pendidikan Indonesia di kancah Internasional adalah kesalahan kami anak-anak NTT? Apa memang benar sampelnya anak NTT? Kalau memang benar, bukankah ini harusnya memacuh kementrian untuk memberikan perhatian bagi daerah seperti NTT?

Satu hal yang benar-benar perlu bapak tahu sebelum berkomentar, NTT TIDAK SAMA DENGAN JAWA!

Kami tidak punya fasilitas selengkap anak-anak di Jawa. Gedung sekolah kadang tidak memiliki kelas yang memadai seluruh siswa, sehingga sebagaian siswa harus bersekolah pada siang hari. Bapak, saya lahir dan besar di Rote Ndao, tanah Selatan Indonesia. Saya memang beruntung bisa mendapat pendidikan yang baik, tapi saya melihat secara langsung bagaimana adik-adik saya di kampung harus berjalan kaki ke sekolah. Mereka biasanya selalu membawa jerigen berisi air ke sekolah. Jarak yang jauh mereka tempuh; dengan bertelanjang kaki mereka berjalan membelah panasnya hari; mereka tidak di antar pakai mobil. Walau tubuh kecil mereka terbakar, semangat mereka untuk bersekolah jauh lebih membakar dari sang surya. Kadang ketika mereka lelah karena jarak, tempat peristirahatan mereka hanyalah pinggir jalan.

Ketika pulang sekolah, mereka tidak bisa santai. Banyak dari anak-anak daerah yang harus membantu orang tua mereka. Ada yang kerja semberawut, ada yang berjualan; semua ini mereka lakukan karena mereka tahu biaya tambahan sekolah tidak turun dari langit. Di Rote sering kali saya melihat anak-anak kecil sepulang sekolah langsung menggembalakan ternak. Ada yang masih mengenakan celana seragam mereka. NTT dikenal sebagai lumbung ternak; kami memasok daging bagi daerah-daerah di Jawa. Iya, daging yang bapak makan itu adalah hasil dari anak-anak gembala yang mengorbankan waktu belajar mereka. Ah mungkin saja bapak makan daging impor yah.

Bapak tahu tidak, di balik sebutan bodoh yang disematkan pada kami, ada perjuangan yang luar biasa. Pernah saya melihat postingan foto dari salah satu Pengajar Muda yang dulu di tempatkan di Rote. Ka Ryan mengunggah foto dua orang muridnya yang tersenyum bahagia. Usut punya usut, senyum mereka terukir karena rasa bahagia akhirnya bisa memakai sepatu ke sekolah. Mereka berdua bisa memakai sepatu ke sekolah karena kakak-kakak mereka baru saja lulus SD jadi sepatunya diberikan ke mereka. Bukan sepatu mahal pak, bukan merek terkenal yang harganya selangit; cuma sepatu bekas, tapi semangat mereka selalu baru.

Di tengah segala keterbatasan itu, mereka masih bersemangat sekolah. Dengan seragam lusuh dan sepatu bekas, mereka antusias menimba ilmu. Saat kementrian selalu repot mengurus tetek bengek sistem pendidikan, mulai dari full day school hingga UN essay, yang mereka pikirkan adalah apa hal baru yang akan mereka pelajari di sekolah.

Bapak Menteri, pagi ini saya membuka instagram dan saya menemukan story yang entah ditulis oleh siapa, tapi begini isinya

Yth Bapak Menteri, ketika hasil survei anda jadikan sebagai tolak ukur kinerja individu anda, atau mungkin sebagai tameng untuk menangkis sorotan publik tentang citra dunia pendidikan Indonesia, apalah daya saya dan mungkin sebagian besar orang NTT yang dididik untuk mengejar KUALITAS bukan KUANTITAS (hasil surveim indeks prestatsi, dll). Anda seharusnya bisa lebih berpikir secara holistik, bagaimana merestorasi pendidikan Indonesia secara umum, khususnya kami yang anda ‘cap’ sebagai biang kerok merosotnya peringkat pendidikan Indonesia di mata dunia. Oh iya, Pak pendidikan di NTT itu ‘keras’ pak. Anda beruntung sinyal 4G belum sampai ke pelosok-pelosok NTT pak. Setidaknya masih butuh beberapa hari lagilah baru cerita ini tersebar luas di sana. Bisa hancur hati papa-mama guru di pelosok-pelosok NTT kalau mereka membaca opini anda yang sedang viral ini. Pak, lebih bijaklah dalam beropini, anda public figure pak. #YouGotMyUnrespect

Memang benar, hati kami hancur pak; anda orang yang kami harap mampu memperbaiki pendidikan Indonesia, mempersempit lebarnya jurang fasilitas pendidikan di Jawa dan di NTT. Tapi kami malah mendapat kado pahit menjelang ulang tahun NTT.

Dengan tekat anak-anak NTT, saya percaya jika sarana dan prasarana pendidikan kami memadai seperti Jawa, tidak mustahil bagi kami untuk melampaui Jawa. Sayangnya semua fasilitas itu seakan-akan hanya milik Jawa. Guru saya bahkan melontarkan pertanyaan untuk bapak, apakah bapak ini Menteri Pendidikan untuk Indonesia atau untuk Jawa? Kalau kata kakaknya saya, Indonesia ini terlalu Jawa-sentris.

Mungkin di mata bapak, kami anak-anak NTT tidak pantas menjadi pemimpin bangsa ini. Mungkin kami memang anak tiri yang tidak sepantasnya bermimpi terlalu tinggi.

Bapak Effendy yang terhormat, sekali lagi saya ingin berkata, saya tidak menyangkal kalau pendidikan NTT tertinggal, tapi kami tertinggal bukan karena tidak punya tenaga untuk mengejar, namun bagaimana mau mengejar jika daerah lain pakai mobil atau motor sedangkan kami cuma jalan kaki?

Kami memang bodoh pak; pendidikan kami tidak setinggi bapak, tapi setidaknya kami tahu bagaimana menghargai perasaan dan usaha orang lain. Setidaknya di tengah kemiskinan, kami tidak duduk di pinggir jalan dan mengemis sedekah dari orang lain. Oh iya satu lagi pak, walaupun kami miskin dan bodoh, tapi kami tidak sebodoh orang-orang yang mudah tersulut isu SARA. Sekali-kali datanglah ke NTT pak, karena mungkin toleransi adalah satu-satunya yang mampu kami suguhkan kepada bapak.

Ah pak Menteri mungkin tidak salah berpendapat seperti itu. Kami yang salah karena kami bodoh, kami yang salah karena kami miskin, kami yang salah karena pembangunan di Indonesia tidak merata, kami yang salah karena fasilitas kami tidak memadai. Iya kami yang salah.

Memang ucapan bapak ini cambuk bagi kami. Karena itu saya ingin mengucapkan limpah terima kasih. Setidaknya karena ucapan bapak, saya di sini berpikir apa yang harus saya lakukan bagi NTT tercinta saya ketika saya pulang kembali ke tanah air tahun depan.

Sebelum saya lupa, saya mau sedikit mengingatkan bapak tentang berita doktor termuda di Indonesia yang sempat booming beberapa waktu lalu; itu putra NTT pak, iya itu putra dari provinsi yang bapak anggap tertinggal.

Sebenarnya saya tidak yakin surat saya akan bapak baca, tapi terima kasih pak. Setidaknya saya sudah mengungkapkan isi hati saya.

Salam dari anak NTT yang sedang berjuang di negeri orang. Tuhan memberkati pekerjaan bapak.

 

North Dakota, 6 -Desember 2017

Hormat saya

Firstly Erzsa Maharanny Sula

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password