Politik Mahal, Korupsi Semakin Marak

0
20

Kabarnusantara.net – Banyak permasalahan yang terjadi di dalam perpolitikan negeri ini. Ada masalah primordialisme, politik uang, upaya menjatuhkan dengan pemfitnaan, dan lain-lainnya. Salah satu permasalahan, yang sangat jarang disebutkan dan jarang dipermasalahkan adalah politik negara kita yang sangat mahal. Politik kita yang sangat mahal ini jarang sekali dilihat sebagai masalah, padahal dari sinilah tunas the extraordinary crime, yakni korupsi, mulai tumbuh. Untuk menjadi seorang kepala daerah, misalnya, seorang calon harus bersedia mengorbankan dana yang sangat besar, tidak hanya ratusan juta rupiah, bahkan sampai ratusan miliaran. Angka rupiah ini jika dialihkan untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM) mayoritas penduduk kita yang masih miskin, pasti sangat membantu. Bahkan angka ini termasuk angka yang fantastis.

Katakan saja, dana satu miliar sudah bisa membangun beberapa gedung sekolah. Ini baru dari salah seorang calon, belum dari calon lainnya. Kalau diakumulasi semua, setiap pilkada memakan biaya belasan atau bahkan dua puluhan miliar. Ini angka yang sangat fantastis untuk mayoritas penduduk Indonesia yang masih hidup susah secara ekonomis. Sayangnya, tuntutan politik yang mahal itu, sulit dihindari. Meski demikian, masalah ini bukan masalah utamanya. Masalah utamanya adalah politik kita yang mahal adalah akar sekaligus pupuk yang menjadikan korupsi di Indonesia sebagai sebuah budaya. Dari mahalnya politik menjadi maraknya korupsi.

Untuk dapat memenuhi jumlah yang sangat besar itu, seorang calon akan mengumpulkannya dari berbagai sumber dengan berbagai cara. Dia akan menerima siapa saja yang mau menjadi “donatur”nya dan juga berusaha melobi kepada siapa pun. Di balik itu semua, ada kesepakatan dan perjanjian yang mengikat kedua belah pihak. Lobi politik yang menghalalkan segala cara pun lahir dari kesepakatan seperti ini. Kesepakatan yang terjadi biasanya merupakan syarat, jika sang calon nanti memenangi pemilihan umumnya, maka sang terpilih harus dapat memilih para donatur untuk menjalankan proyek mereka, atau juga posisi di dalam pemerintahan.

Mahalnya perpolitikan kita ini membuat partisipasi demokrasi langsung warga negara, terasa semakin cacat. Yang terpilih terlilit politik balas budi. Masalah muncul ketika para penerima balas budi dari yang terpilih itu dilakukan setengah-setengah, proyek dijalankan dengan lebih banyak manipulasinya, jabatan yang diberikan tidak ditindaklanjuti secara profesional, dan lain-lainnya. Ujung-ujungnya, rakyat kecil dan miskin semakin tidak tampak dan semakin menderita akibat kemiskinan.

Mulai dari persiapan, atau masa “bakal calon”, menjadi “calon”, sampai menjadi “yang terpilih”, semua proses yang ditempuh dilakukan dengan biaya yang tidak kecil. Bukan masalah ekonomisnya yang penulis ingin tekankan di sini, melainkan efek lanjut dari tingginya nilai dana yang dibutuhkan oleh para politisi kita yang hendak menjadi orang nomor satu di dalam suatu daerah. Ketika terpilih nantinya, prinsip ‘the right man on the right place” tidak diindahkan demi balas budi. Korupsi semakin marak, kolusi yang tidak menguntungkan rakyat dan hanya menguntungkan kelompok, dan nepotisme yang buta terhadap keberagaman demi kehidupan kelompok dan golongan.

Sayangnya, rakyat kita justru lebih senang jika yang terpilih adalah orang yang bisa memberi mereka berapa lembar uang lima puluhan atau ratusan (money politic) atau yang menjanjikan pembangunan, walau pembangunan itu asal-asalan.

Bagaimana rakyat harus menanggapi permasalahan demikian?

Sebagai rakyat, yang perlu dilakukan adalah menjadi pemilih yang pintar, bukan asal pilih; menjadi pemilih yang kritis, bukan termakan bualan para calon; menjadi pemilih yang berhati nurani, bukan hanya ikut-ikutan; menjadi pemilih yang bijak, bukannya termakan godaan ‘uang’ dari para calon. Untuk itu, kita perlu mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang calon pemimpin itu; kemudian membandingkannya, dan pada saat pemilihan nanti yang dipilih adalah yang terbaik dari yang terbaik, bukannya yang terburuk dari yang terbaik atau hanya yang terbaik dari yang terburuk. (***)


Oleh: Fransiskus Jehatu, S. Fil


 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here