breaking news New

SBY dan Prabowo Diingatkan Tidak Terus Bodohi Rakyat

Bagikan

Jakarta, Kabarnusantara.net –Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Adrianus Garu meminta Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto agar tidak terus membodohi rakyat. Rakyat sudah mengetahui rekam jejak kedua ketum partai tersebut. Rakyat sudah tahu‎ mana pemimpin yang tulus bekerja untuk rakyat dan mana yang pandai berbicara untuk membodohi rakyat.

“Mereka hanya ketakutan tidak berkuasa. Setelah kekuasan pindah ke orang lain, mereka tidak siap,” kata Andre, sapaan akrab ‎Adrianus Garu di Jakarta, Minggu (30/7).

Ia mengomentari pernyataan SBY dan Prabowo usai pertemuan keduanya pada Kamis (27/7) lalu. Saat itu, Prabowo didampingi SBY mengatakan ‎ tidak ikut bertanggung jawab atas UU Pemilu karena tidak mau ditertawakan sejarah. Mereka juga mengingatkan Presiden Jokowi agar tidak menyalahgunakan kekuasaan.‎

“Kekuasaan silakan mau berkuasa 5, 10, 50 tahun, tapi diujungnya sejarah menilai. Presidential Threshold 20 persen lelucon politik yang menipu rakyat, saya tidak mau terlibat,” kata P‎rabowo.

Andre merasa aneh dengan pernyatan Prabowo tersebut. Apalagi diikuti SBY yang sudah berkuasa selama 10 tahun untuk bangsa ini.‎

Pernyataan seperti itu dianggap tidak patut karena kedua pimpinan partai politik sudah mengikuti proses pembahasan RUU Pemilu sejak awal. Namun pada tahap akhir, pada saat pengambilan keputusan, parpol yang dipimpin keduanya memilih walk out atau meninggalkan sidang. Langkah itu dilakukan karena sudah mengetahui mereka akal kalah voting.‎

“Kalau hitungan politiknya menang, pasti mereka bertahan dan tidak berkoar seperti sekarang. Itu kan tipe pecundang, tidak dewasa‎. Karena kalah, mereka lalu teriak membodohi rakyat. Kalau gentle, kenapa tidak mundur dari awal? Toh perjuangan mereka juga belum berakhir karena masih bisa lakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Mengapa cengeng sekali?” ujar senator Andre yang juga anggota Komite IV DPD RI ini.

Dia sangat heran karena pada Pemilu 2019 dan 2014 lalu, mereka sudah melaksanakan aturan tersebut. Keduanya tidak melakukan protes dan tidak ada pernyataan menipu rakyat. Sekarang setelah kalah baru bersuara, seolah-olah mereka yang paling benar.

Di sisi lain, dia mengingatkan SBY dan Prabowo bahwa sebelum Jokowi dilantik menjadi presiden, ‎mereka membentuk Koalisi Merah Putih (KMP). Dengan berbekal suara mayoritas di parlemen, KMP seenaknya mengubah UU MD3 sehingga seluruh parpol pendukung Jokowi tidak mendapatkan kursi pimpinan di DPR. Bahkan PDIP sebagai pemenang pemilu pun tidak diberikan haknya menjadi Ketua DPR, tetapi malah diambil KMP. Saat itu, baik SBY dan Prabowo menikmati pembagian kekuasaan. Mereka tidak sadar bahwa cara-cara yang mereka lakukan tidak logis, tidak peduli etika politik, melanggar aturan dan kepatutan serta mengunakan cara licik meraih jabatan. Sekarang, setelah kepentingan keduanya tidak tercapai yaitu tidak bisa langsung lolos menjadi calon presiden, keduanya membodohi rakyat dengan mengatakan praktik yang dilakukan sebagai lelucon dan penyalahgunaan kekuasaan.‎

‎”Ini kan tipu-tipu rakyat namanya. Giliran Kalau kepentingannya tercapai, mereka diam dan pesta. Giliran kalah, lalu mengolok yang lain dan menuduh menyalahgunakan kekuasaan. Masa dua mantan jenderal berpikiran picik seperti itu. Dua mantan jenderal kok cengeng sekali ya. Harus ksatria dong, akui saja kalau sudah kalah,” tegasnya.‎

Andre yang saat ini menjadi Ketua DPP Partai Hanura bidang Keanggotaan mengkritik keras kepada SBY yang merasa berhasil memimpin bangsa ini‎ selama 10 tahun. Dia melihat SBY tidak banyak membuat apa-apa selama 10 tahun. Kepemimpinan lebih banyak menampilkan citra dan kamuflase.

“SBY pimpin negara ini selama 10 tahun tapi tidak berani bubarkan Petral yang menjadi sarang mafia itu. Pembangunan infrastruktur pun tidak terlihat. Bahkan menyuburkan paham radikalisme karena tidak tegas. Apa yang dibanggakan dari pemipin seperti itu,” tukas Andre.

Untuk Prabowo, dia tegaskan catatan buruk masa lalu bagi Ketua Gerindra itu masih ada dalam ingatan masyarakat. Karakter Prabowo yang tempramen, suka gaya militeristik dan otoriter masih diingat masyarakat.

“Dugaan keterlibatan penculikan aktivis masih diingat masyarakat. Jangan merasa sudah benar,” beber Andre.

Menurutnya,‎ pertemuan kedua tokoh tersebut tidak mengubah peta di parlemen. Pasalnya, selama ini, Demokrat dan Gerindra memang selalu berbeda pandangan dengan partai pendukung pemerintah. ‎Namun dia berharap kedua pimpin politik itu juga memikirkan kemajuan bangsa ini, bukan hanya mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok.

“Kami yakin kedua tokoh politik itu akan mengedepankan kepentingan bangsa daripada kepentingan politik jangka pendek. Jadi kami tetap menyambut baik pertemuan keduanya untuk kemajuan bangsa,” tutup Andre. (OBI/KbN)

<

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password