breaking news New

Cerpen: ‘SEMUA ADALAH DOA’

Ilustrasi: Teguh Affandy
Bagikan

DARI sekian kata-kata yang aku ucapkan serta keinginan-keinganan, maka aku mulai berhati-hati dalam berbicara. Aku tidak mau lagi itu keluar begitu saja dan menjadi sesuatu yang ‘ada’. Aku ingin dia hanya menjadi kata-kata saja atau menjadi bagian dari hidupku, bukan terpisah dan menjalani hidupnya seperti begitu.

Apakah aku salah bila memetik sesuatu yang pernah aku ciptakan (aku rasa memang aku yang menciptakan) atau menagih dia untuk hidup bersama aku. Memang sedih bila rasanya aku menceritakan tentang kesuksesan ciptaanku sendiri. Ciptaan yang entah tiba-tiba nun jauh di sana hidup dan menjadi lebih dari pada aku.

Ah, ironi memang aku melihat ciptaanku di poster-poster jalanan, di tv-tv rumah serta menjadi model keramik yang tanpa sengaja nenekku mengoleksinya dengan berbagai warna dan gaya. Untung saja aku tidak tinggal di rumah nenekku. Anehnya ciptaanku juga mempunyai rumah yang pernah aku impi-impikan dan aku ceritakan tentang rumah itu pada temanku. Ciptaanku mempunyai rumah dengan dua lantai, luas tanahnya 1200 meter persegi, setiap kamar dan ruangan diisi dengan barang-barang antik. Serta di ruang tamunya terdapat lukisan perang saudara spanyol karya Pablo piccaso, dan di halaman rumahnya terdapat kolam ikan yang diisi oleh ikan-ikan hias, di atas kolam ada jembatan untuk semut menyebrang dari teras rumahnya ke pohon jambu yang rindang, di pohon jambu yang rindang didirikan pula rumah pohon. Lalu di bagasi terdapat 2 mobil antik, 2 sepeda motor antik dan 1 sepeda antik pula. Aku hanya bisa menyaksikan kemewahaan ciptaanku di balik layar tv. Dan akibat terlalu hanyut menyaksikan kemewahaannya aku terlambat untuk mengantarkan bosku. Habis pula aku dimarahi.

Saat di depan setir dan di sekitar kemacetan. Aku berpikir, mengapa ciptaanku itu tidak mencari penciptanya, sedangkan aku saja masih mencari siapa penciptaku. Bukankah dia dengan lukisan di ruang tamu itu sama. Sama-sama mempunyai pencipta, tapi sialnya dia hidup sedangkan lukisan itu tidak. Kenapa bisa begitu. Ah aku tidak mau peduli tentang hidup atau tidak hidupnya suatu ciptaan. Yang aku inginkan sesuatu ciptaan harus menghamba pada penciptanya.

Seharusnya dia, harta dan istrinya menjadi kekuasaanku, karena aku yang berhak atas semua kepunyaanya. Sialannya ciptaanku saja tidak tahu siapa peciptanya dan mungkin dia tidak tahu pula bahwa tanpa sengaja telah aku hadirkan ke dunia ini melalu kata-kata dan keinginan-keinginan. Dan dari bagian itu dia ada.

Istrinya adalah hasil dari dua ciptaan yang digabungkan. Begini maksudku. Suatu sore aku pernah berbicara dengan temanku bahwa janda beranak dua yang baru pindah dan kontrakannya tepat di depan kontrakanku itu adalah wanita yang hampir sempurna. Karena matanya yang terlalu kecil, tertawanya seperti raksasa, perutnya yang sudah melorot dan satu lagi dia sudah pasti tidak perawan lagi, dan membuat aku berkata hampir sempurna, tanpa sadar dan lagi-lagi keinginanku muncul dan aku menambahkan kata “kalau saja semua itu tidak ada”.

Dan saat aku melihat ciptaanku bersama istrinya di layar tv. Seketika aku tersontak. Sedikit gembira tapi banyak irinya. Aku melihat sosok wanita yang sempurna. Aku melihat pula dua ciptaan yang telah digabungkan. Satu dengan perhitungan dan yang satu lagi dengan keinginan. Oh, ciptaanku kini engkau sudah hampir lengkap saja, dan aku penciptamu iri terhadapmu.

Pagi-pagi buta aku sudah mulia berangkat kerja, aku tidak mau lagi telat dan dimarahi oleh bosku, sebagai sopir pribadi aku sudah harus siap kapan pun. Bosku mau ke mana saja pasti akan kuantar. Dan akhir-akhir ini aku sudah sangat sibuk dan tidak memikirkan ciptaanku lagi. mungkin karena aku terlalu lelah dengan kemacetan kota.

Malam hari aku sudah sampai di kontrakanku, aku ambil air untuk mencuci baju kotorku. Di dalam ember yang berisi air aku berkaca. Semakin tua saja aku. Dan semakin lupa dengan pendamping hidup. Bukannya aku lupa, tapi memang sepertinya penciptaku lupa mencabut satu tulang rusukku. Maka dari itu tidak ada wanita yang melengkapi hidupku. Aku tidak marah. Sama sekali tidak. Memang mungkin itu sudah garis hidupku, mungkin pula garis keturunan leluhurku cukup sampai di diriku. Tapi di dalam lubuk hatiku aku ingin seperti laki-laki pada umumnya. Yang menjadi kepala keluarga, yang mencari nafkah untuk anak dan istri dan menjadi tempat perlindungan untuk keluarga. Singkat kata aku ingin mempunyai keluarga sendiri.

Aku selesaikan cucianku dan aku jemur. Saat aku menjemur aku melihat janda dua anak itu. dari gordengnya yang terbuka sedikit. Aku bisa melihat janda dua anak itu sendang memeluk anak-anaknya. seketika aku teringat ciptaanku dan seketika itu pula aku berpikir. Apakah janda itu merindukan sosok tubuh lelaki, atau malam ini mungkin janda itu butuh perapian untuk menghangatkan tubuhnya itu. Astaga, dari pada yang tidak-tidak langsung saja aku masuk ke dalam kontrakanku dan langsung menuju ke tempat tidur sambil membayangkan kalau aku bercumbu dengan janda anak dua itu.

Saat subuh. Ada yang mengetok-ngetok kontrakanku. Aku mengintip lewat jendela. Astagaaa, yang ada di depan pintuku adalah ciptaanku dan istrinya yang juga ciptaanku. Seketika terlintas dalam pikiranku, sedang apa mereka ada di sini. Ada perlu apa mereka kemari. Atau jangan-jangan mereka tahu bahwa aku adalah penciptanya. Aku bukakan pintu dan aku pura-pura terseyum padanya, mereka membalas terseyum. Aku tanya maksud kedatangan mereka berdua untuk apa. Mereka mengatakan kalau mereka membutuhkan nama. Dalam hati aku tertawa dan membayangkan bagaimana bodohnya presenter-presenter tv yang meliputi rumahnya waktu itu. Dan aku membayangkan betapa bodohnya neneku yang menyukai seseorang tapi tidak tahu namanya, memang cinta itu membuat bodoh, pikirku. Saat aku membanyangkan betapa bodohnya orang-orang itu. mereka semakin mendesakku untuk memberikan mereka nama. Sambil memohon dan bersujud dikakiku. Saat itu pula aku mendengar kata yang paling benar-benar aku ingin dan aku damba-dambakan selama aku hidup ini.

Kata-kata itu keluar dari mulut mereka, entah dibuat-buat atau memang murni dari mereka. Aku tidak mau ambil pusing tentang itu. tapi memang kata-kata yang keluar dari mulut mereka membuat seluruh badan bergetar, hatiku terharu, dan telingaku mengantarkan kata-kata itu kepada mataku hingga akhirnya air mataku tumpah. Dan saat aku terhanyut oleh kata-kata itu. sekali lagi mereka mengulang kata-kata itu dan menambahkan kata yang lebih indah dan lebih yang kuinginkan. Ku ajak mereka berdiri, dan saat kita berdiri berhadap-hadapan kita sama-sama menangis.

Sekali lagi, ya sekali lagi. mereka mengatakan, “Tolong beri kami nama Ayah, dan tinggalah bersama kami.”

_Ilham Syaputra

Penulis adalah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password