Beranda Ekonomi Seminar ITL Trisakti : Turbulensi Ekonomi Berdampak Terhadap Industri Penerbangan

Seminar ITL Trisakti : Turbulensi Ekonomi Berdampak Terhadap Industri Penerbangan

0

Jakarta, Kabarnusantara.net – Perkembangan harga fuel atau bahan bakar dan fluktuasi harga nilai tukar dolar terhadap rupiah menjadi faktor sangat krusial bagi industri penerbangan.

Berdasarkan pertemuan ICAO di Tehran pada tahun 2017 dijelaskan bahwa FLIGHT DIRECT OPERATING COST (DOC) berasal dari biaya gaji pilot, fuel atau bahan bakar, maintenance, dan kepemilikan pesawat dan merupakan 50% dari pengeluaran maskapai penerbangan dalam setiap Penerbangan.

Ketatnya persaingan dan ancaman nilai tukar mata uang rupiah terhadap US Dollar yang tidak menentu menjadi issue yang sangat serius pada industri penerbangan di Indonesia.

Nilai tukar US Dollar yang mencapai Rp 15.000 menjadi beban yang merugikan bagi airlines dikarenakan biaya operasional penerbangan masih diperhitungkan dengan US dollar, seperti biaya pilot, maintenance dan kepemilikan pesawat yang kesemua biayanya dipatok dengan mata uang US Dollar.

Isu klasik namun sedang hangat dibicarakan ini menjadi acuan ITL Trisakti dan MNC group untuk membuat Seminar nasional ini sebagai wadah tukar pendapat yang nantinya dapat menjadi arah kebijakan regulator maupun maskapai penerbangan untuk dapat mampu bertahan di industri penerbangan Indonesia.

Seminar ini mengangkat Tema “How Indonesian Airline Industry Survive From Currency and Fuel Price Turbulence”. Kegiatan seminar berlangsung di Auditorium Lantai 7 Kampus ITL Trisakti, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Jumat (12/10/2018).

Salah satu pembicara, Kepala Riset INACA, Wismono Nitidihardjo menjelaskan bahwa turbulensi kkonomi sangat perpengaruh terhadap Industri Penerbangan.

Ia mengungkapkan harga minyak dunia saat ini naik 39,9 % dan nilai dollar menjadi 15.253.

Mengacu pada peraturan  menteri perhubungan, jika situasi ini berjalan selama tiga bulan maka industri penerbangan dapat meninjau kembali tarif penerbangan.

Menurutnya, menghadapi situasi ekonomi  ini, maka tidak mungkin bagi industri penerbangan melakukan ekspansi.

“Masa ini hanya untuk bertahan tidak bisa lagi ekspansi. Salah satu langkah strategis adalah arus kas dijaga. Selain itu, dunia usaha harus inovatif dan kreatif menyikapi turbulensi saat ini,” tegas dia.

Sementara itu, narasumber dari IATA, memaparkan bahwa dampak dari turbulensi ekonomi global adalah naiknya harga fuel. Karena itu ia  meminta pemerintah untuk ikut campur dalam menurunkan harga bahan bakar.

“Pemerintah harus ikut campur tangan dalam menurunkan harga fuel. Karena yang rugi adalah industri penerbangan dan penumpang pasti akan dibebani biaya tiket yang mahal,” kata dia.

Hadir juga dalam acara ini Direktur Komersial Sriwijaya Air; Toto Nurcahyo, Vice President Revenue Citilink; Agus Irianto, Soerjanto Tjahjanto dari KNKT dan Dosen ITL Trisakti, Charles AN.

Seminar ini dihadiri lebih dari 400 orang yang terdiri dari pembicara dan dan peserta dari mahasiswa, dosen, praktisi industri penerbangan, media. (CBN)