Beranda Pendidikan Sri Sultan Hamengkubuwono X Hadiri Seminar Motivasi di UIN Sunan Kalijaga

Sri Sultan Hamengkubuwono X Hadiri Seminar Motivasi di UIN Sunan Kalijaga

0

Yogyakarta, Kabarnusantara.net – Minggu, 15 April 2018 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan acara Seminar Motivasi yang diprakarsai oleh Gerakan Kami Indonesia. Seminar yang bertema Spirit of Indonesia: Bangkitlah Pemuda ini merupakan bentuk dari roadshow yang diperkirakan akan mengunjungi 150 kampus dari 37 kota di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, beberapa tokoh penting turut hadir dan menjadi narasumber acara, antara lain Wakil Ketua MPR RI, Dr. Mahyuddin selaku keynote speaker, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang memberikan pidato kebangsaan, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, MA., P.hd. yang memberikan pidato selamat datang, serta beberapa tokoh penting lainnya, seperti Anggota Komisi III DPR RI bidang hukum, HAM, dan Keamanan Fasisal Akbar, Ketua KPPU Syarkawi Rauf, Ketua BNN Pusat Komjen Polisi Heru Winarko, Ketua KPK periode 2011-2015 Abraham Samad, pendiri grup lawak Bagito Dedi “Miing” Gumelar, dan CEO Kami Indonesia Muh. Asri Anas.

Acara ini dimulai dari pukul 08.00-13.00 bertempat di gedung Convention Hall dengan peserta kurang lebih mencapai 700 pemuda-pemudi, baik dari kalangan mahasiswa sarjana maupun pascasarjana yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Asri Anas, salah seorang penggagas Gerakan Kami Indonesia, gerakan ini muncul karena kegusaran yang mereka rasakan terhadap proses berkembangnya pemuda milenial saat ini.“

Harapannya setelah diselenggarakan kegiatan ini, anak-anak muda dapat termotivasi dan lebih mencintai negaranya, serta optimis bahwa negara ini masih akan ada pada 2030, seratus tahun bahkan seribu tahun lagi. Kita tidak ingin pemuda Indonesia menjadi anak muda yang cengeng, pemalas dan tidak punya motivasi dalam dirinya,” ungkapnya.

Sri Sultan Hamengkubuwono mengatakan bahwa, “Dalam pembukaan seminar kali ini saya mencoba untuk melihat tantangan dan perkembangan yang ada. Sekaligus sebagai materi kita berdiskusi. Saya selalu berbicara pada aspek kebangsaan. Saya selalu memulai diskusi kebangsaan ini dari para cendekiawan kita, tahun 1908 yang menyelenggarakan kongres Boedi Oetomo pertama kali dilakukan di Yogyakarta. Sekarang di SMP 11 di Jetis. Dan juga disambung oleh Sumpah pemuda tahun 1928. Punya kesadaran untuk membangun Indonesia. Dengan kebhinekaan kita, saya anggapan sudah final. 1945 dari berbeda-beda itu menjadi satu. Kita sadar, bahwa Indonesia merupakan lahir dari suku-suku yang berbeda-beda. Etnik apapun di negeri ini punya hak yang sama untuk berkontribusi untuk negeri ini. Mahasiswa ini yang dari luar jogja karena sekolah di Jogja bisa berbahasa Jawa karena sekolah di Jogja tapi jangan jadi orang Jawa. Kembali ke daerah karena juga diakui oleh bangsa Indonesia. Tidak perlu jadi orang jawa. Kelahiran anda berbeda dengan saya, tetapi kesadaran memperkuat nilai-nilai kebangsaan memiliki kesamaan,” kata Sri Sultan.

Menurut dia,dulu tumbuhnya heroisme suku untuk melawan penjajahan, kalau hari ini heroisme itu untuk memperkuat ilmu pengetahuan dan teknologi agar bangsa ini tetap bisa bersaing.

“Tulisan dari Koenichi maupun Ukuyama bahwa nasionalisme akan habis karena yang terakhir ialah kapitalistik dan demokrasi liberal, itu akan mengakhiri kesadaran nasionalisme. Tapi fakta yang terjadi di Amerika pun tetap setiap hari meletakan tangannya di dada untuk melawan kapitalis. Di Jepang justru memulai, jepang mengubah strategi dengan penguatan kebudayaan. Globalisasi ditangkap oleh Jepang untuk menguasai teknologi dengan basis budaya. Untuk bersaing dengan dunia global dan itu diikuti oleh negara-negara di Asia,” jelasnya.

“Negara ini menyikapi dengan nilai-nilai kebangsaan dan mereka bisa survive. Budaya itu peradaban yang perlu dibangun dan menjadi hal yang penting. Hari ini heroisme dilahirkan untuk mennguasai teknologi dan Ilmu Pengetahuan. Peristiwa reformasi yang terjadi, civil soceity itu terbentuk”. (Yusron/laila)