Beranda Pendidikan Syafrudin Atasoge : Sila Pancasila Bukan Hanya Dihafal Tapi Dihayati

Syafrudin Atasoge : Sila Pancasila Bukan Hanya Dihafal Tapi Dihayati

0

Kabarnusantara.net – Anggota DPD RI asal Provinsi NTT Syafrudin Atasoge, MPd melaksanakan Sosialisasi 4 Pilar bersama siswa dan tenaga pengajar Madrasah Aliyah (MA) Al-Bari’ah Crowerian, Waikewak, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Kamis (6/9/2018).

Dalam kesempatan itu Syafrudin Atasoge menyampaikan anak-anak harus diajak untuk mencintai Pancasila.

“Ini jelas bukan soal menghapalkan kelima sila Pancasila, dan membacakannya secara lantang. Mencintai Pancasila berarti mengajak mereka menghayati kelima sila tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan. Menjaga Pancasila berarti mempraktikan sila-sila tersebut dalam laku keseharian,” tegas dia.

Syaf, sapaan Syafrudin, juga mengatakan bahwa pada tingkatan sekolah yang paling penting bukan pada penguasaan sejarah lahirnya Pancasila, tapi harus lebih memprioritaskan pada praktik-praktik nilai-nilai Pancasila.

“Bukan pada hapalan yang bersifat kognitif, melainkan lebih pada praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka mempraktikan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan dalam interaksi keseharian mereka di sekolah, keluarga, maupun masyarakat itulah yang utama,” ujarnya.

Ia menambahkan, anak harus sudah diajak untuk menyelami secara kritis mengenai sejarah lahirnya Pancasila.

“Mereka sudah diajak untuk menganalisis, mengapa misalnya, dasar negara yang dipilih oleh para pendiri bangsa adalah Pancasila? Pada Pelajaran PPKN, anak-anak didik harus diajak untuk membaca teks-teks yang berkaitan dengan Pancasila, kewarganegaraan, dan kebangsaan dengan cara yang lebih kritis”.

Peserta didik, lanjutnya, harus diberi ruang besar untuk menafsirkan Pancasila dengan bahasa yang lebih mereka pahami.

“Pancasila dalam bahasa dan laku yang lebih gaul, konteks yang lebih kekinian. Elaborasi dalam hal-hal tersebutlah yang perlu terus digali. Selain itu, tugas-tugas yang diberikan juga harus mendekatkan mereka dengan realitas Indonesia yang beragam. Berikan tugas agar para siswa dapat bergaul dan berdiskusi dengan individu maupun kelompok yang berbeda latar belakang baik dari segi suku, agama, bahasa, dan kelas sosial dengan mereka. Tugas yang membuat mereka bersinggungan dan berjumpa dengan ragam kelompok,” imbuhnya.

Pada akhirnya Syaf menyampaikan, penguatan Pancasila dalam pemahaman maupun praktik di dunia pendidikan menjadi amat penting.

“Harapannya, keTuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain, menghargai kemanusiaan, mengedepankan persatuan, senang bermusyawarah dan berdialog, juga berusaha mewujudkan keadilan sosial akan dapat diimplementasikan tak sebatas dalam kata, namun juga dalam perbuatan,” tuturnya. (CBN)