JEMBER,KabarNusantara.Net – Bagi Mohammad Wahid, S.Pd.I, M.Pd, pagi peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan sekadar agenda tahunan. Di balik susunan acara dan barisan siswa yang rapi di halaman MIS Miftahul Ulum Purwoasri, ada kegelisahan sekaligus harapan yang ia rawat setiap hari sebagai kepala sekolah.
Sejak pagi buta, ia sudah berada di madrasah. Memastikan semuanya berjalan baik—dari kesiapan siswa, kostum budaya yang dikenakan, hingga susunan acara yang telah dipersiapkan bersama para guru. Namun lebih dari itu, yang ia jaga adalah ruh dari peringatan itu sendiri: nilai-nilai yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Baginya, madrasah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Ia adalah ruang tumbuhnya akhlak, tempat anak-anak belajar tentang sopan santun, kebersamaan, dan kedisiplinan yang kelak menjadi bekal hidup mereka.
“Yang ingin kami rawat bukan hanya kegiatan seremonialnya, tapi kebiasaannya,” tuturnya pelan, di sela-sela kegiatan.
Ia bercerita, di tengah derasnya perubahan zaman, menjaga tradisi madrasah bukan perkara mudah. Anak-anak kini tumbuh di era digital, dengan pengaruh yang begitu cepat datang dari luar. Namun justru di situlah ia merasa perannya semakin penting—menjadi penjaga nilai, sekaligus jembatan antara tradisi dan masa depan.
Salat berjamaah, budaya bersalaman, hingga menghormati guru bukan sekadar rutinitas bagi Wahid. Itu adalah fondasi yang ingin ia tanamkan kuat di hati setiap siswa. Ia percaya, dari kebiasaan sederhana itulah karakter besar terbentuk.
Kehadiran Kepala Desa Purwoasri, Syaiful Bahri—yang juga alumni madrasah—menjadi momen yang menguatkan keyakinannya. Bahwa apa yang ditanam di madrasah, suatu hari akan tumbuh dan kembali memberi manfaat bagi masyarakat.
Saat melihat para siswanya tersenyum bangga mengenakan pakaian adat, Wahid seperti melihat masa depan yang sedang disiapkan perlahan. Di mata anak-anak itu, ia tidak hanya melihat peserta didik, tetapi calon pemimpin, penggerak, dan penjaga nilai-nilai bangsa.
Peringatan Hardiknas hari itu pun berakhir seperti biasa. Namun bagi Wahid, perjuangan belum selesai. Esok hari, ia akan kembali ke halaman yang sama—melanjutkan tugas sunyi yang mungkin tak selalu terlihat, tetapi akan selalu berarti: menjaga nyala tradisi madrasah agar tetap hidup di tengah zaman. (Gfr?

