JEMBER,KabarNusantara.Net – Pagi peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di MIS Miftahul Ulum Purwoasri terasa berbeda bagi Khayla Almira Maritza siswi kelas 6 lembaga tersebut. Dengan balutan pakaian adat yang dikenakannya sejak rumah, ia berdiri di antara teman-temannya—sedikit gugup, tapi juga bangga.
Sejak sehari sebelumnya, Khayla sudah menyiapkan semuanya. Ia meminta bantuan orang tuanya merapikan kostum, memastikan setiap detail terlihat rapi. Baginya, ini bukan sekadar tampil berbeda, tetapi momen yang ingin ia kenang.
“Senang sekali bisa pakai baju adat bersama teman-teman. Rasanya seperti ikut menjaga budaya,” ucapnya dengan senyum malu-malu.
Di halaman madrasah, Khayla mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian. Saat para guru berbicara tentang pentingnya merawat budaya madrasah—tentang salat berjamaah, sopan santun, dan kebiasaan bersalaman—ia mencoba memahami makna di baliknya.
Namun, momen yang paling membekas baginya adalah ketika Kepala Desa Purwoasri, Syaiful Bahri, yang juga alumni madrasah, berbagi cerita. Dari kisah sederhana itu, Khayla seperti melihat gambaran masa depan.
“Kalau beliau bisa berhasil dari sini, saya juga ingin seperti itu. Saya ingin membanggakan orang tua dan guru,” katanya lirih, namun penuh keyakinan.
Bagi Khayla, madrasah bukan hanya tempat belajar. Di sanalah ia belajar berani berbicara, menghormati guru, dan berteman dengan siapa saja. Kebiasaan kecil yang ia jalani setiap hari perlahan membentuk mimpinya.
Di tengah riuh tawa teman-temannya, Khayla menyimpan harapan sederhana: suatu hari nanti, ia juga ingin kembali ke madrasah itu—bukan lagi sebagai siswa, tetapi sebagai seseorang yang bisa memberi inspirasi bagi adik-adiknya.
“Semoga saya bisa jadi orang sukses, tapi tetap ingat madrasah ini. Karena di sinilah saya belajar jadi diri saya,” tutupnya.
Hari itu mungkin hanya satu dari sekian banyak hari sekolah bagi Khayla. Namun diam-diam, dari halaman sederhana madrasah di Purwoasri, mimpi besar seorang anak sedang tumbuh—pelan, tapi pasti. (Gfr)

