Gus Heri Tekankan Kemandirian Pesantren sebagai Motor Ekonomi Halal Jatim

Kabar Nusantara
4 Min Read
Tangkapan layar Gus Heri dalam siaran langsung Program Ruang Publik TVRI Jawa Timur

SURABAYA.KabarNusantara.Net – Siaran langsung Program Ruang Publik TVRI Jawa Timur pada Senin, 17 November 2025, memunculkan satu pesan penting: masa depan ekonomi halal Jawa Timur berpotensi semakin kuat apabila pesantren terus memperkuat kemandirian ekonominya. Pesan ini disampaikan oleh Heri Cahyo Bagus Setiawan, atau Gus Heri, pendiri Santripreneur Academy Nusantara yang dikenal sebagai salah satu penggerak ekosistem santripreneur di Indonesia.

Dalam dialog bertema “Santri Mandiri, Ekonomi Halal Berdikari”, Gus Heri menuturkan bahwa kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari penguatan peran pesantren di tengah masyarakat. “Kemandirian pesantren menjadi fondasi yang membuat lembaga ini semakin kokoh, baik dalam pendidikan, sosial, maupun pemberdayaan,” ujarnya. Menurutnya, banyak pesantren di Jawa Timur telah menunjukkan kemajuan melalui unit-unit usaha yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Sebagai Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia dan Penasehat HIPSI Sidoarjo, Gus Heri melihat tumbuhnya berbagai usaha produktif di pesantren, mulai dari industri rumahan hingga produk halal berbasis agro sebagai bukti bahwa pesantren memiliki modal sosial dan kultural yang kuat. Ia berharap proses ini terus berkembang sehingga pesantren dapat menjadi tempat lahirnya lebih banyak santripreneur.

“Santri yang terlibat dalam kegiatan usaha sejak dini akan memiliki pengalaman berharga. Ketika kelak mereka berwirausaha, industri halal Jawa Timur akan semakin berdaya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki keunggulan struktural: komunitas internal yang solid, jaringan alumni, jamaah, serta tradisi kemandirian yang mengakar panjang.

Melalui Santripreneur Academy Nusantara, Gus Heri berupaya menghadirkan ruang belajar kewirausahaan yang dapat menjadi pelengkap bagi proses pendidikan di pesantren. Berbagai materi seperti manajemen usaha, literasi keuangan, pemasaran, digitalisasi hingga jejaring bisnis disusun sebagai opsi yang bisa dipilih pesantren sesuai kebutuhan dan karakter masing-masing.

Gus Heri juga mengapresiasi berbagai program pemberdayaan yang selama ini berjalan, termasuk OPOP Jawa Timur yang dinilainya telah membuka jalan bagi banyak pesantren untuk lebih percaya diri mengembangkan usaha. Menurutnya, keberadaan program seperti OPOP memperkuat ekosistem dan mempercepat proses kemandirian pesantren.

Pemikiran Gus Heri mendapatkan penguatan dari para panelis. Prof Abdul Mongid, Guru Besar FEB Unesa yang sekaligus Wakil Direktur Eksekutif KDEKS Jatim dan peneliti senior Riset Manajemen Indonesia, menilai bahwa banyak pesantren sudah mengambil langkah maju dalam digitalisasi, sertifikasi halal, dan pengembangan model usaha berbasis komunitas. “Santri memiliki modal moral dan sosial yang kuat. Jika ditambah keterampilan usaha, mereka bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di daerah,” ungkapnya.

Sementara itu, H Agus Salim, Dewan Pakar HIPSI Sidoarjo, melihat bahwa ekosistem pesantren secara natural sudah mengandung rantai nilai yang lengkap. “Yang perlu diperkuat adalah akses informasi, perizinan, modal, dan pendampingan. Santri itu mandiri, tapi percepatan akan lebih mudah jika ada dukungan,” ujarnya.

Host Badrus Bangkit menggarisbawahi bahwa gagasan yang disampaikan Gus Heri merupakan arah strategis bagi penguatan ekonomi umat di Jawa Timur. Dengan tumbuhnya sektor halal global, pesantren dianggap sebagai kekuatan sosial yang memiliki peluang besar untuk mengambil peran sentral. “Yang disampaikan Gus Heri ini menjadi kompas; menunjukkan arah bahwa pesantren dapat berkembang sebagai pusat kewirausahaan,” katanya.

Narasi besar yang dibawa Gus Heri menempatkan santri sebagai generasi yang tak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga tangguh secara ekonomi. Sebuah generasi yang siap berdiri di garda depan ekonomi halal sambil menjaga nilai-nilai pesantren sebagai kekuatan moral bangsa.

Dengan gagasan tersebut, Gus Heri tampil bukan hanya sebagai akademisi dan santri pengusaha, tetapi sebagai pemimpin gagasan yang melihat masa depan pesantren sebagai ruang pemberdayaan, kemandirian, dan kemajuan umat. (Ghofur)

Share This Article
Leave a comment