Petani Cabe Jamu di Jember Keluhkan Minimnya Pendampingan PPL, BRAVO Desak Dinas Terkait Beri Atensi Serius

Kabar Nusantara
3 Min Read

JEMBER.KabarNusantara.Net — Sejumlah petani cabe jamu atau yang dikenal dengan sebutan cabe puyang di Desa Purwoasri Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember mengeluhkan masih minimnya pendampingan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dalam pengembangan salah satu komoditas rempah ekspor tersebut. Keluhan itu disampaikan oleh Ibu Satriya, salah satu petani cabe jamu yang tergabung dalam organisasi BRAVO Kabupaten Jember. Rabu, (3?12/2025).

Menurutnya, hingga saat ini proses budidaya cabe jamu masih ia lakukan secara autodidak tanpa arahan teknis dari ahli atau penyuluh pertanian. Pengetahuan budidaya yang ia terapkan sebagian besar diperoleh dari pengalaman pribadi serta diskusi bersama sesama petani rempah.

“Selama ini kami masih melakukan budidaya cabe jamu secara autodidak. Informasi dan ilmu yang kami pakai hanya berdasarkan pengalaman sendiri dan saling bertukar cerita sesama petani. Belum ada pendampingan langsung dari PPL,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan saat ini tanaman cabe jamu yang ia kelola mulai menunjukkan gejala serangan penyakit kuning. Dari total sekitar 400 pohon atau tajar yang ia miliki, sekitar 30 persennya terdampak dan terancam mengurangi produktivitas panen.

“Kondisi ini membuat kami khawatir karena tanaman sudah masuk masa produktif. Penyakit kuning ini kalau tidak segera ditangani bisa menyebabkan gagal panen,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan oleh Wakil Ketua BRAVO Bidang Pertanian Kabupaten Jember, Abdul Ghofur. Ia menilai perhatian dari pihak PPL terhadap komoditas cabe jamu memang masih sangat kurang, padahal komoditas ini memiliki potensi besar sebagai salah satu produk rempah unggulan ekspor.

“Memang selama ini dari pihak PPL belum banyak memberikan perhatian dalam hal pendampingan budidaya cabe jamu. Padahal ini termasuk komoditas yang menjanjikan secara ekonomi dan memiliki nilai ekspor,” ujar Ghofur.

Sementara itu, Ketua BRAVO Kabupaten Jember, Madek, menegaskan perlunya pemerintah daerah melalui dinas terkait memberikan pendampingan maksimal kepada para petani cabe jamu. Menurutnya, komoditas ini tak kalah penting dibanding komoditas pertanian lainnya yang selama ini mendapat perhatian lebih.

“Kami berharap Dinas Pertanian memberikan atensi yang sama besar kepada petani cabe jamu. Ini komoditas rempah ekspor yang prospeknya cerah. Kami dapat informasi harga cabe jamu kering di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp105.000 hingga Rp110.000 per kilogram. Artinya, jika pengelolaannya baik, hasilnya juga bisa sangat menjanjikan bagi petani,” tegasnya.

Madek menambahkan, pendampingan teknis dari PPL maupun pelatihan pengendalian hama dan penyakit sangat dibutuhkan agar petani mampu mempertahankan kualitas serta stabilitas produksi. Ia menyebut langkah tersebut sangat penting mengingat permintaan pasar rempah ekspor terus meningkat dari tahun ke tahun.

BRAVO Jember berharap pemerintah daerah dapat segera merespons keluhan para petani dengan menghadirkan program pendampingan, mulai dari tata cara budidaya yang tepat, identifikasi penyakit, hingga penanganan paska panen agar kualitas produk cabe jamu tetap terjaga.

Dengan potensi harga yang stabil dan cenderung tinggi, komoditas cabe jamu dinilai dapat menjadi salah satu komoditas unggulan baru bagi petani di Kabupaten Jember jika dikelola dengan benar dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah. (Ghofur)

Share This Article
Leave a comment