UNESA Dorong Inovasi Produk Herbal, Ibu-Ibu PKK Ganggang Panjang Antusias Kembangkan Eco-Antimosco

Kabar Nusantara
3 Min Read

SIDOARJO.KabarNusantara.Net — Upaya memperkuat kapasitas ekonomi keluarga di Desa Ganggang Panjang, Kecamatan Tanggulangin, mendapatkan dorongan baru melalui pelatihan produksi Eco-Antimosco, pengusir nyamuk berbahan dasar tanaman herbal. Pelatihan yang berlangsung pada Sabtu (1/11) ini diikuti oleh 15 anggota PKK RW 1 dan menjadi salah satu rangkaian program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Kegiatan dipandu oleh tim dosen UNESA yang dipimpin Dr. Sugiantoro, M.Pd., pakar Sosiologi dan Kearifan Lokal. Ia didampingi oleh Aulia Bayu Yushila, S.TP., M.T., yang menguasai Teknologi Industri Pertanian, dan Heri Cahyo Bagus Setiawan, S.Pd.I., M.SM., yang fokus pada kewirausahaan. Dua mahasiswa pendamping, Muhammad Mu’ammar Khoiruddin dan Delima Febriyanti, turut berperan dalam fasilitasi teknis kegiatan.

Sebagai pemantik materi, hadir Diwyacitta Antya Putri, S.TP., M.Sc., M.P., dosen Fakultas Ketahanan Pangan UNESA yang memberikan paparan tentang potensi tanaman toga seperti daun pepaya, serai, dan daun salam sebagai bahan aktif alami. Ia menekankan bahwa pemanfaatan toga bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi juga memiliki validasi ilmiah dalam ilmu pangan modern.

Dalam pembukaannya, Dr. Sugiantoro menilai bahwa pengembangan Eco-Antimosco memiliki peluang besar untuk memberdayakan perempuan desa.

“Produk berbahan herbal menawarkan keunggulan kesehatan, keberlanjutan, dan peluang ekonomi. Perempuan desa memiliki posisi strategis untuk mendorong inovasi berbasis kearifan lokal,” jelasnya.

Pelatihan berlangsung dengan kombinasi teori dan praktik. Peserta diajak mengenali karakteristik bahan, teknik pengolahan, serta standar kebersihan produksi. Pada sesi selanjutnya, Heri Cahyo memperkenalkan konsep pengemasan dan pemasaran, mulai dari desain kemasan, identitas produk, hingga strategi penetrasi pasar bagi usaha mikro.

Ketua PKK RW 1, Ibu Kujannah, mengapresiasi inisiatif tersebut dan menilai pelatihan ini membuka wawasan baru bagi anggotanya.

“Selama ini bahan-bahan seperti serai dan daun salam hanya digunakan untuk masak. Ternyata bisa bernilai ekonomi jika diolah menjadi produk,” ujarnya.

Beberapa peserta bahkan langsung menyatakan minat untuk menjadikan Eco-Antimosco sebagai peluang usaha rumahan. Mereka menilai bahwa produk herbal memiliki pasar yang terus berkembang dan dapat menjadi alternatif pemasukan keluarga.

Menutup kegiatan, tim UNESA menyampaikan komitmen untuk terus mendampingi ibu-ibu PKK dalam pengembangan produk hingga siap memasuki skala produksi lebih luas. Harapannya, Eco-Antimosco dapat berkembang menjadi produk unggulan Desa Ganggang Panjang dan menjadi contoh implementasi pemberdayaan berbasis riset yang dapat diterapkan di desa-desa lain.

Program ini tidak hanya memperkuat pemahaman warga tentang pangan dan kesehatan keluarga, tetapi juga memantik tumbuhnya jiwa wirausaha dan inovasi lokal yang berkelanjutan.

 

*) Alya NainawaTsaqifah, penulis adalah mahasiswa semester 5 Pendidikan IPS Unesa dan anggota tim pelaksana pengabdian

Share This Article
Leave a comment