JEMBER.KabarNusantara.Net – Upaya warga Desa Purwoasri, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, dalam menghidupkan kembali Stasiun Kereta Api Gumuk Mas membuahkan hasil menggembirakan. Bangunan peninggalan era Hindia Belanda yang dulu seolah mati suri itu kini menjelma menjadi ruang publik yang ramai, kreatif, dan bernilai ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dibangun pada tahun 1928 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, Stasiun Gumuk Mas dulunya merupakan bagian dari jalur Lumajang–Kencong–Balung. Jalur tersebut menjadi penghubung penting bagi pengiriman hasil perkebunan di wilayah selatan Jember. Namun, seiring berjalannya waktu dan berhentinya aktivitas kereta pascakemerdekaan, bangunan ini perlahan ditinggalkan dan terbengkalai.
Kondisi stasiun yang memprihatinkan bahkan sempat berubah menjadi lokasi pembuangan kotoran ternak. Namun, semangat warga Purwoasri tak luntur. Sekelompok pemuda bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Purwoasri Gumukmas menggagas ide untuk merestorasi dan menghidupkan kembali stasiun bersejarah ini.
Ketua BUMDes Purwoasri, Tamami, menjelaskan bahwa langkah revitalisasi ini dilakukan sepenuhnya melalui semangat gotong royong. “Kami ingin menjaga sejarah, tapi sekaligus memberi manfaat bagi warga. Sekarang, stasiun yang dulu terbengkalai sudah menjadi ruang olahraga, tempat nongkrong, dan pusat kegiatan masyarakat,” ungkapnya.
Inisiator revitalisasi, M. Subur, juga menambahkan bahwa proses ini memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. “Kami mulai dari membersihkan puing, merapikan area, hingga menata ulang bangunan tanpa mengubah nilai sejarahnya. Tidak ada modal besar, hanya tekad untuk menjaga warisan desa,” ujarnya.
Perubahan wajah Stasiun Goemoek Emas tersebut turut disambut positif oleh pelaku usaha lokal. Salah satunya Nanang Dwi Saputro, pemilik Sikomo Café dan Resto di Desa Purwoasri, yang melihat peluang besar bagi perkembangan sektor ekonomi desa. “Revitalisasi stasiun ini membuka ruang usaha baru. Banyak warga mulai berjualan makanan dan produk lokal di sekitar area publik. Ini sangat bagus untuk menggerakkan ekonomi dan mengenalkan potensi Purwoasri,” tuturnya.
Nanang juga berharap agar pemerintah desa terus memberi dukungan terhadap keberlanjutan program ini. “Ruang publik seperti ini bukan hanya menarik wisatawan, tapi juga menumbuhkan kebanggaan warga. Semoga UMKM di Purwoasri bisa semakin maju seiring dengan bangkitnya Stasiun Goemoek Emas,” tambahnya.
Kini, area sekitar stasiun tak hanya menjadi tempat olahraga dan rekreasi, tetapi juga menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal. Pemerintah Desa Purwoasri berencana mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata sejarah dan ruang kreatif terbuka yang dikelola secara berkelanjutan.
Kebangkitan Stasiun Goemoek Emas membuktikan bahwa warisan masa lalu dapat menjadi sumber kehidupan baru bagi masyarakat, ketika dikelola dengan kolaborasi, inovasi, dan kepedulian terhadap sejarah.(Alpin)
