Ekonomi Pangan dan Jalan Baru Pembangunan Nasional

Kabar Nusantara
4 Min Read
Heri Cahyo Bagus Setiawan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya; Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia

JEMBER,KabarNusantara.Net – Pembangunan ekonomi Indonesia selama ini lebih banyak menitikberatkan pada sektor manufaktur dan jasa. Sektor pangan, meski menjadi kebutuhan pokok, sering hanya dipandang sebagai instrumen konsumsi. Pandangan ini harus diubah. Indonesia memiliki potensi pangan yang strategis, dan ekonomi pangan harus menjadi fondasi pembangunan nasional, sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi, sosial, dan daya saing global.

Pangan Sebagai Pilar Strategis Ekonomi

Ketahanan pangan tidak hanya soal memastikan rakyat tidak kelaparan. Sektor ini memiliki potensi besar untuk membuka lapangan kerja, mendorong hilirisasi produk, serta meningkatkan devisa melalui ekspor. Berdasarkan data BPS 2024, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 12,26% dari total PDB nasional, sementara sektor ini menyerap 26,54% tenaga kerja nasional atau sekitar 35,9 juta orang.

Meski kontribusinya terlihat kecil dibanding sektor manufaktur, menurut perspektif Resource-Based View (RBV), pertanian adalah sumber daya strategis yang unik dan sulit ditiru, sehingga bisa menjadi keunggulan kompetitif Indonesia. Abdul Ghofur, petani milenial dari Jember, menegaskan pentingnya inovasi: “Pertanian saat ini bukan lagi pekerjaan tradisional. Dengan smart farming, pupuk organik, dan pemasaran digital, hasil pertanian bisa kompetitif setara sektor industri.” Generasi milenial seperti Ghofur menunjukkan bagaimana Innovation Diffusion Theory berlaku, di mana adopsi teknologi modern mempercepat produktivitas dan memperluas pasar.

Pendidikan tinggi, khususnya fakultas ketahanan pangan, berperan strategis melalui riset inovatif dan pelatihan. Penelitian terkait irigasi presisi, pengolahan pangan, dan manajemen produksi bisa diterapkan langsung di lapangan. Kolaborasi akademisi dan petani meningkatkan efisiensi, profitabilitas, dan memperkuat pondasi ekonomi desa.

Selain itu, inisiatif pengusaha lokal, termasuk pengusaha wanita di Tutur, Pasuruan, menunjukkan pentingnya pemberdayaan masyarakat. Ia memberdayakan masyarakat untuk mengolah kopi—mulai dari tanam, panen, pasca panen, hingga hilirisasi—yang tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja lokal. Model ini mencerminkan Dynamic Capabilities, di mana stakeholder mampu membangun dan menyesuaikan kemampuan untuk menghadapi tantangan ekonomi dan pasar.

Sinergi Stakeholder Untuk Pembangunan Nasional

Sektor pangan tidak bisa maju hanya oleh petani atau wirausaha. Sinergi lintas stakeholder menjadi kunci. KH Muhammad Zakki, Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Jawa Timur (GPP Jatim), menekankan koordinasi antar perusahaan dan asosiasi untuk memperkuat rantai nilai dan hilirisasi produk. “Koordinasi yang baik memungkinkan akses pasar lebih luas dan advokasi kebijakan yang efektif,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan Value Chain Theory, di mana peningkatan nilai produk bergantung pada integrasi dan koordinasi antar aktor dalam jaringan strategis.

Generasi milenial, akademisi, asosiasi, pengusaha lokal, dan pemerintah harus bergerak selaras. Pemerintah menyediakan infrastruktur dan regulasi, asosiasi memfasilitasi jaringan dan akses pasar, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, sementara generasi muda dan pengusaha memberdayakan masyarakat serta menerapkan teknologi modern. Konsep Strategic Alignment menegaskan bahwa keselarasan strategi semua stakeholder adalah prasyarat agar sektor pangan menjadi fondasi pembangunan nasional.

Dampak ekonomi dan sosialnya signifikan: desa lebih produktif, urbanisasi dapat ditekan, dan generasi muda melihat masa depan di kampung halaman. Ketahanan pangan yang kuat juga meningkatkan daya tahan Indonesia menghadapi fluktuasi harga global dan perubahan iklim. Abdul Ghofur menambahkan, “Jika semua pihak bergerak bersama, pertanian bisa menjadi sektor strategis yang menopang pembangunan nasional secara nyata.”

Penutup

Hanya melalui kolaborasi lintas stakeholder—petani milenial, pengusaha lokal, asosiasi, akademisi, dan pemerintah—ekonomi pangan dapat menjadi jalan baru pembangunan nasional. Sektor ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi fondasi strategis: mandiri pangan, desa produktif, ekonomi kuat, dan daya saing global meningkat. Petani milenial, organisasi, dan wirausaha perempuan telah menunjukkan jalannya. Tugas kita adalah memastikan ekosistem pendukung siap menyertainya.

Share This Article
Leave a comment