SURABAYA.KabarNusantara.Net – Di tengah semarak peringatan Hari Santri Nasional 2025, seruan berbeda datang dari Founder Santripreneur Academy Nusantara Heri Cahyo Bagus Setiawan, sosok tokoh santripreneur inspiratif.
Dalam dialog live di Radio Suara Muslim Surabaya, Selasa (22/10), Gus Heri, sapaan akrabnya, mengajak para santri untuk menempuh “jihad baru”, bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan membangun usaha yang memberdayakan masyarakat.
“Jihad hari ini bukan lagi melawan penjajah, tapi melawan kemiskinan, ketidakberdayaan, dan ketidakadilan. Santri harus bersungguh-sungguh menjalankan bisnis, membentuk ekonomi mandiri, dan memberdayakan lingkungan sekitar. Itulah jihad santripreneur,” tegasnya penuh semangat.
Menurut Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia ini, era kecerdasan buatan (AI) justru membuka medan perjuangan baru bagi kalangan santri. “Kita tidak sedang ditantang oleh senjata, tapi oleh algoritma dan kecerdasan mesin. Maka jihadnya adalah beradaptasi, belajar, dan menguasai teknologi agar tidak tergilas perubahan,” ujarnya.
Dalam dialog Hari Santri yang bertema “Jihad Santripreneur di Era Kecerdasan Buatan”, Gus Heri menyampaikan bahwa pesantren memiliki potensi besar menjadi pusat inovasi dan kemandirian ekonomi umat. “Santri punya etos kerja, keikhlasan, dan integritas. Kalau itu dipadukan dengan semangat entrepreneurship dan pemanfaatan teknologi, hasilnya luar biasa,” tambahnya.
Host Abdul Kohar, yang memandu dialog interaktif tersebut, mendukung penuh pandangan Gus Heri. Ia menegaskan bahwa gagasan jihad santripreneur sangat relevan dengan kebutuhan zaman. “Benar sekali, Gus. Perjuangan santri sekarang bukan hanya di ruang doa, tapi juga di ruang usaha. Kalau santri bisa mandiri dan menggerakkan ekonomi umat, itu bentuk jihad yang nyata,” ujar Kohar yang dikenal sebagai penyiar berkarakter.
Gus Heri menambahkan, santri perlu memandang kecerdasan buatan bukan sebagai ancaman, melainkan alat perjuangan baru. “AI bisa membantu santri merancang bisnis, membaca tren pasar, memprediksi cuaca dan masa panen di sektor pertanian, bahkan mengelola produksi secara efisien. Yang penting, semangat jihadnya tetap hidup, semangat memberi manfaat,” katanya.
Pesan itu disambut hangat oleh para pendengar Radio Suara Muslim. Banyak di antara mereka yang mengirim pesan dukungan dan testimoni inspiratif.
“Santri harus berani menjadi pelaku, bukan sekadar penonton ekonomi digital. Kita harus membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren bisa menjadi kekuatan besar di tengah dunia modern,” pungkas Gus Heri. (Ghofur)
