Santri, Kiai dan Pangan: Refleksi Hari Santri 2025

Kabar Nusantara
4 Min Read
Oleh: Heri Cahyo Bagus Setiawan Disen Fakultas Ekonomika dan Bisnis FEB Universitas Negeri Surabaya; Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia

SURABAYA.KabarNusantara.Net – “Hari Santri 2025 mengingatkan kita bahwa jihad tidak hanya di medan perang, tetapi juga di sawah, kebun, dan ladang inovasi santri yang menegakkan ketahanan pangan dan kedaulatan rakyat.”

Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri. Momen ini bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi kesempatan untuk merenungkan kedalaman peran kiai dan santri dalam membangun bangsa. Kiai dan santri bukan hanya pejuang di medan kemerdekaan, tetapi teladan dalam ketekunan, kemandirian, dan kepedulian sosial—nilai-nilai yang kini relevan dalam ketahanan pangan dan kedaulatan rakyat.

Sejarah mencatat bahwa pesantren, sejak era KH. Hasyim Asy’ari hingga pendiri Pondok Modern Gontor, menjadi laboratorium sosial-ekonomi. Para kiai menanamkan nilai kemandirian, ketekunan, dan kepedulian kepada santri, yang kemudian diterapkan di masyarakat. Pada masa revolusi kemerdekaan, jihad diwujudkan tidak hanya dengan semangat perlawanan, tetapi juga melalui upaya memastikan pangan tersedia bagi rakyat dan pejuang. Prinsip ini menegaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat tidak kelaparan, tanah subur diolah bijak, dan setiap orang memiliki akses pangan cukup.

Indonesia saat ini menghadapi tantangan ketahanan pangan yang kompleks: perubahan iklim, inflasi harga pangan, ketergantungan impor, serta kekurangan gizi dan gizi ganda. Menurut World Food Programme (WFP, 2023), prevalensi kekurangan gizi menurun dari 10,2% pada 2022 menjadi sekitar 8,5% pada 2023, tetapi masih ada jutaan warga yang membutuhkan perhatian. Kondisi ini menegaskan perlunya peran aktif kiai dan santri dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pendidikan, praktik pertanian, inovasi pangan, dan pengelolaan hasil bumi.

Banyak pesantren di Indonesia menjadi laboratorium ketahanan pangan dan kedaulatan rakyat. Tebuireng di Jombang, Gontor di Ponorogo, Mukmin Mandiri di Sidoarjo, Sunan Drajat di Lamongan, Sidogiri, hingga Pesantren Alam Bumi Alquran dan pesantren wirausaha lain, melatih santri mengelola lahan pangan, mengembangkan agroindustri kecil, membuat kompos, dan mendistribusikan hasil panen untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat sekitar. Sunan Drajat bahkan menjadi role model Koperasi Merah Putih, memperlihatkan integrasi pendidikan agama dengan ekonomi kerakyatan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat desa. Di Jawa Barat, Pesantren Al Ittifaq di Ciwidey, Bandung, memperoleh julukan Tarekat Sayuriyah sebagai penghormatan atas keberhasilan luar biasa dalam pertanian sayur, memadukan spiritualitas, kemandirian, dan inovasi pertanian. Praktik serupa juga dijumpai di Jawa Tengah, Sumatera, Aceh, dan wilayah lain, menegaskan bahwa kebijaksanaan kiai dan ketekunan santri berperan nyata dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menegakkan kedaulatan rakyat.

Refleksi Hari Santri mengajarkan bahwa jihad masa kini dapat diwujudkan melalui kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Santri yang terdidik bukan hanya cerdas secara agama, tetapi juga kreatif, terampil, dan peduli pada kesejahteraan komunitas. Setiap langkah santri dalam agroindustri pesantren, pemberdayaan petani lokal, dan inovasi pangan adalah perwujudan strategi kedaulatan rakyat, yang memastikan setiap warga memiliki akses pangan cukup dan bergizi. Seperti petani menuntun bibit agar tumbuh subur, kiai menanam nilai, dan santri menuai keberkahan bagi masyarakat.

Pesantren menjadi laboratorium strategi berkelanjutan. Integrasi pendidikan agama, wirausaha, dan pengelolaan pangan adalah strategi diferensiasi yang membuat pesantren tetap relevan di tengah dinamika sosial-ekonomi. Prinsip ini selaras dengan konsep food sovereignty, yang menempatkan masyarakat sebagai pengelola utama pangan mereka sendiri.

Hari Santri 2025 adalah momen refleksi dan apresiasi: mengingat kembali kearifan kiai dan keteladanan santri, sekaligus meneguhkan komitmen membangun bangsa melalui ketahanan pangan. Jihad masa kini bukan sekadar prestasi individu, tetapi tentang mengangkat kesejahteraan komunitas, memastikan pangan cukup, dan menguatkan kedaulatan rakyat. Santri yang cerdas, inovatif, dan peduli adalah kunci menjadikan bangsa ini mandiri dan berdaulat secara pangan.

Di momen Hari Santri ini, setiap tindakan santri dapat dimaknai sebagai ladang kebaikan, setiap usaha sebagai langkah memperkuat rakyat, dan setiap inovasi sebagai kontribusi nyata bagi ketahanan pangan. Seperti benih yang ditanam dengan kesabaran dan ketekunan, gagasan santri hari ini akan menuai keberkahan bagi masyarakat luas.

Share This Article
Leave a comment