JEMBER.KabarNusantara.Net – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember terus mengintensifkan upaya pengurangan risiko bencana dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Kali ini, PMI menggelar workshop penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bersama warga Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Rabu (21/12).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program School and Community Resilience (SCR), hasil kerja sama PMI Kabupaten Jember dengan Palang Merah Jepang atau Japanese Red Cross Society (JRCS). Program ini bertujuan membangun kesiapan masyarakat pesisir yang rentan terhadap berbagai potensi bencana alam.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Jember, Aep Ganda Permana, mengingatkan peserta agar tidak menganggap enteng ancaman bencana. Ia menuturkan pengalaman pahit saat terjadinya banjir bandang di Panti pada 2006 silam, yang menurutnya menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan dan sistem evakuasi yang jelas.
“Ketika bencana datang tanpa persiapan, kepanikan yang muncul justru memperparah keadaan. Pengalaman di Panti menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan adalah kunci utama untuk menyelamatkan diri,” ungkapnya.
Workshop ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), tenaga pendidik, hingga relawan Korps Sukarela (KSR) dari Universitas Jember. Peserta dibekali materi penyusunan struktur organisasi tanggap darurat agar setiap peran dan tanggung jawab dapat dipahami secara jelas.
Selain itu, kegiatan juga diisi dengan simulasi mandiri penanganan bencana, khususnya gempa bumi, seperti teknik perlindungan diri dan koordinasi menuju titik kumpul yang aman.
Koordinator Lapangan kegiatan, Weni Catur, menegaskan bahwa pengulangan materi dasar kebencanaan sangat penting agar masyarakat tetap sigap dan tidak panik saat menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Jember, Zainollah, S.Pd., menilai Puger Kulon memiliki urgensi tinggi untuk dikembangkan menjadi Desa Tangguh Bencana karena kondisi geografisnya yang rawan.
“Harapan kami, masyarakat mampu menjadi pelaku utama dalam upaya penyelamatan, bukan hanya menunggu bantuan. Dengan SOP dan rencana aksi yang tersusun, warga diharapkan lebih siap dan mandiri,” katanya.
Melalui kegiatan ini, PMI berharap kapasitas dan ketahanan masyarakat Puger Kulon semakin kuat, sehingga dampak bencana di masa mendatang dapat ditekan seminimal mungkin. (*)
