Jihad Literasi dan Kewirausahaan Berbasis Keumatan: Jejak Intelektual Santripreneur Bernama Heri Cahyo Bagus Setiawan

Kabar Nusantara
3 Min Read
Heri Cahyo Bagus Setiawan Disen Fakultas Ekonomika dan Bisnis FEB Universitas Negeri Surabaya; Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia

MALANG.KabarNusantara.Net – Nama Heri Cahyo Bagus Setiawan kian menegaskan dirinya sebagai santri intelektual yang tidak hanya mahir dalam gagasan, tetapi juga kuat dalam aksi. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini meraih prestasi nasional sebagai juara 3 dalam Lomba Menulis Opini Hari Santri Nasional 2025 yang diselenggarakan oleh TIMES Indonesia melalui program Kopi TIMES.

Dalam opininya berjudul “Peran Kiai, Santri, dan Pesantren Entrepreneur dalam Kemerdekaan Ekonomi Umat”, Heri mengemukakan bahwa jihad santri di era modern adalah jihad ekonomi, gerakan kolektif membangun kemandirian umat dengan landasan etika dan kebermanfaatan.

“Dulu para ulama dan santri mengangkat senjata membela kemerdekaan bangsa. Hari ini, jihad itu hadir dalam bentuk membangkitkan etos ekonomi yang bermartabat lewat pesantren,” ujar Heri usai menerima penghargaan pada Senin (3/11/2025).

Pesantren sebagai Motor Ekonomi Umat

Berangkat dari tradisi pesantren yang kaya akan nilai moral dan modal sosial, Heri menilai ekosistem pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi lokomotif ekonomi rakyat. Dengan ratusan ribu santri dan jaringan alumni yang tersebar, pesantren dapat memainkan peran strategis dalam ekonomi umat, terutama jika dipadukan dengan strategi kewirausahaan adaptif dan digital.

Sebagai Founder Santripreneur Academy Nusantara sekaligus Direktur Utama PT Riset Manajemen Indonesia, Heri aktif menggagas program pendampingan UMKM pesantren, pengembangan hilirisasi produk halal, dan riset kebijakan strategis di bidang ekonomi berbasis keumatan.

Menulis sebagai Jihad Intelektual

Bagi Heri, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi jalan jihad intelektual. Melalui tulisan, ia terus belajar dan berbagi gagasan yang mencerahkan serta menggerakkan kesadaran publik.

“Menulis adalah kebutuhan. Dengan menulis, saya terus belajar. Dan dengan belajar, saya berharap untuk selalu bisa memberi manfaat,” ungkap pria yang kerap disapa Gus Heri.

Spirit literasi ini, menurutnya, selaras dengan tradisi pesantren yang menjadikan tulisan dan gagasan sebagai jalan dakwah dan pemberdayaan.

“Santri hari ini bukan hanya bisa ngaji, tapi juga harus mampu berpikir strategis, berdikari secara ekonomi, dan merambah dunia global,” tambahnya.

TIMES Indonesia dan Ruang Kolaborasi Gagasan

Heri juga memberi apresiasi kepada TIMES Indonesia sebagai penyelenggara lomba yang telah membuka ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan dalam bentuk tulisan.

“Lewat program seperti Kopi TIMES, mereka tak sekadar mengabarkan, tetapi juga menciptakan ekosistem gagasan yang memperkuat literasi bangsa,” ujarnya.

Nama Heri Cahyo Bagus Setiawan kini tak hanya tercatat sebagai pemenang lomba menulis opini, tapi juga tumbuh sebagai ikon santripreneur yang konsisten memperjuangkan jihad literasi dan kewirausahaan berbasis nilai keumatan. Jejak intelektualnya menjadi inspirasi dalam membangun bangsa yang mandiri, berdaya, dan berkeadaban di era kecerdasan buatan. (Ghofur)

Share This Article
Leave a comment