Peningkatan Irigasi RW 28 Sidorejo, Kencong: Upaya KKN Kelompok 16 UNMUH Jember Dorong Produktivitas Pertanian

Kabar Nusantara
2 Min Read

JEMBER,KabarNusantara.Net – Warga RW 28 Dusun Sidorejo, Desa Wonorejo, Kecamatan Kencong, mengeluhkan kondisi saluran irigasi yang tidak optimal dan mengancam produktivitas pertanian setempat. Wilayah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh harian ini mengandalkan komoditas utama seperti padi dan jagung yang sangat bergantung pada pasokan air.

Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, saluran irigasi di bagian hulu masih terbilang baik, dengan ukuran lebar dan mampu menampung debit air cukup besar. Namun, saat aliran memasuki wilayah hilir, khususnya di RW 28, saluran justru mengalami penyempitan dan pendangkalan. Akibatnya, debit air yang mengalir menjadi kecil dan tidak stabil, terutama di musim kemarau.

“Kondisi ini menyulitkan petani untuk menyiram tanaman secara maksimal. Dampaknya, hasil panen menurun sementara biaya operasional meningkat,” ujar Ketua RW 28, Indra, saat ditemui di lokasi pertanian, Jum’at(0

Indra menjelaskan, warga berharap pemerintah desa maupun kabupaten segera turun tangan. Langkah mendesak yang diinginkan adalah pelebaran saluran di bagian hilir serta penggalian untuk memperdalam saluran yang sudah dangkal. “Di bagian atas, aliran air besar karena salurannya lebar. Tapi saat sampai ke RW 28, salurannya makin sempit dan dangkal. Airnya jadi tidak cukup untuk semua lahan,” jelasnya.

Upaya advokasi ini turut mendapat dukungan dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kelompok 16 Universitas Muhammadiyah Jember. Mereka membantu melakukan dokumentasi lapangan dan menyiapkan bahan pengajuan resmi untuk disampaikan kepada pihak berwenang.

Keterlibatan mahasiswa ini menjadi bagian dari bentuk pengabdian langsung kepada masyarakat, dengan peran sebagai mitra warga dalam memperjuangkan kebutuhan infrastruktur vital yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

Masyarakat berharap sinergi antara warga, pemerintah dusun, mahasiswa, dan pemerintah daerah dapat mempercepat realisasi perbaikan irigasi tersebut. Jika terwujud, diharapkan produktivitas pertanian meningkat dan ketergantungan pada metode penyiraman alternatif yang lebih mahal dapat dikurangi.

Persoalan irigasi di RW 28 bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup para petani yang setiap hari menggantungkan nasib pada lahan yang mereka garap. Aspirasi ini menjadi cerminan kebutuhan mendasar yang patut mendapat perhatian serius demi terwujudnya pembangunan desa yang merata dan berkelanjutan.

Share This Article
Leave a comment