Jember.KabarNusantara.Net-Dunia pertanian hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bukan hanya karena tekanan perubahan iklim dan alih fungsi lahan, tapi juga karena makin sempitnya minat generasi muda dan lulusan perguruan tinggi pertanian untuk terjun langsung di dunia pertanian. Ironis, ketika bangsa ini mengusung swasembada dan kedaulatan pangan, justru banyak sarjana pertanian yang lebih memilih jalur karier di luar sektor pertanian.
Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa mayoritas petani di lapangan masih menerapkan metode konvensional, baik dalam pengolahan lahan, pemupukan, hingga panen. Minimnya akses terhadap teknologi dan edukasi menjadi hambatan besar untuk terjadinya transformasi sistem pertanian kita. Tak mengherankan jika regenerasi petani berjalan lambat. Dunia pertanian dianggap tidak menjanjikan, padahal pangan adalah kebutuhan dasar yang tidak pernah surut permintaannya.
Melihat situasi tersebut, Serikat Tani yang merupakan organisasi sayap dari Laskar Sholawat Nusantara, hadir sebagai bentuk ikhtiar untuk menjawab tantangan zaman. Kami berkomitmen menjadi wadah bagi petani dan generasi muda yang peduli terhadap masa depan pertanian, khususnya dalam aspek transfer knowledge sains dan teknologi.
Kami meyakini bahwa teknologi bukan hanya soal alat modern atau digitalisasi proses tanam-panen, melainkan cara berpikir dan bertindak yang berbasis data, ilmu, dan inovasi. Itulah sebabnya kami mendorong pendekatan edukasi intensif kepada petani, melalui pelatihan, pendampingan, serta demoplot atau lahan percontohan yang bisa dilihat, dipelajari, dan ditiru oleh para petani.
Kita tidak bisa berharap perubahan besar hanya melalui seminar atau wacana. Dibutuhkan aksi nyata di lapangan, pendampingan terus-menerus, serta model pertanian berbasis teknologi yang langsung menyentuh kebutuhan petani. Ketika petani melihat hasil nyata dari inovasi pertanian — baik dari sisi efisiensi biaya, peningkatan hasil panen, maupun keberlanjutan — maka disitulah semangat perubahan akan tumbuh.
Kami menyadari bahwa transformasi pertanian tidaklah sesederhana membalik telapak tangan. Tapi bukan berarti tidak bisa. Justru di tengah tantangan global, krisis pangan, dan tekanan ekonomi, peluang untuk membenahi sistem pertanian nasional menjadi semakin mendesak.
Melalui Serikat Tani, kami berharap dapat menjadi salah satu solusi konkret untuk membangkitkan kembali kejayaan pertanian Indonesia — bukan hanya sebagai sektor produksi pangan, tetapi juga sebagai poros pembangunan ekonomi umat.
Kami mengajak seluruh elemen, mulai dari akademisi, tokoh masyarakat, pesantren, hingga pemerintah, untuk bersama-sama membangun ekosistem pertanian yang lebih berdaya saing, mandiri, dan berkelanjutan.
Saatnya petani naik kelas. Saatnya pertanian Indonesia berdiri tegak, bukan sebagai beban pembangunan, tetapi sebagai kekuatan utama negeri ini.
