Rohalus Mewabah di Mal, Direktur RMI Sebut Perilaku Konsumen Urban Bergeser

Kabar Nusantara
3 Min Read
Heri Cahyo Bagus Setiawan Direktur Riset Manajemen Indonesia (RMI)

Surabaya.KabarNusantara.Net–Mal tetap ramai, tapi bukan berarti transaksi berjalan tinggi. Belakangan ini, pengunjung pusat perbelanjaan lebih banyak datang hanya untuk melihat-lihat, mengelus barang, bertanya-tanya, hingga sekadar berswafoto. Fenomena yang oleh sebagian masyarakat dijuluki sebagai Rohalus—rombongan hanya elus-elus—ini ternyata tidak terjadi di satu dua kota saja.

Direktur Riset Manajemen Indonesia (RMI), Heri Cahyo Bagus Setiawan, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari pergeseran perilaku konsumen urban yang semakin nyata. “Masyarakat datang ke mal bukan semata untuk berbelanja, tapi untuk mencari suasana, pengalaman, bahkan ketenangan psikologis. Ini perubahan pola yang tak bisa diabaikan,” kata Heri dalam keterangannya, Jumat (2/8).

Menurut kajian terbaru RMI, saat ini konsumen perkotaan cenderung lebih selektif dan berhati-hati dalam membelanjakan uang. Namun di sisi lain, mereka tetap menjadikan mal sebagai destinasi sosial: tempat melepas penat, mencari inspirasi visual, atau hanya untuk ‘hadir’ di ruang publik.

Fenomena Rohalus, kata Heri, juga bisa jadi merupakan bentuk dari showrooming, yakni perilaku konsumen yang melihat-lihat barang secara fisik di toko, namun kemudian melakukan pembelian secara daring setelah membandingkan harga dan ulasan di platform digital. “Showrooming ini muncul karena konsumen makin pintar dan makin digital-native. Mereka manfaatkan mal sebagai etalase, tapi transaksi dilakukan di e-commerce,” jelasnya.

Heri menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah ancaman, tapi justru peluang baru bagi para pengelola pusat perbelanjaan untuk beradaptasi dan meningkatkan nilai tambah. “Perubahan itu wajar. Perilaku konsumen memang selalu bergerak. Yang perlu kita pikirkan bukan bagaimana menghindari perubahan itu, tapi bagaimana menyikapinya secara strategis,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar pengelola mal mulai memosisikan ulang diri mereka, bukan hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga sebagai ruang sosial dan pengalaman. Desain ruang yang ramah, suasana yang nyaman, serta layanan yang bersifat partisipatif dan atraktif, dinilai dapat memperkuat daya tinggal pengunjung dan membangun loyalitas emosional.

Tak kalah penting, kata Heri, yang juga Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (HIPMIKINDO) Jawa Timur adalah membuka ruang bagi konten lokal dan pelaku UMKM yang mampu menghadirkan nuansa baru, lebih dekat dengan keseharian pengunjung. “Kalau mal bisa jadi tempat ngopi yang nyaman, ruang literasi, tempat ibadah, bahkan panggung kreatif anak muda, itu akan membangun keterikatan yang lebih kuat daripada sekadar potongan harga,” jelasnya.

Ia menambahkan, mal tidak lagi hanya bersaing soal harga dan produk, tapi juga soal pengalaman dan kesan. “Mungkin hari ini mereka tidak belanja, tapi kalau kesannya kuat, mereka akan kembali. Dan yang kembali, itulah calon konsumen loyal,” katanya.

Sebagai penutup, Heri mengajak para pengelola mal untuk melihat perubahan ini sebagai siklus alami dalam dunia bisnis. “Perubahan selalu datang. Yang membedakan adalah siapa yang mampu membaca, beradaptasi, dan memimpin di tengah perubahan itu.”

RMI saat ini tengah menyusun laporan kebijakan (policy brief) berbasis kajian tersebut, yang akan dipublikasikan dalam waktu dekat untuk membantu pemangku kepentingan menavigasi arah baru industri pusat perbelanjaan di era konsumsi sosial. (Ghofur)

Share This Article
Leave a comment